Sekarang sampah menjadi persoalan serius di lingkungan perkotaan. Jumlah penduduk yang terus meningkat membuat banyak perubahan mulai dari perubahan pola konsumsi dan gaya hidup yang semakin konsumtif menyebakan volume sampah yang dihasilkan terus meningkat setiap tahunnya. Banyak masyarakat yang menggunakan produk hanya sekali pakai menghasilkan sampah rumah tangga banyak. Hal ini semakin memperparah keadaan karena kurangnya lahan untuk menampung semua sampah-sampah makannya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sudah sangat menumpuk. Apa yang terjadi sekarang malah semakin menambah persoalan baru seperti pencemaran air dan tanah, menyebabkan bau tak sedap dan risiko kesehatan masyarakat sekitar.
Dari data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK, 2020), Indonesia menghasilkan sekitar 67,8 juta ton sampah setiap tahun. Sebanyak 37,3% berasal dari kegiatan rumah tangga, 16,4% dari pasar tradisional, 15,9% dari kawasan tertentu, 14,6% dari sumber lainnya, 7,29% dari perdagangan, 5,25% dari fasilitas publik, dan 3,26% dari perkantoran. Hal – hal tersebutlah menggambarkan banyaknya sampah yang dihasilkan kegiatan sehari-hari, terutama kegiatan rumah tangga dan perdagangan. Kalau masalah ini tidak segera di tindak lanjuti dapat makin memperburuk keadaan lingkungan dan juga dapat menurunkan kualitas hidup masyarakat.
Dampak – dampak yang akan muncul kalau sampah tidak di kelola dengan baik, seperti penumpukan sampah bisa membuat terjadinya banjir ketika hujan turun karena banyaknya sampah yang menyumbat di saluran, sementara itu limbah padat yang dibuang sembarangan juga dapat mencemari air dan tanah yang nantinya ini bisa mempengaruhi risiko kesehatan masyarakat sekitar mulai dari gangguan pernapasan hingga masalah kulit dan bisa juga timbunan sampah yang membusuk bisa memunculkan bau tak sedap sehingga membuat masyarakat yang ada di sekitar tidak nyaman. Oleh karena itu pengelolaan sampah perlu diperhatikan Bersama.
Karena dampaknya yang begitu besar, perlu adanya upaya pengelolaan sampah yang eketif, inovati dan berkelanjutan. Salah satu caranya adalah dengan menerapkan konsep 3R, yaitu Reduce, Reuse, dan Recycle (WWF Indonesia, 2020). Konsep ini mendorong masyarakat untuk mengurangi penggunaan barang sekali pakai, memakai kembali barang yang masih bisa digunakan, dan mendaur ulang sampah yang bisa dimanfaatkan lagi. Dengan menerapkan konsep ini, masyarakat bisa mengurangi banyaknya timbunan sampah di TPA dan berperan dalam melestarikan lingkungan.
Untuk mengatasi persoalan ini, Pemerintah membuat salah satu inovasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat namanya adalah Progam Bank Sampah. Bank Sampah inilah tempat warga meyetorkan sampah yang masih bernilai untuk di pilah yang kemudian nantinya di olah atau dijual kembali. Program ini tidak hanya menjadi solusi mengurangi timbunan sampah tetapi juga mendorong perilaku masyarakat untuk peduli lingkungan. Makannya program ini akan berjalan maksimal bila masyarakat terlibat aktif dalam memilah limbah sampahnya dan sadar akan pentingnya mengurangi limbah sampah sejak dari sumbernya.
Sistem Pengelolaan Program Bank Sampah yang sudah banyak dijalankan hampir seluruh daerah di Indonesia dengan cara yang cukup sederhana namun efektif. Di daerah tempat tinggalku program ini berjalan cukup aktif. Pertama tama warga diminta untuk pilah mandiri terlebih dahulu sampah rumah tangganya sesuai jenisnya misalnya plastik, kardus, dan logam sebelum di bawa ke Bank Sampah. Setelah terkumpul sampah dibawa ke Bank Sampah lalu sampah ditimbang dan dicatat sebagai tabungan warga di Bank Sampah. Selanjutnya sampah yang sudah terkumpul banyak, dijual ke pihak pengepul atau industry daur ulang dan hasil penjualan dari sampah itu kembali ke warga dalam bentuk tabungan.
Adanya Program Bank Sampah ini selain memberikan dampak positif untuk lingkungan berupa mengurangi timbunan sampah, juga membantu mengurangi jumlah sampah yang dikirim ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir) tetapi juga bisa memberikan manfaat dari sisi ekonomi masyarakat. Warga yang menyetorkan sampahnya ke Bank Sampah mendapatkan uang. Hal ini lah yang menjadi motivasi terdorongnya masyarakat dalam aktif berpatisipasi memilah sampah dan juga secara tidak langsung menumbuhkan rasa peduli terhadap lingkungan. Selain itu pengelolaan sampah yang baik bisa mengurangi pencemaran tanah, air serta membantu mencegah penyebaran penyakit dan menciptakan lingkungan yang sehat.
Walaupun Program Bank Sampah ini punya banyak manfaat, tetapi penerapannya tidak selalu gampang. Salah satu tantangannya adalah masih ada masyarakat yang kurang kesadarannya untyuk tergerak memilah sampah. Edukasi dan sosialisasi mungkin juga penting banget diadakan supaya masyarakat yang belum tergerak hatinya lebih paham mengapa memilah sampah itu penting dilakukan. Selain itu juga bisa memberikan penghargaan untuk warga yang sering aktif berpatisipasi dalam pemilahaan sampah mendapatkan tabungan yang tinggi. Mungkin cara cara tersebut bisa mengatasi tantangan yang ada.
Menurut penulis, Program Bank Sampahlah yang menjadi solusi mengurangi timbunan sampah. Program ini bukan cuma membantu mengurangi tumpukan sampah di TPA tapi juga mendorong masyarakat untuk peduli lingkungan lestari. Keberhasilan bank sampah sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat dalam memilah dan menyerahkan sampah secara rutin, serta dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, lembaga swasta, dan organisasi lingkungan. Tanpa dukungan dari semua pihak, Bank Sampah tidak akan berjalan dengan maksimal. Dan manfaatnyapun untuk masyarakat dan lingkungan tidak begitu berpengaruh.
Secara keseluruhan, Bank Sampah terbukti menjadi solusi untuk mengurangi timbunan sampah sekaligus menumbuhkan kesadaran masyarakat agar lebih peduli lingkungan. Keberhasilan program ini tetap sangat bergantung pada partisipasi aktif warga dan dukungan dari berbagai pihak. Kalau semua pihak ikut terlibat, manfaatnya untuk lingkungan dan masyarakat pastinya akan jauh lebih terasa.(*)
Oleh Aisyah Nafiatunnisa