Syawalan di Pekalongan lebih dari sekadar perpanjangan waktu untuk merayakan Idulfitri. Bagi masyarakat Kota Batik, Syawalan adalah sebuah tradisi istimewa, sebuah pesta rakyat yang ramai dan penuh makna, yang puncaknya ditandai dengan kehadiran sang pusat perhatian: Lopis Raksasa. Tepat seminggu setelah Lebaran, biasanya pada tanggal 8 Syawal, ribuan warga dari berbagai daerah akan berkumpul di kawasan Krapyak, Pekalongan Utara. Suasana menjadi sangat meriah oleh gema takbir, gelak tawa, dan semangat warga. Semua mata tertuju pada satu hidangan raksasa yang berdiri gagah, dibalut daun pisang dengan aroma khas ketan yang begitu menggoda.
Namun, keliru jika kita menganggap Lopis Raksasa ini hanya sebagai makanan enak berukuran super besar. Jauh di dalamnya, ia adalah lambang hidup dari persatuan, wujud nyata dari semangat gotong royong, dan ungkapan rasa syukur bersama masyarakat Pekalongan. Di balik rasanya yang manis dan teksturnya yang lengket, tersimpan makna yang dalam tentang bagaimana warga menjaga kebersamaan dan melestarikan warisan berharga dari para pendahulu mereka. Inilah kisah tentang lopis yang tidak hanya mengisi perut, tetapi juga menghangatkan jiwa dan mempererat tali persaudaraan.
Asal usul tradisi Lopis Raksasa ini bisa dilacak kembali hingga lebih dari 150 tahun yang lalu, berawal dari kebijaksanaan seorang ulama yang disegani, Kiai Haji Abdullah Siroj. Sekitar tahun 1855, beliau memulai tradisi ini bukan sebagai festival makanan, melainkan sebagai cara berdakwah melalui budaya yang cerdas. Di tengah masyarakat yang beragam, Kiai Abdullah Siroj melihat makanan bisa menjadi jembatan untuk menyampaikan nilai-nilai Islam yang damai dan menyatukan. Lopis dipilih karena bahan utamanya, yaitu beras ketan, yang setelah dimasak akan saling menempel erat. Ini menjadi gambaran sempurna dari pesan persatuan yang ingin beliau sampaikan. Tradisi ini pun dimulai sebagai cara untuk mempererat silaturahmi setelah bulan Ramadan.
Seiring berjalannya waktu, tradisi yang awalnya sederhana ini mengalami perkembangan yang luar biasa. Dari tahun ke tahun, perayaan Syawalan di Krapyak semakin dikenal, dan Lopis Raksasa pun menjadi lambang yang tidak bisa dipisahkan darinya. Ukuran lopis yang dibuat terus bertambah besar, bukan untuk pamer, melainkan sebagai cerminan dari semangat gotong royong warga yang semakin kuat. Jika dulu lopis dibuat dalam ukuran biasa, kini ukurannya bisa mencapai tinggi lebih dari 2 meter dengan berat hingga 2 ton, yang juga melambangkan rasa syukur yang semakin besar. Acaranya pun berkembang dari sekadar berbagi makanan menjadi sebuah upacara meriah yang melibatkan tokoh masyarakat dan pemerintah, mengubahnya dari tradisi kampung menjadi festival kebanggaan Kota Pekalongan.
Di balik kemegahan Lopis Raksasa, ada sebuah proses besar-besaran yang menjadi jantung dari seluruh tradisi ini. Pembuatannya adalah sebuah kerja sama yang luar biasa dan memakan waktu hingga tiga hari tiga malam. Proses ini dimulai dengan penyediaan bahan dalam jumlah sangat banyak—lebih dari 1,7 ton beras ketan pilihan, ribuan lembar daun pisang, dan kayu bakar yang melimpah. Puluhan warga, dari yang muda hingga yang tua, tulus ikhlas membantu dalam setiap tahapannya. Mereka mencuci beras ketan, membungkusnya dengan teliti ke dalam anyaman daun pisang, hingga merebusnya dalam sebuah panci raksasa yang dibuat khusus. Asap yang mengepul dari tungku seolah menjadi tanda bahwa semangat kebersamaan sedang dibangun. Di sinilah makna “perekat hubungan warga” benar-benar terasa, sama seperti sifat lengket ketan itu sendiri.
Puncak dari seluruh kerja keras tersebut adalah upacara pemotongan dan pembagian lopis. Suasana menjadi begitu ramai ketika lopis raksasa diarak ke panggung utama. Ribuan pasang mata menatap penuh kagum, menunggu saat-saat lopis akan dipotong. Kehormatan untuk melakukan pemotongan pertama biasanya diberikan kepada pejabat tinggi, seperti Wali Kota Pekalongan, yang didampingi oleh para tokoh agama dan keturunan Kiai Haji Abdullah Siroj. Ini adalah simbol kuat dari kerja sama yang erat antara pemerintah dan para tokoh agama dalam menjaga warisan budaya. Setelah potongan pertama, panitia dengan cepat membagikan irisan-irisan lopis kepada seluruh warga yang hadir secara gratis. Makna di balik pembagian ini sangatlah mulia: ini bukan hanya berbagi makanan, melainkan berbagi berkah, kebahagiaan, dan semangat persatuan.
Setiap bagian dalam Lopis Raksasa penuh dengan makna. Beras Ketan yang lengket adalah lambang utama dari persatuan yang tak terpisahkan. Rasa Manis dari saus gula merah dan gurihnya parutan kelapa menggambarkan manisnya hasil kebersamaan serta kebahagiaan menyambut hari kemenangan. Sementara itu, Ukuran Raksasa adalah gambaran dari rasa syukur yang besar kepada Tuhan, sekaligus cerminan dari besarnya semangat kebersamaan masyarakat. Seperti yang diungkapkan seorang panitia warga Krapyak Kidul, Gang 8 RT 3 RW 15, “Lelah kami terbayar saat melihat ribuan warga tersenyum bahagia.” Seorang warga lanjut usia menambahkan, “Bagi kami, ini bukan tentang makan, tapi tentang ngumpul bareng setahun sekali.” Bahkan anak muda pun merasa bangga, “Tugas kami adalah memastikan generasi selanjutnya juga mencintai tradisi ini,” ujarnya.
Lopis Raksasa Pekalongan adalah bukti nyata bahwa sebuah makanan tradisional bisa memiliki arti yang jauh lebih dalam. Ia adalah lambang kebersamaan yang dibangun dari semangat gotong royong, perekat hubungan antarwarga yang kuat, dan wujud rasa syukur yang mendalam. Setiap tahunnya, tradisi Syawalan ini tidak hanya menarik bagi pengunjung, tetapi yang lebih penting, ia berhasil menyatukan kembali hati dan semangat warganya dalam sebuah perayaan yang hangat dan penuh arti.
Sebagai bahan renungan, di tengah pengaruh zaman modern yang sering kali membuat orang lebih mementingkan diri sendiri, tradisi Lopis Raksasa berdiri sebagai pengingat betapa berharganya menjaga kebersamaan. Tradisi ini mengajarkan bahwa kekuatan terbesar sebuah masyarakat ada pada persatuannya. Harapannya, tradisi yang luar biasa ini akan terus dijaga, diwariskan dengan bangga ke anak cucu, dan selamanya menjadi pengingat bahwa kita adalah satu, sama seperti butiran ketan yang menyatu erat membentuk lopis yang megah.(*)
Oleh M. Zaki Ar Rosyid