Sekilas tentang Tugu Suharto

Semarang, Oktober 1945. Bau mesiu masih menggantung di udara. Kota itu baru saja mengalami gegap gempita proklamasi kemerdekaan, tetapi suasana belum sepenuhnya merdeka. Tentara Jepang masih bertahan di beberapa titik, dan kabar mengenai kembalinya Belanda lewat NICA menyebar seperti api di ladang kering. Rakyat Semarang bersiaga. Di antara sekian banyak pemuda yang angkat senjata, ada seorang letnan muda bernama Soeharto, baru berusia 24 tahun.

Ia tidak lahir di Semarang, tetapi penugasan dari Tentara Keamanan Rakyat (TKR) membawanya ke kota itu. Ia dan beberapa anak buahnya ditempatkan di daerah yang kini dikenal sebagai Simpang Lima dulu hanya tanah kosong yang menjadi perlintasan lima arah ke pusat-pusat penting kota. Tapi saat itu, tempat itu adalah titik strategis: pusat logistik, pos komunikasi, dan rute pergerakan pasukan.

Malam itu, Soeharto duduk di atas peti amunisi kosong, memandang langit gelap yang hanya diterangi lampu-lampu redup dari rumah penduduk. Ia tahu, besok akan terjadi serangan. Informasi dari mata-mata lokal menyebutkan bahwa pasukan sekutu, sebagian besar Belanda dan Gurkha, akan mencoba merebut markas TKR di barat kota. Jika itu terjadi, maka Semarang akan jatuh.

“Tempat ini harus dipertahankan,” katanya kepada Letda Guntur, tangan kanannya. “Kalau mereka kuasai Simpang Lima, habis kita.”

Dini hari, ledakan pertama terdengar. Rentetan peluru membelah keheningan. Pasukan TKR yang dipimpin Soeharto bertahan habis-habisan. Mereka tidak memiliki persenjataan lengkap, tetapi semangat mereka menyala. Pertempuran berlangsung selama lebih dari enam jam. Dalam chaos itu, Soeharto bahkan sempat memimpin serangan balik bukan dari belakang, tetapi dari barisan depan.

Pagi menjelang, dan serangan sekutu berhasil dipukul mundur. Soeharto berdiri di tengah jalan tanah yang penuh bekas ledakan, napasnya berat, seragamnya sobek. Ia tidak bicara banyak. Tapi warga yang menyaksikan dari kejauhan tahu, pemuda inilah yang telah mempertahankan Semarang malam itu.

Tahun-tahun berlalu. Soeharto naik pangkat, kariernya meroket. Ia menjadi Presiden Republik Indonesia pada 1967. Dalam masa kekuasaannya yang panjang, Orde Baru mengukuhkan banyak narasi tentang perjuangan dan stabilitas. Di banyak tempat, monumen dan tugu dibangun untuk mengenang jasa para tokoh, termasuk dirinya.

Di Semarang, sebuah tugu kecil dibangun di sisi timur Simpang Lima. Tidak semegah Tugu Muda, tetapi cukup mencolok. Tugu itu menampilkan relief sederhana tentang pertempuran dan sosok seorang pemuda berseragam militer simbol keberanian dan kepemimpinan. Banyak orang menyebutnya Tugu Soeharto, meskipun secara resmi tidak dinamai demikian.

Orang-orang tua yang hidup di masa itu tahu ceritanya. Mereka membawa cucu mereka melewati tugu itu sambil berbisik, “Dulu, di sini, Soeharto muda bertempur untuk kota ini.”

Namun zaman berubah. Setelah Soeharto lengser pada 1998 dan reformasi bergulir, arus kritik terhadap Orde Baru menyeruak ke permukaan. Banyak yang mempertanyakan warisan sejarah masa itu termasuk simbol-simbol seperti tugu tersebut. Beberapa menganggapnya hanya sebagai propaganda, bukan representasi perjuangan sejati.

Tugu itu mulai jarang dikunjungi. Tidak pernah menjadi objek wisata. Plakatnya mulai pudar, dan lampu yang meneranginya hanya menyala sesekali. Pemerintah kota enggan merenovasi, takut terseret perdebatan politik. Tapi bagi sebagian orang, tugu itu bukan soal siapa yang dihormati, tapi soal ingatan. Bahwa pernah ada seorang pemuda bernama Soeharto, sebelum semua kontroversi dan kekuasaan, yang berperang demi sebuah kota bernama Semarang.

Seorang pensiunan guru sejarah, Pak Soedjono, pernah berkata di sebuah acara lokal, “Tugu itu bukan hanya tentang Soeharto. Itu tentang zaman. Zaman di mana kemerdekaan bukan slogan, tapi darah dan tanah. Apapun pendapatmu tentang orangnya, kisah itu tak boleh hilang.”

Kini, saat lampu-lampu neon Simpang Lima berpendar menerangi malam dan mall-mall berdiri megah, tugu itu masih tegak. Dihiraukan, tapi tak tumbang. Ia berdiri seperti pengingat diam bahwa sejarah selalu lebih rumit dari hitam dan putih.(*)

Oleh Muhammad Avicena Fairuza Faza