Menggali Toponimi Desa Karangasem Boyolali

Indonesia sejak Era Nusantara hingga era kolonialisme Belanda merupakan Kawasan perlintasan perdagangan dunia. Hal ini berdampak pada keanekaragaman bangsa yang menghasilkan kebudayaan yang diturunkan secara turun menurun. Keunikan dari wilayah-wilayah di Indonesia, baik dalam skala dukuh hingga provinsi tidak terlepas dari sebuh terciptanya asal usul atau yang disebut toponimi. Toponimi bisa diartikan sebagai asal usul penamaan suatu tempat.

Toponimi memiliki 4 dasar pengelompokan. Salah satunya, ialah toponimi tumbuhan. Toponimi tumbuhan ialah penanaman suatu tempat yang didasarkan pada pendeskripsian tumbuhan atau tanaman yang berada di sekitar tempat tersebut. Toponimi tumbuhan tersebut juga terdapat pada sebuah dukuh di Kecamatan Gladagsari, tepatnya di Dukuh Karangasem.

Karangasem merupakan sebuah dukuh yang berlokasi di Desa Kalikgentong, Kecamatan Gladagsari. Tepatnya berada di koordinat 7,4534480, 110,5281284. Dukuh yang berbatas langsung dengan Dukuh Prigen, lalu di bagian utara berbatasan dengan Dukuh Karangsari, serta di bagian Selatan berbatasan dengan Dukuh Kupo.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui asal usul penamaan Dukuh Karangasem Kecamatan Gladagsari di Kabupaten Boyolali yang menggunakan nama tumbuhan sebagai nama dukuhnya. Dan juga mengetahui makna dan Sejarah di Dukuh Karangasem ini.

Penelitian ini dilakukan selama dua minggu dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menekankan Analisa deskritif. Penelitian ini menggunakan Teknik pengumpulan data dengan wawancara dan observasi mendalam. Wawancara dengan tokoh Masyarakat yang bernama Agus Wiryatmo (67 thn), dilakukan untuk mendapatkan informasi yang tepat, dan observasi mendalam digunakan untuk memperoleh data di lapangan secara factual dan objektif di Dukuh Karangasem Kecamatan Gladagsari di Kabupaten Boyolali. Metode penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan sesuatu fenomena terjadinya asal usul Dukuh Karangasem dengan Mendalam dan dilakukan dengan mengumpulkan data sedalam-dalamnya.

Pohon asam atau dalam Bahasa latin dikenal sebagai Tamarindus indica L. juga Masyarakat tradisional yang menyebutnya asam. Pohon asam mempunyai karakteristikk tumbuh tegak berkayu dan bercabang dengan warna cokelat muda dan berbentuk bulat. Pohon asam terkenal mampu tumbuh hingga ukuran yang sangat besar dengan ketinggianya bisa mencapai 25-30 meter.

Daun pohon asam tumbuh berbentuk majemuk Tunggal (folium simplex) dan lonjong (Oblongus) yang saling berhadapan. Ukuran daunya memiliki Panjang kurang lebih 1 cm sampai 2,5 cm dengan lebar antara 0,5 hingga 1 cm. Ujung dari pohon asam cenderung tumpul dan berpangkal bulat. Memiliki tepi daun dengan bentuk pertulangan menyirip rata dengan warna hijau.

Bunga pohom asam umumnya memiliki warna hijau kecoklatan berbentuk tabung. Dan pohon ini menghasilkan uah yang berbentuk polong dengan lebar sekitar 2 cm dan panjangnya bisa mencapai 10 cm. Warna buah pohon asam berwarna hijau kecoklatan, dengan biji di dalamnya yang berbentuk kotak pipih. Biji ini berwarna coklat dan memiliki akar tunggang yang terlihat kotor. Pada musim berbunga, pohon asam akan menggugurkan semua daun dan rantingnya. Setelah itu, barulah bunga asam mulai mekar disusul dengan tunas daun muda serta ranting-ranting baru.

Perkebunan asam di pilih karena keadaan dan kontur tanah yang bagus dan sesuai untuk ditanami pohon asam. Pohon asam pada jaman dahulu memilikii nilai ekonomi yang tinggi dan menjadi mata pencahariaan utama warga Dukuh Karangasem. Buah asam pada saat itu memiliki cukup nilai jual dan cukup diminati. Penghasilan yang di dapatkan dari menjual buah asam saat itu sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Buah asam juga memiliki banyak kegunaan. Dalam dunia kuliner buah asam bermanfaat untuk bumbu penyedap masakan. Buah asam memiliki khasiat untuk Kesehatan. Buah asam juga memiliki filosofi dalam data ruang kasustraan Jawa. Buah asam mulai dari buah dan daunya memiliki manfaat untuk dibuat bumbu masakan penyedap rasa. Kuliner yang bersifat ringan yang diolah tanpa panas api seperti olahan rujak, lotis, gado-gado, lotek, dan pecel menggunakan asam sebagai bumbu agar nikmat. Untuk makanan berat sering dikombinasikan dengan sop dan urab. Untuk daunya umumnya digunakan untuk masakan yang bersifat bakar di dalam daun, misalnya olahan pepes ikan.

Buah asam juga memiliki khasiat untuk Kesehatan. Olahan jamu tradisional buah asam ditambahkan kunyit yang berkhasiat untuk Kesehatan tubuh sudah sering dikonsumsi oleh Masyarakat. Kunyit (Curcuma longa) yang memiliki banyak vitamin. Kedua bahan tersebut mempunyai sifat anitiflamasi dan antibakteri, memiliki manfaat baik untuk Kesehatan tubuh dan kecantikan kulit. Khasiat yang dihasilkan antara lain, melancarkan dan mengurangi nyeri haid, mencegah resiko kanker, meredakan radang, mengatasi keputihan, menurunkan kadar gula, mengatasi perut kembung, dan meningkatkan daya tahan tubuh serta masih banyak lagi.

Di dalam sastra jawa, pohon asam juga memiliki filosofi ilmu bermakna luhur dalam kehidupan. Tunas buah asam muda yang berwarna kuning gading bernama sinom yang digunakan dalam salah satu bait tembang/sekar macapat. Sinom menggambarkan awal mula kehidupan sampai akhir kehidupan. Dalam istilah yang berdiri sendiri dapat diartikan membuat terpesona, dalam penjabaranya pohon asam membuat terpesona siapa saja yang melihatnya. Pohon asam yang konon dinilai memiliki daya energi yang cenderung positif. Tidak mengherankan ada beberapa pemilik pusaka memakai kayu pohon asam untuk rumah pusaka yang disebut “warangka”. Inti kayi asam jawa dipercaya memiliki fungsi untuk membawa keberuntungan, penolakan bala, dan penarik welas kasih.

Dukuh Karangasem, Kecamatan Gladagsari, Kabupaten Boyolali awalnya merupakan perkampungan yang warganya hidupnya menjual buah asam di perkebunan mereka. Hampir di setiap pelantaran rumah perkampungan warga dukuh ini memiliki pohon asam. Namun buah asam yang ada di dukuh tersebut hilang bersamaan dengan tabib atau stat blat yang dikeluarkan oleh Belanda tentang ajuran tanah kampung untuk menanam the sebagai pemasukan biaya perang Belanda. Penamaan Dukuh Karangasem dipilih karena keadaan pada zaman dahulu hampir di setiap pelantaran rumah warga di Dukuh Karangasem, Kecamatan Gladagsari, Kabupaten Boyolali terdapat tanaman asam yang di budidayakan menjadi Perkebunan dengan baik sebagai mata pencaharian utama warganya.

Perkebunan teh itu sendiri meliputi tanah milik Kasunan Surakarta yang semula ditempati sebagai kampung. Tanah tersebut memiliki status Hanggaduh run temurun yang artinya warga berhak menanam, mendapat hsil tanam, membayar pajak, namun tidak diperbolehkan menjual tanah tersebut. Status tersebut berdasarkan pada stat blat peraturan pertahanan Argranis Wet S. 1870 Pasal 51 i.s yang menyebutkan setelah hapusnya sistem tanam paksa (culturestelsel) pengusaha tanah berupa hak Erpaht dibatasi paling lama 75 tahun sekali.

Kebun teh Karangasem dan sekitarnya dipimpin dan dikelola oleh tokoh Belanda bernama Baron Dezentje. Dengan pangkatnya saat itu yang merupakan seorang kepala kebun. Namun, karena kekuatanya yang diakui oleh pemerintan Belannda, Baron Dezentje diberikan hak membentuk sebuah pasukan tentara Belanda untuk menumpas serangan gerilya di Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali. Baron Dezentje pernah berperang melawan prajurit kadipaten nggragatan (Wonosegoro) yang dipimpin oleh bekas anak buah Nyai Serang sehingga terjadi pertempuran luar biasa di Ampel. Baron Dezentje dimakamkan di makam Kerkof di sebelah timur lapangan Gondang, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali yang dilestarikan sebagai situs peninggalan.

Karangasem pada tahun 1900-an masih berpenduduk sangat sedikit. Perkampunganya masih dalam hutan lindung pada saat itu. Pada zaman penjajahan Belanda, Dukuh Karangasem dan Dukuh Prigen di Kecamatan Gladagsari, Kabupaten Boyolali menjadi pusat gerilya berupa barak dan dapur umum. Karangasem pernah menjadi penampungan pada masa pecah perang, markas gerilya, yang menurut cerita sesepuh seorang pahlawan nasional, Slamet Riyadi pernah bermarkas di Karangasem.

Pada Zaman dahulu Dukuh Karangasem terbelah oleh Sungai buatan Hindia Belanda dari Pantaran menuju pabrik teh, yang sekarang menjadi SMP Negeri 1 Ampel. Bekas pabrik tersebut berkaitan dengan kebun teh Dukuh Karangasem. Dalam cerita turun temurun, pabrik teh tersebut bernama pabrik teh melamboeng, dalam arti terbang tinggi. Mungkin dimaksudkan produksi teh ini bisa dikenal sampai jauh ke negara luar, terutama negara Belanda.

Sekarang Sungai buatan yang membelah Dukuh Karangasem, sudah dimanfaatkan sebagai pemukiman warga. Air yang digunakan dan dialirkan dari Pantaran ke pabrik teh digunakan untuk aktifitas pabrik tersebut, termasuk menggerakan alat pabrik.

Kebun teh yang sekarang berada di sebelah barat Dukuh Karangasem, yang semula di Dukuh Karangasem habis dibumihanguskan oleh gerilya dibantu oleh warga Masyarakat pada tahun 1948. Orang menyebut peristiwa tersebut yaitu peristiwa durstut. Durstut merupakan Bahasa Belanda. Durstut atau disebut Masyarakat tradisional londo ngidul, yang artinya penyerangan Belanda dari kota Salatiga ke kota Boyolali. Peristiwa tersebut membumihangus kebun teh dengan harapan kekayaan Belanda untuk biaya perang terhapus. Pada tahun 1990-an status tanah yang tadinya berstatus hanggaduh turun temurun dimohon masyarakt menjadi hak milik sehingga status kepemilikan kasunan Surakarta terlepas.

Penghidupan sehari-hari warga Karangasem pada zaman dahulu ialah menjual buah asam. Namun, setelah awal perintah tanam paksa berlaku, buah asam di Dukuh Karangasem mulai tidak ada sehingga pekerjaan warga sehari-hari Adalah berternak kambing dan ayam, serta berkebun.

Berdasarkan hasil penelitian toponimi tumbuhan di Dukuh Karangasem, Kecamatan Gladagsari, Kabupaten Boyolali yang mengangkat tanaman pohon asam. Dapat disimpulkan bahwa penamaan nama Dukuh Karangasem didasarkan oleh keadaan pada saat itu, dimana tempat tersebut merupakan Perkebunan asam. Asam yang pada saat itu memiliki nilai ekonomi, manfaat, dan nilai Sejarah yang dipilih sebagai mata pencahariaan utama mereka.

Sumber Sejarah dalam penelitian ini hanya berasal pada peninggalan yang ada serta cerita tutur tinular. Penulis sangat berharap bagi pembaca untuk mengetahui dan memahami cerita tentang asal-usul dan sejarah Dukuh Karangasem di Kecamatan gladagsari Kabupaten Boyolali, dan berkenan untuk menambahkan informasi yang belum diketahui untuk kesempurnaan penelitian ini. Agar tetap melestarikan budaya sebagai upaya pemersatu bangsa.

Penulis juga berharap untuk warga Masyarakat agar melestarikan dan menanamkan kembali pohon asam untuk menjaga sejarah dan kelestarian buah asam yang memiliki banyak manfaat dan makna filosofi yang ada.(*)

Oleh Lili Nurefita Dewi