PINTAR IQ DAN RENDAHNYA EQ RESIKO SUPERIORITAS DAN ANGKUH

Kecerdasan intelektual (IQ) telah lama dianggap salah satu indikator utama keberhasilan dalam bidang pendidikan maupun pekerjaan. Individu dengan IQ tinggi sering kali dipandang mampu memahami konsep yang rumit, memecahkan persoalan secara logis, dan menyerap informasi dengan cepat. Namun, pandangan ini terlalu menyederhanakan realitas. Sejumlah penelitian membuktikan bahwa kecerdasan emosional (EQ). berperan penting dalam menentukan kualitas hidup seseorang juga. Ketika IQ tinggi tidak diimbangi dengan EQ, individu berisiko mengembangkan sikap arogan, merasa dirinya lebih unggul, serta memiliki idealisme berlebihan yang justru menghambat hubungan sosialnya.

Sulastri (2021) menegaskan bahwa rendahnya EQ membuat seseorang kesulitan dalam mengelola emosi dan menjalin hubungan dengan orang lain. Hal ini terutama berbahaya bagi mereka yang memiliki IQ tinggi, karena potensi besar yang dimiliki dapat berubah menjadi kelemahan. Individu pintar sering tampil seolah-olah memahami segalanya, tetapi tidak mampu membaca dinamika emosional di sekitarnya. Akibatnya, relasi sosial mereka menjadi rapuh, bahkan memunculkan jarak dengan orang lain. Tanpa keterampilan emosional, kecerdasan intelektual dapat menjadi pedang bermata dua bagi dirinya sendiri yang mengurangi efektivitas sosial.

Penjelasan tersebut sejalan dengan temuan Meliala (2022). yang menyatakan bahwa orang dengan IQ tinggi namun memiliki EQ rendah biasanya bersikap terlalu kritis, kaku, dan sulit mengekspresikan perasaan secara sehat. Sikap ini sering dipersepsikan sebagai penolakan terhadap pendapat orang lain dan munculnya kesan superioritas. Masalah ini bukan berasal dari kecerdasan intelektual itu sendiri, melainkan dari ketidakmampuan dalam mengelola emosi. Dengan kata lain, tanpa keseimbangan EQ, kemampuan analisis dan kritis yang tinggi dapat berubah menjadi sikap yang menutup pintu kolaborasi.

Sriani (2020) lebih tegas menyoroti ketidakseimbangan antara IQ dan EQ. Dalam konteks pendidikan, pendidik yang hanya mengandalkan kecerdasan intelektual tanpa kemampuan emosional akan berisiko memiliki sikap arogan, sulit menerima kritik, dan cenderung otoriter. Kondisi ini menunjukkan bahwa keunggulan akademik tidak cukup untuk membangun interaksi yang sehat. Tanpa keterampilan emosional, seorang pendidik mudah merasa lebih tahu dibandingkan peserta didik, sehingga proses pembelajaran kehilangan esensi humanisnya.

Ratnasari (2022). juga memperkuat temuan tersebut dengan menekankan bahwa keberhasilan akademik dan profesional tidak hanya ditentukan oleh IQ. EQ terbukti berpengaruh besar terhadap kemampuan bekerja sama, keterampilan menerima kritik, dan keberhasilan beradaptasi di lingkungan kerja. Orang yang cerdas tetapi memiliki kecerdasan emosional yang rendah, sering kali mendominasi dalam berdiskusi, menolak berkompromi, dan sulit menyesuaikan diri dengan dinamika kelompok. Sikap seperti ini dapat melahirkan kesan superioritas yang justru membatasi pengembangan diri dan menghambat keberhasilan jangka panjang.

Dari berbagai temuan tersebut, terlihat jelas bahwa IQ yang tinggi tanpa dukungan EQ akan menghadirkan paradoks. Individu yang berpotensi besar justru dapat terjebak dalam arogansi, kesombongan intelektual, serta idealisme yang kaku. Alih-alih menjadi pemimpin yang menginspirasi, justru mereka lebih berisiko menutup diri terhadap kolaborasi. Keunggulan intelektual tanpa pengendalian emosional dapat menimbulkan konflik interpersonal yang tidak perlu. Karena itu, IQ dan EQ harus dipandang sebagai dua dimensi yang saling melengkapi.

Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa kecerdasan emosional berfungsi sebagai penyeimbang penting bagi kecerdasan intelektual. Individu yang pintar secara intelektual tetapi tidak mengembangkan EQ-nya akan rentan terjebak dalam arogansi, merasa diri superior, dan bersikap idealis secara berlebihan. Sebaliknya, mereka yang berusaha menyeimbangkan IQ dan EQ lebih mampu mengelola diri, memahami orang lain, dan menggunakan kecerdasannya secara konstruktif. Oleh sebab itu, menumbuhkan kecerdasan emosional bukanlah pilihan tambahan, melainkan kebutuhan mutlak agar kecerdasan intelektual benar-benar membawa manfaat bagi kehidupan sosial maupun profesional.

Daftar Pustaka

Meliala, A. (2022). Hubungan Kecerdasan Emosional dengan Sikap Sosial Individu. Jurnal

Psikologi Kontemporer, 10(2), 112-124.

Ratnasari, D. (2022). Peran Kecerdasan Emosional terhadap Kesuksesan Akademik dan

Profesional. Jurnal Pendidikan dan Pengembangan SDM, 7(3), 201-214.

Sriani, T. (2020). Keseimbangan IQ, EQ, dan SQ dalam Dunia Pendidikan. Jurnal Ilmu

Pendidikan, 5(1), 55-67.

Sulastri, N. (2021). Pengaruh Kecerdasan Emosional terhadap Hubungan Interpersonal. Jurnal

Psikologi dan Konseling, 9(1), 33-45

Farid Nova