Siapa Tak Butuh Someone to Talk?

Oleh Naila Azzahra Amelia Putri (Ilmu Hukum UNNES)

Penelitian yang dilakukan di beberapa universitas di Indonesia menunjukkan bahwa banyak mahasiswa yang mengalami gangguan kesehatan mental seperti anxiety (kecemasan), stres, dan depresi. Contohnya, sebuah penelitian di Medan menemukan bahwa sekitar 43% mahasiswa sering merasa lelah, dan 41,5% mengalamai gangguan tidur, yang sering berhubungan dengan kecemasan atau stres​​​​. Salah satu penyebab utama gangguan mental pada mahasiswa adalah tekanan akademik yang tinggi, serta peralihan ke pembelajaran daring selama pandemi yang membuat mereka merasa terisolasi dan kehilangan dukungan sosial​​. Tuntutan akademik yang besar juga mempengaruhi keseimbangan kehidupan mahasiswa, yang berujung pada masalah kecemasan dan depresi.

Ketiadaan dukungan sosial menjadi masalah yang cukup serius bagi banyak mahasiswa. Tanpa adanya orang yang bisa diajak berbicara, banyak mahasiswa merasa terisolasi, yang membuat mereka kesulitan menghadapi berbagai tekanan yang datang, baik itu dari aspek akademik, sosial, maupun finansial. Masalah ini semakin memburuk karena banyak mahasiswa yang merasa malu atau enggan untuk mengungkapkan perasaan mereka kepada orang lain. 

Jika seorang mahasiswa tidak memiliki orang untuk diajak berbicara, mereka bisa merasa sangat terisolasi. Tanpa adanya tempat untuk berbagi perasaan dan kekhawatiran, perasaan cemas dan stres yang dialami bisa semakin parah. Hal ini bisa mempengaruhi kesejahteraan mental mereka secara keseluruhan, karena mereka cenderung memendam masalah sendirian. Dampaknya tidak hanya pada kesehatan mental, tetapi juga bisa mengganggu konsentrasi dalam belajar dan beraktivitas sehari-hari. Mahasiswa yang merasa tertekan tanpa dukungan sering kali merasa kesulitan untuk menghadapinya, dan ini bisa berakibat pada penurunan kualitas hidup mereka.

Untuk mengatasi masalah kesehatan mental di kalangan mahasiswa, penting bagi mereka untuk memiliki dukungan dari orang-orang terdekat. Salah satunya bisa melalui hubungan yang baik dengan teman-teman, keluarga, atau bahkan dosen. Kampus juga bisa membantu dengan menyediakan layanan konseling yang mudah diakses. Dengan adanya tempat untuk berbicara dan mencari solusi, mahasiswa bisa merasa lebih tenang dan tidak merasa sendirian dalam menghadapi masalah.

Berbicara dengan orang yang dipercaya adalah cara yang efektif untuk mengurangi stres. Bisa itu teman, keluarga, atau orang terdekat lainnya. Bahkan di zaman sekarang, komunikasi lewat pesan atau video call juga bisa jadi pilihan yang baik. Yang penting adalah mahasiswa merasa ada yang mendengarkan dan memahami perasaan mereka, supaya mereka merasa lebih ringan dan tidak tertekan.

Kampus sebaiknya punya layanan konseling yang bisa diakses oleh mahasiswa yang membutuhkan bantuan. Konseling memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk berbicara dengan orang yang profesional, yang bisa membantu mereka mengatasi masalah atau stres yang dialami. Dengan adanya layanan ini, mahasiswa bisa merasa lebih didukung dan terbantu dalam menghadapi kesulitan tanpa takut merasa dihakimi.

Selain layanan konseling, membangun komunitas dukungan juga sangat penting. Di kampus, mahasiswa bisa membentuk kelompok atau komunitas yang saling mendukung. Misalnya, kelompok diskusi atau komunitas hobi yang memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk berbicara dan saling memberi dukungan. Ini membantu mahasiswa merasa lebih terhubung dan tidak merasa sendirian dalam menghadapi masalah mereka.

Dukungan dari orang lain sangat berpengaruh dalam menjaga kesehatan mental mahasiswa. Tanpa adanya seseorang untuk diajak berbicara, mahasiswa bisa merasa sangat terisolasi dan kesulitan mengatasi berbagai tekanan dalam hidup mereka. Maka dari itu, sangatlah penting bagi mahasiswa untuk menjalin hubungan yang baik dengan teman-teman, keluarga, atau dosen yang dapat memberikan dukungan emosional. Kampus juga harus menyediakan layanan konseling yang mudah diakses, agar mahasiswa bisa merasa didampingi dan tidak merasa harus menghadapi semua masalah mereka sendirian.

Agar kesehatan mental mahasiswa terjaga, kampus perlu lebih memperhatikan pentingnya fasilitas dukungan seperti ruang konseling yang mudah dijangkau, serta kegiatan yang memfasilitasi interaksi antar mahasiswa. Mahasiswa juga disarankan untuk lebih aktif membangun koneksi dengan teman-teman mereka atau bergabung dengan komunitas yang ada di kampus. Dengan begitu, mereka bisa merasa lebih terhubung dengan orang lain dan memiliki dukungan yang diperlukan untuk menghadapi tantangan-tantangan selama masa kuliah. (*)