Di Kecamatan Randudongkal, Kabupaten Pemalang, ada sebuah desa yang bernama Desa Banjaranyar. Di dalam desa ini, terdapat sebuah tempat yang selalu membuat rasa ingin tahuku bergejolak. Tempat itu bernama Sumur Darya, sebuah sumur tua yang terletak di balik rerimbunan pohon bambu dan pohon beringin besar yang konon telah berusia ratusan tahun. Di sana, waktu seolah melambat, suara angin terdengar seperti bisikan, dan udara terasa lebih dingin, bahkan di tengah panas siang hari. Orang-orang tua di desa berkata bahwa Sumur Darya bukanlah sembarang sumur. Ia adalah peninggalan suci dari Mbah Darya, seorang leluhur desa yang dahulu hidup sederhana, jauh dari gemerlap dunia, menghabiskan hari-harinya untuk bersemedi dan mensucikan diri di Sumur Darya, menjadikan tempat itu sebagai tempat pesucian diri secara lahir dan batin. Konon katanya, Mbah Darya mampu berkomunikasi dengan makhluk-makhluk gaib dan diberkahi karunia untuk menjaga keseimbangan antara alam manusia dan alam tak kasat mata.
Setelah wafatnya Mbah Darya, amanah untuk menjaga kesucian sumber mata air itu diteruskan oleh kedua anaknya, Mbah Ratmi dan Mbah Meilatun. Mereka berdua merawat sumur, menjaga kebersihan dan kesuciannya sebagaimana pesan yang diwariskan oleh Mbah Darya. Setelah Mbah Ratmi dan Mbah Meilatun wafat, masyarakat desa percaya bahwa roh mereka tetap tinggal untuk menjaga Sumur Darya. Konon, keduanya menjelma menjadi sosok ular yang menjaga kesucian sumur tersebut hingga kini.
Amanah menjaga Sumur Darya kemudian diteruskan oleh Mbah Dar. Dengan penuh tanggung jawab, Mbah Dar tetap mempertahankan aturan dan kesakralan tempat itu, sebagaimana yang telah dilakukan para pendahulunya. Sepeninggalan Mbah Dar, tugas tersebut dilanjutkan oleh Pak Tono. Pak Tono dipercaya untuk melanjutkan amanah sebagai penjaga Sumur Darya, memastikan bahwa kepercayaan turun-temurun tetap terjaga di tengah masyarakat Banjaranyar.
Ada suatu aturan tidak tertulis yang harus dipatuhi oleh siapa saja yang ingin mencuci di Sumur Darya, yaitu boleh mencuci pakaian disana, asalkan bukan pakaian yang terkena najis, terutama kotoran bayi. Jika aturan itu dilanggar, penjaga sumur yang seringkali muncul dalam wujud ular dengan bentuk ekor yang mirip dengan kepalanya akan menampakkan dirinya, memberi peringatan. Aku masih ingat, suatu sore, aku duduk di teras bersama nenek. Ia bercerita mengenai Sumur Darya. “Kamu tahu,” katanya perlahan, “Sumur Darya itu ibarat jantung desa ini. Ia hidup dan menjaga, tempat semua kenangan mengenai desa mengalir dan berdiam.”
“Kalau ada yang berani mencemari kesuciannya, ia akan memperlihatkan dirinya. Ia tak akan diam saja.”
Saat itu, aku hanya mengangguk-angguk, separuh percaya, separuh penasaran membayangkan seekor ular dengan bentuk unik keluar dari salah satu sumber pancuran air. Nenek melanjutkan ceritanya. Katanya, suatu hari, pernah terjadi sebuah kejadian, dimana seorang ibu tengah mencuci pakaian sendirian di Sumur Darya. Ia tidak menyadari bahwa di antara tumpukan pakaian yang ia bawa, terselip sebuah baju bayi yang masih mengandung kotoran.
Di tengah keheningan siang itu, ketika hanya suara pancuran air yang terdengar, ibu itu tiba-tiba merasa ada sesuatu menyentuh kakinya, yang terendam dalam air sumur. Awalnya ia mengira hanya sehelai kain yang hanyut. Namun begitu ia menoleh, ia langsung berteriak ketakutan dan buru-buru keluar dari air, pakaian-pakaiannya tercecer.
Teriakan itu terdengar hingga ke rumah Mbah Dar yang jaraknya tidak terlalu jauh, saat itu ia masih hidup dan menjadi penjaga Sumur Darya. Tanpa banyak tanya, Mbah Dar berjalan cepat menuju sumur. Begitu sampai di sana, beliau mengintip ke dalam sumur dan mendapati dua ekor ular berenang perlahan, memutari permukaan air.
Dengan suara tenang, Mbah Dar berkata, “Ada yang melanggar aturan tak tertulis dari sumur ini.” Ia lalu menunduk, seakan berbicara kepada sesuatu yang tidak kasat mata, dan berkata lirih, “Mohon maaf. Ada yang tanpa sengaja mencemari tempat ini. Tolong jangan mengganggu lagi. Saya akan temani dia.” Ajaibnya, setelah Mbah Dar mengucapkan kalimat itu, kedua ular tersebut perlahan berenang kembali ke arah lubang dibawah pancuran sumber air dan lenyap tanpa jejak. Seolah mereka hanya muncul untuk memperingatkan bukan membahayakan. Setelah itu, ibu tersebut melanjutkan kegiatan mencuci pakaiannya, kali ini ditemani oleh Mbah Dar, hingga semua pekerjaannya selesai. Sejak kejadian itu, kabar tentang ular penjaga Sumur Darya semakin menguat di kalangan warga. Begitulah cerita dari nenek.
Pada kisah yang lain, saat desa sedang bersiap menyambut Pilkades, desas-desus mulai beredar. Pak Agus, salah satu calon kepala desa, sering berkunjung ke rumah Pak Tono, penjaga Sumur Darya setelah Mbah Dar. Hal itu mulai menjadi buah bibir di kalangan warga, orang-orang mulai bertanya-tanya maksud dari kedatangan Pak Agus. Ada yang berspekulasi bahwa Pak Agus mencari “restu” dari leluhur lewat perantara Pak Tono.
Menurut penuturan dari Pak Tono, Pak Agus memiliki keinginan untuk membersihkan diri, lahir dan batin dengan meminta izin untuk mandi di Sumur Darya. Pak Tono berpesan, “Kalau niat Anda bersih, sumur itu akan menerimamu. Tetapi, kalau ada kebohongan di dalam hati, Anda akan tahu akibatnya.” Malam itu, dengan diterangi sinar bulan, Pak Agus melakukan mandi suci di Sumur Darya ditemani oleh Pak Tono. Sesudah itu, entah kebetulan atau tidak, Pak Agus akhirnya memenangkan Pilkades. Ada yang percaya itu berkat usahanya. Ada pula yang yakin, itu karena ia telah meminta restu di hadapan penjaga desa.
Cerita tentang Sumur Darya tidak berhenti sampai di situ. Ada pula kisah tentang Pak Yatin, seorang kolektor ikan. Ia suatu hari melihat ikan gabus besar berenang di Sumur Darya. Tanpa pikir panjang, ia menangkap ikan itu dan membawanya pulang. Malamnya, tubuh Pak Yatin mengalami demam tinggi, menggigil seperti terkena kutukan. Dalam igauannya, ia terus mengulang, “Kembalikan… kembalikan…” Pak Tono, yang mendengar kabar itu, segera mengunjunginya. “Kamu mengambil sesuatu yang bukan milikmu,” katanya. “Kembalikan.”
Dengan susah payah, Pak Yatin mengembalikan ikan itu ke Sumur Darya. Ajaib, tidak lama setelahnya, demamnya sembuh. Ia kembali sehat, tapi sejak saat itu, ia tak pernah lagi berani bermain-main dengan apa pun yang ada di sekitar sumur. Hal ini memberikan pesan bahwa apa yang ada di Sumur Darya harus selalu dijaga kepemilikannya, jangan diganggu.
Kisah-kisah itu membuat aura Sumur Darya semakin mistis. Malam Satu Suro, malam yang dianggap sakral oleh masyarakat jawa, selalu menjadi waktu di mana Sumur Darya terasa lebih hidup. Warga yang masih memegang adat mendatangi sumur dengan sesajen kecil, bunga, dan doa. Tak ada ritual berlebihan, hanya rasa hormat yang mengalir dalam diri setiap warga. Sumur Darya, dengan segala misterinya, mengajarkan banyak hal mengenai rasa hormat, tentang batas, dan tentang makna menjaga warisan dari para leluhur.(*)
Oleh Khilmatunnisa