Indonesia sedang menatap masa depan besar yang disebut Indonesia Emas 2045, yaitu momentum satu abad kemerdekaan yang diharapkan menjadi tonggak kemajuan bangsa. Untuk mewujudkan visi tersebut, diperlukan generasi penerus yang memiliki kompetensi tinggi, berdaya saing global, serta mampu beradaptasi terhadap kemajuan teknologi. Generasi Z, dengan karakteristiknya yang dinamis, inovatif, dan melek digital, menjadi bagian penting dari proses transformasi ini. Namun, perjalanan menuju Indonesia Emas tidak tanpa tantangan.
Salah satu masalah mendasar adalah ketimpangan akses terhadap teknologi dan pendidikan digital, terutama di wilayah-wilayah terpencil Indonesia. Kondisi geografis yang beragam dan infrastruktur yang belum merata menjadi hambatan dalam pemerataan kemajuan teknologi.
Dari permasalahan tersebut, muncul dua pertanyaan utama: bagaimana peran Generasi Z dalam mendukung perwujudan Indonesia Emas melalui kemajuan teknologi? Bagaimana strategi yang dapat dilakukan untuk mengatasi ketimpangan digital di Indonesia?
Generasi Z dikenal sebagai digital native — generasi yang lahir dan tumbuh bersama teknologi. Mereka terbiasa menggunakan perangkat digital sejak kecil dan memiliki kecepatan adaptasi terhadap perubahan teknologi yang sangat tinggi. Pendidikan abad ke-21 menuntut individu memiliki kemampuan berpikir kritis, kolaboratif, kreatif, dan komunikatif yang ditunjang oleh literasi digital. Generasi Z sudah memiliki modal besar untuk memenuhi tuntutan tersebut.
Selain itu, generasi ini juga cenderung terbuka terhadap hal-hal baru, berani bereksperimen, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Kombinasi antara kemampuan digital dan semangat sosial inilah yang menjadi kekuatan besar dalam mendorong perubahan di berbagai sektor, termasuk pendidikan, ekonomi, dan sosial budaya.
Salah satu sektor yang sangat penting dalam transformasi menuju Indonesia Emas adalah pendidikan. Generasi Z yang saat ini banyak berada di bangku kuliah atau baru lulus sekolah memiliki potensi besar untuk memanfaatkan teknologi sebagai alat bantu pembelajaran.
Melalui berbagai program kampus seperti Kuliah Kerja Nyata (KKN) berbasis digital, mahasiswa dapat menjadi agen perubahan dengan memperkenalkan teknologi kepada masyarakat di daerah yang masih minim akses. Penerapan digital learning yang setara dan berkeadilan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran serta membuka peluang bagi peserta didik dari berbagai latar belakang untuk mendapatkan pengalaman belajar yang sama.
Selain di dunia pendidikan formal, Gen Z juga berperan besar dalam menyebarkan semangat literasi digital kepada masyarakat luas melalui platform media sosial. Mereka dapat menciptakan konten edukatif, tutorial, atau kampanye sosial yang memperkenalkan pentingnya teknologi dengan cara yang menarik dan mudah dipahami.
Kemajuan teknologi tidak bisa dicapai hanya oleh satu pihak. Pemerintah perlu menjadi fasilitator utama dengan menyediakan infrastruktur digital yang merata, seperti jaringan internet cepat, perangkat pendidikan yang memadai, dan pelatihan literasi digital bagi tenaga pendidik di daerah.
Sementara itu, Generasi Z berperan sebagai pelaksana inovasi di lapangan. Melalui ide-ide kreatif dan pemahaman terhadap dunia digital, Gen Z dapat membantu pemerintah dalam mengembangkan solusi berbasis teknologi untuk berbagai permasalahan sosial, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga ekonomi kreatif.
Kemajuan teknologi tidak selalu membawa dampak positif. Di tengah derasnya arus informasi, muncul pula tantangan baru seperti penyebaran hoaks, cyberbullying, kecanduan media sosial, dan kejahatan siber. Untuk itu, literasi digital menjadi hal yang sangat penting dimiliki oleh setiap anggota masyarakat, terutama Generasi Z sebagai pengguna aktif teknologi.
Generasi Z perlu memiliki kemampuan untuk menyaring informasi, berpikir kritis, dan menggunakan teknologi secara etis. Mereka harus menjadi contoh bagaimana teknologi dapat digunakan untuk hal-hal yang produktif dan membangun, bukan sekadar hiburan atau konsumsi informasi yang tidak bermanfaat. Selain itu, pendidikan karakter digital harus diintegrasikan sejak dini agar generasi muda tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga beretika dalam menggunakannya.
Generasi Z memiliki peran strategis dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045 melalui kemampuan mereka dalam menguasai dan memanfaatkan kemajuan teknologi. Potensi besar ini harus diimbangi dengan pemerataan akses digital, peningkatan literasi teknologi, serta penguatan karakter dan etika digital. Kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan Generasi Z menjadi kunci utama dalam menciptakan masyarakat yang inovatif, cerdas digital, dan siap menghadapi tantangan global. Dengan sinergi yang kuat, visi Indonesia Emas dapat terwujud lebih cepat, menjadikan bangsa ini tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga berdaya secara teknologi dan manusiawi.(*)
Oleh Azizah Nurul Aini