Dongeng Sasak: Kisah Loq Sesekeq, Si Bodoh yang Diberkahi

Pada zaman dahulu kala, di sebuah desa di Pulau Lombok, hiduplah sepasang suami istri yang sederhana dan penuh kasih sayang. Mereka hidup rukun, saling mencintai, dan sabar menjalani hidup. Namun takdir berkata lain, sang suami jatuh sakit dan menjelang ajalnya, ia berpesan kepada istrinya yang tengah mengandung, “Jika anak kita laki-laki, beri ia nama Loq Sesekeq.”

Lalu lahirlah bayi laki-laki yang diberi nama sesuai pesan sang ayah: Loq Sesekeq. Dalam bahasa Sasak, “sesekeq” berarti bodoh. Namun walau dinamai demikian, ia adalah anak yang patuh, jujur, dan berhati baik. Setiap subuh, ketika ayam jantan berkokok dan azan berkumandang, Loq Sesekeq segera bangun, sholat berjamaah di masjid, lalu membantu ibunya membersihkan rumah, mencuci, dan menyiram tanaman.

Suatu hari, ibunya menyuruh Loq Sesekeq untuk menjual kendi tanah liat ke pasar. Karena bingung bagaimana membawanya, Loq Sesekeq malah melubangi kendi, memasukkan tali ke lubang itu, dan menggantungnya di pundak. Sesampainya di pasar, tentu saja kendinya tak laku, sebab berlubang. Ibunya hanya menggeleng-geleng, tapi dengan sabar memberi tugas baru: membeli bebek.

Namun, saat pulang dari pasar, Loq Sesekeq merasa kasihan pada bebeknya dan melepaskannya ke sungai agar mandi. Melihat bebek mengambang, ia mengira bebek itu rusak dan membiarkannya hanyut. Ibunya pun kembali tertawa dan menjelaskan bahwa itulah sifat bebek—bisa berenang dan mengambang.

Keesokan harinya, Loq Sesekeq ingin sekali punya kerbau. Diperbolehkan oleh ibunya, ia pun pergi ke pasar. Di tengah jalan, ia bertemu anak-anak yang sedang bermain kerbau dari tanah liat. Mengira itu kerbau sungguhan, Loq Sesekeq membelinya dan menyimpannya di dalam laci. Ketika ibunya pulang dan melihatnya, ia hanya bisa menghela napas panjang melihat kebodohan anaknya yang polos.

Lalu saat tiba hari tahlilan mengenang mendiang ayahnya, Loq Sesekeq disuruh mencari seorang kyai. Karena tak tahu rupa kyai, ia hanya mengingat ciri-ciri yang disebut ibunya: berjanggut panjang. Maka ia pun membawa seekor kambing pulang. Lagi-lagi ibunya tertawa, menyuruhnya mengembalikan kambing sebelum disangka pencuri. Di tengah jalan, mencium bau kandang ayam yang busuk, ia mengira dirinya telah mati. Maka ia menggali lubang dan mengubur diri sendiri. Untung ibunya menemukannya tepat waktu.

Ibunya pun menyerahkan Loq Sesekeq pada seorang guru ngaji agar bisa belajar agama dan menjadi anak yang bijak. Bertahun-tahun belajar, tetap saja Loq Sesekeq belum pandai. Namun ia tak pernah menyerah. Ketika mendengar sang guru hendak pergi haji ke Mekah, ia pun bersikeras ikut. Tapi sang guru berangkat diam-diam.

Tak kehabisan akal, Loq Sesekeq berlari ke pantai dan menemukan sebatang kayu hanyut. Ia menaikinya dan berkata, “Kayu, bawalah aku ke Mekah!” Ajaib, kayu itu meluncur ke tengah laut, dibantu ombak dan angin. Diterpa badai, diserang hiu, namun ditolong lumba-lumba, Loq Sesekeq tetap teguh. Hingga akhirnya ia tiba di tanah Arab dan bertemu kembali dengan gurunya di Makkah.

Saat membuka bekal yang dibawanya, ternyata isinya adalah emas permata. Semua orang takjub dan sang guru pun berkata, “Engkau lebih dalam ilmunya dariku, wahai Loq Sesekeq.” Maka berhajilah mereka bersama, dan Loq Sesekeq didoakan menjadi Waliyullah, seorang kekasih Allah.

Dan begitulah kisah Loq Sesekeq—si bodoh yang tak kenal lelah, namun dengan ketulusan dan tekadnya, diberkahi dan dimuliakan oleh Tuhan.(*)

Oleh Alya Fatharani