Novel Negeri 5 Menara merupakan salah satu buku yang diminati oleh banyak pembaca yang bertemakan religius dan pendidikan. Novel ini juga ialah buku pertama dari trilogi novelnya. Novel pertama karya Ahmad Fuadi ini diterbitkan pada tahun 2009 oleh PT Gramedia Pustaka Utama di Jakarta. Editor novel yang sangat laris ini yaitu Mirna Yulistianti dengan tebal buku xi + 423 halaman.

Pada tahun 1972 di Bayur, Ahmad Fuadi lahir. Fuadi bersekolah di sekolah agama yaitu pondok modern Gontor yang mengajarkan tentang kehidupan dan kehidupan setelah kematian. Pondok Madani mengajarkannya mantra yang merubah hidupnya yaitu “Man jadda wajada” yang berarti “Barangsiapa yang berusaha keras akan sukses”.
Dalam novel ini, penulis menceritakan tentang enam orang sahabat yang menimba ilmu di Pesantren Madani atau PM. Keenam tokoh utama tersebut berasal dari daerah yang berbeda-beda yaitu ada yang dari Padang, Sumenep, Gowa, Mojokerto, Bandung, dan Medan. Mereka bernama Alif Fikri, Atang, Raja, Dulmajid, Baso, dan terakhir bernama Said. Keenam sahabat ini bertemu di Pesantren Madani dengan latar belakang berbeda-beda. Pesantren Madani lah yang mempertemukan mereka menjadi sebuah sahabat hingga sebuah keluarga. Mereka menjalani aktivitas di pondok bersama-sama dan merajut persahabatan. Berbagai rintangan kehidupan mereka hadapi, mulai dari senang, bahagia, masam, manis, maupun sedih.
Novel ini pada awalnya menceritakan tentang tokoh Alif yang ingin menjadi sosok yang seperti Habibie, yaitu sosok yang pekerja keras dan memiliki pengetahuan yang tinggi. Ia ingin menjadi sosok seperti itu dengan memulai langkahnya bersekolah di SMA Bukittinggi agar dapat berkuliah di ITB. Namun orang tua Alif menolak rencana Alif tersebut, ia menginginkan anaknya mengenyam pendidikan di pesantren agar menjadi pemuka agama. Setelah mengetahui orang tuanya tidak menyetujui rencananya tersebut, Alif merasa kecewa dan bersedih karena menurutnya pilihan hidupnya tersebut sudah tepat, tetapi orang tuanya menginginkan hal lain.
Sakit hati yang Alif rasakan seperti tertancap panah yang runcing, terasa begitu sakit. Ia pun juga beranggapan bahwa mimpinya menjadi sosok seperti Habibie tidak akan pernah terwujud bila langkah awalnya saja sudah kandas. Mimpi yang sudah ia inginkan, ia susun, ia rencanakan sejak lama ternyata harus pupus karena restu orang tua. Tidak hanya satu ataupun dua hari ia menangis, kesedihan itu pun berlarut-larut lamanya sampai air matanya habis dan dadanya terasa sesak seolah berharap orang tuanya dapat merestui pilihannya itu. Perasaan yang begitu menyiksa ini tak henti-hentinya terus menggurui hati Alif. Namun, benar adanya bahwa Tuhan memang maha membolak-balikkan hati manusia. Waktu demi waktu pun kian berlalu, perlahan Alif mampu ikhlas dengan pilihan Amaknya dan memutuskan untuk mengikuti pilihan orang tuanya yakni mengenyam pendidikan di pondok pesantren.
Saat pertama kali masuk ke dalam pondok pesantren, Alif terkejut menjumpai kehidupan pesantren yang di luar ekspektasinya. Kehidupan pesantren yang ia bayangkan tak sesuai dengan kenyataan. Dalam pondok pesantren, kehidupannya begitu disiplin, ia sangat terkejut dan sempat merasa sepertinya pesantren tidak cocok dengannya. Alif yang dulunya bersekolah di sekolah negeri sangat merasakan tertinggal dan harus beradaptasi, juga berusaha lebih keras untuk bertahan. Suatu ketika saat ia ingin menyerah, ia mengingat Amaknya yang sangat menginginkan dirinya melanjutkan sekolah di Pesantren Madani ini. Karena hal tersebut, ia ingin berjuang agar dapat membanggakan Amaknya. Di pesantren, ia memiliki teman-teman seperjuangan yang juga ingin bertahan dan meraih kesuksesan bersama.
Setelah merasa kecewa, terkejut, hingga tertinggal, tibalah waktunya Alif dan teman-temannya mulai rida dengan pilihannya, mereka akhirnya dapat terbiasa dengan kehidupan di dalam pondok. Beberapa waktu kemudian, Alif dan teman-temannya bahkan mulai menyukai kehidupan pesantren yang awalnya cukup mengejutkan. Suatu hari saat kajian, seorang ustaz membawakan materi tentang berusaha dengan optimal lebih baik daripada tidak berusaha sama sekali. Awalnya mereka menyimak materi dengan biasa saja, tetapi mereka kemudian terbius dengan mantra “Man jadda wajada” yang berarti “Barangsiapa yang berusaha keras pasti akan sukses”. Mantra tersebut mengoyakkan hati mereka agar berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencapai keberhasilan. Bahkan mantra “Man jadda wajada” tidak hanya mereka yakini, tetapi juga mereka terapkan dalam berkehidupan sehari-hari. Mereka semua ternyata memiliki impian yang sama yaitu ingin melanjutkan kuliah di luar negeri.
Kehidupan di pesantren yang penuh lika-liku pun tidak berhenti di sini, mereka terus bertahan dan berjuang untuk meraih impian. Mereka pun saling bahu-membahu dan menguatkan satu sama lain layaknya sahabat. Persahabatan mereka terus berlanjut meskipun tidak jarang mereka berselisih kecil. Namun, itulah yang membuat persahabatan mereka menjadi awet dari awal masuk pondok sampai lulus dari Pesantren Madani. Usai melalui rintangan yang berat dengan penuh cucuran keringat, akhirnya mereka semua berhasil membuktikan impian mereka kuliah di luar negeri, lalu tak lama dari itu mereka bertemu lagi di London. Saat mereka bertemu kembali, mereka mengingat memori impian dan cita-cita yang kini sudah terwujud dan dulu pernah mereka lukis di bawah menara masjid.
Novel kontemporer trilogi pertama ini memiliki keunggulan pada keaslian isi cerita yang diambil dari kisah nyata pengarangnya sendiri. Jadi, semua yang diceritakan dalam cerita berasal dari kejujuran penulisnya tanpa terlalu banyak dominasi imajinasi. Selain itu gaya bahasa yang disampaikan sangat jelas, tidak berbelit-belit, dan mudah dimengerti. Novel ini juga menggambarkan sisi positif dari budaya pesantren yang bersifat religius, taat kepada Kyai dan disiplin.
Kekurangan novel ini terletak pada alur yang datar dan konflik yang tidak jelas. Di sisi lain, penulis nampaknya memiliki kontradiksi dalam cerita yang menekankan pada konflik internal yang dialami Alif. Namun, selaras dengan ekspektasi sebuah karya sastra, konflik yang ada dinilai tidak cocok untuk sebuah novel. Karena hal tersebut, para pembaca seolah-olah melihat buku ini sebagai catatan harian belaka yang dipaksa menjadi sebuah karya sastra.
Setelah membaca buku ini, dapat disimpulkan bahwa mantra “Man jadda wajada” itu benar adanya. Siapapun orang yang bersungguh-sungguh dalam hidupnya, maka orang itu akan sukses. Jadi, setiap orang harus bersungguh-sungguh dalam hidupnya agar meraih kesuksesan. Novel Negeri 5 Menara direkomendasikan untuk dibaca oleh pelajar, anak-anak, dan orang tua. Novel ini mengandung nilai-nilai keagamaan, disiplin, tanggung jawab, dan kerja keras untuk mencapai impian. Karena hal tersebut, novel ini cocok dan disarankan dibaca oleh semua kalangan.
Oleh:
Malika Uswatun Hasanah, Tyas Rahma Viani, Listiana Pramudita, Muhammad Fahda Mahassin, Dea Nisa Febriyanti
Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia