Healing: Solusi atau Tren?

Beberapa tahun terakhir, istilah healing sedang populer, terutama di kalangan anak muda. Media sosial dipenuhi unggahan bertuliskan “lagi healing nihh” disertai foto liburan atau waktu santai di kafe. Aktivitas ini seolah menjadi cara untuk mengatasi stres dan penat. Namun, apakah healing benar-benar menyembuhkan, atau hanya tren saja?

Secara makna, healing berarti proses pemulihan, baik fisik maupun mental. Tapi kini, maknanya meluas menjadi kegiatan menyenangkan untuk menenangkan diri, mulai dari berlibur, jalan-jalan, dan lain sebagainya. Fenomena ini muncul karena banyak orang merasa lelah menghadapi tekanan hidup, apalagi setelah masa pandemi Covid 19. Media sosial ikut memperkuat tren ini, membuat healing tampak seperti salah satu kebutuhan hidup.

Sisi positif dari Healing yakni bisa menjadi solusi nyata bagi kesehatan mental. Meluangkan waktu untuk diri sendiri, menjauh sejenak dari rutinitas sehari-hari, atau menikmati keindahan alam dapat membantu seseorang merasa lebih tenang. Esensi dari healing sendiri bukanlah pada tempat atau aktivitas yang dilakukan, melainkan pada proses memahami dan menerima diri apa adanya. Ketika dilakukan dengan tepat, Healing bisa menjadi langkah awal menuju hidup yang lebih baik.

Namun, tidak sedikit juga yang menjadikan healing sekadar pelarian dari masalah. Banyak juga yang melakukannya hanya untuk konten media sosial. Healing pun kehilangan makna dan berubah menjadi tren konsumtif semata, semakin jauh perjalanan atau mahal tempatnya dianggap semakin bagus. Padahal esensi dari Healing justru sederhana yaitu menenangkan pikiran dan berdamai dengan diri sendiri.

Fenomena ini menunjukkan dua sisi. Di satu sisi, healing menandakan meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental. Di sisi lain ia juga menggambarkan bagaimana masyarakat modern cenderung mengikuti tren, bukan mencari esensi sejati dari Healing. Padahal Healing tidak selalu butuh biaya besar atau tempat indah, cukup dengan jujur terhadap diri sendiri dan keberanian menghadapi kenyataan.

Pada akhirnya, Healing bisa menjadi solusi nyata bila dilakukan dengan niat untuk memulihkan diri, bukan sekadar ikut-ikutan tren. Proses penyembuhan tidak diukur dari seberapa jauh seseorang bepergian, namun dari seberapa dalam ia dapat memahami dan memaafkan dirinya sendiri. Karena terkadang tempat paling menenangkan bukan di puncak gunung atau ditepi pantai, melainkan di hati yang sudah siap untuk berdamai.(*)

Oleh Misbach Noor Azizy