FEATURE- Pada November 2024, sebuah langkah penting diambil untuk mengembangkan seni musik dan tari di Bugen Utara, Kelurahan Bangetayu Kulon. Berawal dari inisiatif seorang ketua RT bernama Danang Eko Saputro di RT 7 RW 8, gagasan untuk melestarikan seni budaya lokal mulai diwujudkan melalui kolaborasi dengan masyarakat dan komunitas seni. Danang, yang dikenal memiliki perhatian besar terhadap pengembangan potensi generasi muda, menjadi pelopor terbentuknya sanggar seni di daerah tersebut.
Dengan dukungan relawan, seniman lokal, dan masyarakat, sanggar ini bertujuan untuk memperkenalkan seni budaya kepada anak-anak dan remaja, sekaligus mengembangkan kreativitas mereka melalui musik dan tari yang menggabungkan unsur tradisional dan modern.
Sanggar tari yang didirikan atas prakarsa Danang menjadi tempat belajar seni tari tradisional bagi anak-anak dan remaja. Di sanggar ini, mereka tidak hanya diajarkan gerakan tari, tetapi juga diajak untuk memahami nilai-nilai budaya lokal yang kaya. Suasana belajar yang menyenangkan diciptakan agar anak-anak dapat mengenal dan mencintai budaya sambil menikmati proses latihan.
Relawan yang menjadi pengajar adalah para seniman lokal yang peduli terhadap pelestarian budaya. Mereka mengajarkan berbagai tarian tradisional, seperti tari Jawa dan Nusantara, mulai dari gerakan dasar hingga koreografi yang lebih kompleks. Selain itu, orang tua dan masyarakat sekitar aktif mendukung program ini dengan mendorong anak-anak mereka untuk terlibat.
Selain seni tari, perhatian juga diberikan pada anak muda melalui pelatihan produksi musik. Komunitas seni Bugen Utara, yang terbentuk berkat upaya awal Danang, mengajarkan cara membuat audio sound dengan teknologi sederhana. Musik yang dihasilkan memadukan unsur tradisional dan modern, menciptakan karya unik yang relevan dengan zaman sekarang.
Pelatihan ini tidak hanya mengasah keterampilan teknis, tetapi juga memberikan ruang bagi para pemuda untuk berekspresi. Mereka didorong untuk menciptakan karya musik yang tidak hanya menarik, tetapi juga menyampaikan pesan budaya kepada masyarakat.
Ketertarikan terhadap program ini juga datang dari beberapa universitas ternama, seperti Universitas Semarang (USM), Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), dan Universitas Islam Sultan Agung (Unisula). Ketiga universitas ini melihat inisiatif tersebut sebagai upaya strategis untuk menghidupkan kembali budaya lokal, sekaligus menjadi ajang kolaborasi bagi mahasiswa mereka dalam penelitian dan pengabdian masyarakat yang berbasis seni dan budaya.
Program ini mendapat sambutan hangat dari warga Bugen Utara. Sanggar tari menjadi tempat berkumpul dan belajar, sementara kegiatan produksi musik membuka ruang kolaborasi bagi para pemuda. Hasilnya, semangat gotong royong dan kepedulian terhadap pelestarian budaya semakin tumbuh.
Orang tua merasa senang karena anak-anak mereka terlibat dalam kegiatan yang positif. Selain itu, karya musik yang dihasilkan mulai menarik perhatian, baik dari komunitas lokal maupun luar daerah, membuka peluang untuk pengembangan lebih lanjut. Dukungan dari universitas-universitas tersebut turut memberikan motivasi tambahan bagi masyarakat untuk terus mendukung program ini.
Berawal dari langkah kecil pak Danang di RT 7 RW 8, kini Bugen Utara telah memiliki fondasi kuat untuk menjadi pusat seni dan budaya lokal. Program ini diharapkan terus berkembang dengan dukungan pemerintah, pelaku seni, dan masyarakat.
Inisiatif ini menunjukkan bahwa dengan kerja sama yang kuat, masyarakat dapat melahirkan generasi muda yang kreatif, mencintai budaya, dan mampu bersaing di era modern tanpa melupakan akar tradisi mereka. Sanggar tari dan program audio sound di Bugen Utara, yang kini juga menarik perhatian lembaga akademik seperti USM, Udinus, dan Unisula, adalah bukti nyata bahwa melestarikan budaya dan mengembangkan kreativitas bisa berjalan beriringan.(Bintang Tri Prayoga, Pendidikan Teknik Otomotif UNNES)