Di balik nama Margorejo, terdapat kisah lama yang diwariskan dari mulut ke mulut oleh para sesepuh desa. Desa ini terletak di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, dan kini menjadi salah satu desa yang cukup maju dengan kehidupan masyarakat yang harmonis. Namun, siapa sangka, nama “Margorejo” memiliki makna mendalam yang berakar dari sejarah dan perjuangan masa lalu.
Nama “Margorejo” berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa: “margo” yang berarti jalan atau perjalanan, dan “rejo” yang berarti ramai atau makmur. Konon, dahulu kala daerah ini hanyalah hutan belantara yang sunyi. Namun seiring waktu, tempat ini menjadi jalur penting bagi para pedagang, ulama, dan petani yang melakukan perjalanan antara wilayah-wilayah di sekitar Kudus.
Suatu hari, datanglah seorang tokoh bijak yang dikenal dengan nama Mbah Reksosentiko. Ia seorang perantau yang kemudian menetap dan membuka lahan pertanian di kawasan itu. Dengan kerja keras dan doa yang tak henti, daerah tersebut lambat laun menjadi tempat tinggal yang ramai dan subur. Mbah Reksosentiko dikenal sebagai orang yang pertama kali menggagas pembangunan jalan desa yang menghubungkan Margorejo dengan desa-desa tetangga.
Dalam suatu kesempatan, saya sempat bertanya kepada Pak Slamet, salah satu sesepuh yang masih tinggal di Margorejo:
“Pak, sebenarnya asal usul Desa Margorejo itu gimana, ya?”
Beliau pun tersenyum tipis dan mulai bercerita sambil menyeruput kopi panasnya.
“Wah, cerita ini udah turun-temurun, Nak. Dulu Margorejo itu belum seperti sekarang. Masih sepi, banyak hutan. Terus datanglah Mbah Reksosentiko itu… orang sakti katanya. Beliau yang pertama kali ngajak warga buat buka lahan, tanam padi, bikin jalan. Makanya dinamakan Margorejo – jalan yang membawa kemakmuran.”
Dari cerita itu, masyarakat percaya bahwa semangat gotong royong dan kerja keras yang diwariskan oleh pendahulu seperti Mbah Reksosentiko itulah yang menjadi ruh dari desa ini.
Kini, Margorejo tak hanya dikenal sebagai desa yang subur dan makmur, tapi juga sebagai tempat yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan, spiritualitas, dan tradisi. Setiap tahun, warga masih mengadakan sedekah bumi dan nyadran untuk menghormati para leluhur dan mengingat asal usul tanah kelahiran mereka.(*)
Oleh Mohammad Shandy Aulia