Di suatu kerajaan yang damai di Grobogan, Jawa Tengah, terdapat seorang raja bijaksana bernama Prabu Anglingdarmo. Raja ini dikenal karena kemampuannya yang luar biasa: ia dapat mendengar percakapan semua makhluk hidup, termasuk binatang. Kearifannya membuat rakyatnya mencintainya, dan ia dihormati sebagai pemimpin yang adil. Namun, di balik kebijaksanaannya, terdapat kisah cinta yang penuh liku antara dirinya dan sang permaisuri, Dewi Setyawati.
Dewi Setyawati adalah seorang ratu yang cantik dan anggun, tetapi ia sering merasa cemburu. Suatu hari, saat Prabu Anglingdarmo mendengar cicak yang tengah merayu, ia tersenyum geli. Senyum tersebut, yang seharusnya menjadi ungkapan kebahagiaan, justru membuat Dewi Setyawati merasa tersakiti. Ia mengira suaminya lebih memperhatikan binatang daripada dirinya, dan perasaan itu membuatnya tersingkir dari perhatian sang raja.
Merasa sangat terluka, Dewi Setyawati mengancam akan membakar diri jika Prabu Anglingdarmo tidak menjelaskan perasaannya. Prabu Anglingdarmo yang bijaksana berusaha menenangkan istrinya, tetapi ia menolak untuk memberikan ilmunya yang dapat membuat orang lain mendengar percakapan binatang. Dewi Setyawati tetap bersikeras, dan emosinya memuncak sehingga ia menyalakan api sebagai simbol ancamannya.
Ketika api mulai melalap, Prabu Anglingdarmo mendengar lecehan dari seekor kambing yang menertawakan situasi tersebut. Kata-kata binatang itu menyadarkannya akan kesalahan yang dilakukannya. Ia menyadari bahwa cinta dan perhatian kepada istri jauh lebih penting daripada hal-hal sepele yang mengganggu hatinya. Dalam keputusasaannya, ia memanggil kekuatan magisnya untuk menciptakan sebuah sendang deras yang mampu memadamkan api.
Dengan kekuatan magisnya, Prabu Anglingdarmo menciptakan sendang yang airnya mengalir deras dan jernih. Air tersebut seolah memiliki kehidupan sendiri, mengalir dengan lembut dan memberikan kesejukan. Begitu air menyentuh api yang membara, api itu segera padam, menyelamatkan Dewi Setyawati dari ancaman kebakaran. Melihat pengorbanan suaminya, hati Dewi Setyawati mulai lembut kembali.
Setelah api padam, Prabu Anglingdarmo menegaskan betapa pentingnya cinta dan pengertian dalam sebuah hubungan. Ia menjelaskan bahwa senyum dan perhatian kepada binatang bukan berarti mengabaikan istrinya. Dengan penuh kasih, ia meminta Dewi Setyawati untuk memahami dan mempercayainya. Dewi Setyawati pun terharu dan menyadari bahwa cinta Prabu Anglingdarmo tidak pernah pudar.
Prabu Anglingdarmo kemudian memutuskan untuk menjadikan sendang tersebut sebagai simbol cinta dan pengorbanan. Ia menamai sendang itu “Sendang Caya,” yang berarti bersinar, sebagai pengingat akan momen yang menggugah hati tersebut. Sendang ini menjadi tempat suci bagi kerajaan dan masyarakat, simbol harapan dan cinta abadi. Untuk menjaga sendang agar tetap bersih dan memberikan manfaat, Gabusrowo, makhluk halus yang bijaksana, ditugaskan untuk menjaga sendang tersebut. Ia berjanji untuk menjaga air tetap jernih dan melimpah, sehingga setiap orang yang datang akan merasakan berkahnya. Kehadiran Gabusrowo menambah kekuatan magis sendang, dan masyarakat merasa aman dan terlindungi.
Di sisi lain, Ki Demang Kepalang, seorang tokoh bijak di desa, menyadari pentingnya sendang bagi kehidupan masyarakat. Ia bertekad untuk mengabdikan diri demi menjaga sendang itu dengan sepenuh hati. Selama 40 hari, Ki Demang menjalani puasa dan meditasi, memohon agar air sendang terus mengalir dan memberikan kesehatan bagi semua yang datang.
Kehadiran Sendang Caya akhirnya membawa berkah bagi desa di sekitarnya. Masyarakat mulai mengadakan ritual dan upacara untuk menghormati sendang dan mengenang pengorbanan cinta Prabu Anglingdarmo dan Dewi Setyawati. Melalui tradisi ini, generasi baru diajarkan untuk menghargai cinta, pengorbanan, dan kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Hingga kini, legenda Sendang Caya tetap hidup di tengah masyarakat. Setiap tahun, penduduk desa merayakan festival untuk mengenang kisah cinta dan pengorbanan tersebut. Dengan semangat, mereka menjaga sendang agar tetap bersinar, sebagai simbol harapan dan keabadian cinta di kalangan masyarakat Grobogan.
Oleh Anindya Raina Paramesti