Kerja dari Rumah di Era Digital

Sejak pandemi COVID-19 melanda dunia pada tahun 2020, gaya hidup manusia telah berubah drastis. Salah satu perubahan terbesar yang terjadi di dunia kerja, yaitu munculnya sistem Work From Home (WFH) atau bekerja dari rumah. Benarkah orang dapat bekerja dari rumah mereka? Sekarang,banyak orang bisa bekerja tanpa harus pergi ke kantor. Hal ini menunjukkan bahwa cara kerja manusia sudah berbeda dari sebelumnya, karena teknologi membantu semua orang tetap produktif walau tidak bisa bertemu langsung.Banyak orang merasakan dampaknya, mulai dari karyawan perusahaan besar, pekerja lepas, pelaku usaha kecil berbasis digital, hingga guru dan siswa yang harus menyesuaikan diri dengan belajar secara daring. Cara kerja ini membuat pekerjaan menjadi lebih fleksibel

Menurut Rani Pratiwi, seorang staf administrasi di sebuah perusahaan teknologi di Jakarta, anggota WFH memiliki lebih banyak waktu luang. “Saya dapat bekerja sambil membimbing orang lain.” “Ada keseimbangan yang lebih baik antara pekerjaan dan kehidupan pribadi,” katanya. Namun, Bima Prakoso, seorang desainer grafis, merasakan sisi lain dari sistem tersebut. Saya sering mengalami kesulitan karena tidak ada batasan waktu yang jelas. “Kadang saya harus bekerja sampai malam karena pelanggan masih aktif di luar jam kantor,”ujarnya. Kedua kisah ini menunjukkan bahwa WFH memberikan dampak yang unik bagi setiap individu. Ada yang merasa teerbantu karena waktunya lebih fleksibel, tetapi ada juga yang merasa tertekan karena batas antara waktu kerja dan waktu pribadi jadi tidak jelas.

Fenomena WFH tidak hanya terjadi pada kota besar seperti Jakarta, Bandung, atau Surabaya,tetapi juga berkembang pesat di berbagai daerah. Banyak karyawan lebih suka bekerja di lokasi yang lebih ramah, seperti Yogyakarta atau Bali, sementara yang lain bekerja secara online untuk perusahaan, bahkan yang berasal dari luar negeri.Bali kini dikenal sebagai salah satu pusat komunitas digital nomad terbesar di dunia, tempat para pekerja dari berbagai negara bisa bekerja sambil menikmati keindahan dan suasana damai Indonesia. Lalu, mengapa sistem kerja ini menjadi begitu populer? Jawaban sederhananya: karena fleksibel dan efisiensi. Perusahaan bisa mengurangi biaya operasional, sementara karyawan menikmati kualitas hidup yang lebih baik. Menurut survei Katadata Insight Center 2024, lebih dari 60% bisnis Indonesia masih menggunakan sistem kerja jarak jauh.

Meskipun WFH dinilai efisien, WFH juga memiliki banyak tantangan. Sekitar 47% karyawan melaporkan merasa lelah karena batas antara waktu kerja dan waktu istirahat menjadi tidak seimbang. WFH didasarkan pada perangkat digital seperti Zoom, Google Meet, Slack, dan Trello yang berfungsi sebagai sarana koordinasi dan komunikasi. Rapat dapat dilakukan dengan mengamati bagaimana orang bekerja sama dan mendokumentasikan pekerjaan mereka secara langsung. Namun, teknologi juga menghadirkan masalah baru, seperti gangguan sinyal, jadwal rapat tak terbatas, dan bahkan rasa mual akibat kelelahan layar. Selain itu, lingkungan rumah seringkali tidak kondusif. Tidak semua orang memiliki ruang kerja pribadi atau perangkat yang memadai. Hiburan anak-anak, televisi, dan aktivitas rumah tangga dapat menggangu fokus dan menurunkan produktivitas.

WFH menciptakan interaksi antarpekerja menjadi berkurang dari perspektif sosial. Obrolan santai di kantor, makan siang bersama teman kantor, atau rapat tatap muka kini telah digantikan oleh pertemuan lewat layar laptop.Banyak karyawan merasa suasana kerja jadi kurang akrab dibanding saat di kantor.  Menurut para ahli psikologi kerja,kurangnya interaksi sosial dapat menimbulkan stres dan rasa kesepian, terutama bagi mereka yang tinggal sendiri. Namun, selain itu, WFH juga memperkenalkan gaya hidup baru.Munculnya kebiasaan baru seperti proses penyembuhan diri secara mandiri dari luka batin atau kondisi emosional negatif tanpa bantuan profesional (self-healing), keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi (work-life balance), serta gaya hidup jarak jauh yang tetap produktif. Dengan kata lain, rumah kini bukan hanya tempat untuk beristirahat, tetapi juga tempat untuk bekerja, berkarya, dan mengembangkan diri.

Beberapa tahun setelah pandemi, banyak bisnis beralih ke sistem kerja baru,yaitu menggabungkan kerja di rumah dan di kantor.Cara ini lebih efektif karena membuat karyawan bisa mengatur waktu kerja dengan lebih mudah tanpa mengorbankan interaksi sosial. Perusahaan besar seperti Google dan Gojek hampir selesai menerapkan kebijakan ini secara permanen yang memberi karyawan tempat untuk bekerja.Di Indonesia, bekerja dari rumah diperkirakan akan terus dilakukan. Pemerintah juga mulai mendorong penggunaan teknologi digital di berbagai bidang supaya pekerjaan bisa lebih cepat dan hasilnya lebih baik. Dengan internet yang semakin cepat dan perangkat digital yang lebih mudah digunakan, bekerja dari rumah bukan lagi halangan, menandakan era kerja modern.

Kesimpulan:

Bekerja dari rumah telah menjadi perubahan yang besar dalam dunia kerja modern.Sistem ini juga memberikan banyak keuntungan,seperti waktu kerja yang lebih fleksibel, lebih efisien, dan keseimbangan hidup yang lebih baik.tetapi juga memiliki beberapa kekurangan seperti stres, kondisi jaringan yang buruk, dan kurangnya interaksi sosial.Agar meningkatkan keberhasilan dalam sistem ini, diperlukan disiplin, manajemen waktu, dan lingkungan teknologi yang mendukung. Di masa depan, WFH akan menjadi bagian tetap dari gaya hidup digital masyarakat umum.Rumah kini bukan hanya tempat beristirahat, tetapi juga tempat untuk bekerja, berkreasi, dan tetap produktif dengan nyaman.

Sumber:
1. Katadata Insight Center. (2024). Laporan Survei Tren Work From Home di Indonesia 2024.
2. Kompas.com. (2023). “Kerja Jarak Jauh Jadi Tren Baru Dunia Kerja Pasca-Pandemi.”
3. CNBC Indonesia. (2024). “Hybrid Working, Gaya Kerja Masa Depan yang Mulai Diterapkan Banyak Perusahaan.”

Nama    : Muhammad Nabil Zaneta

NIM       : 2502020135

Prodi     : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Rombel : 4