SUARA YANG DIBUNGKAM TANPA ARAH

                                                                                                                                                            Bullying di sekolah dasar merupakan fenomena yang mengkhawatirkan dan mempengaruhi banyak aspek kehidupan siswa. Artikel ini mengulas factor-factor penyebab bullying, dampak terhadap korban dan Strategi penanggulangan yang efektif. Rusaknya moral anak bangsa Adalah kalimat yang bisa menggambarkan situasi saat ini, ditengah kemajuan teknologi dan perkembangan zaman, Menyebabkan banyak peristiwa-peristiwa yang menunjukan penurunan moralitas dan nilai-nilai etika di kalangan anak-anak dan remaja (purwasih, 2023)Bullying di kalangan siswa sekolah dasar adalah masalah yang kompleks dan berdampak luas, termasuk ejekan yang melibatkan nama orang tua korban. Ejekan semacam ini dapat meninggalkan luka emosional yang mendalam dan mempengaruhi perkembangan sosial anak. Kasus ejekan nama orangtua ini masih dilakukan oleh anak sekolah di kalangan kanak-kanak sampai remaja. Seorang siswa  berinisial B sering mengejek temannya C, dengan menggunakan nama orang tua C. Setiap kali B bertemu dengan C, ia akan memanggil C dengan nama ayah atau ibu C dengan nada menghina. Ejekan ini membuat C merasa malu dan tertekan, terutama karena ejekan tersebut dilakukan di depan teman-teman sekelasnya.

Faktor-faktor Perilaku Bullying Menurut Ariesto (dalam Habsy et al., 2024), bullying tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling terkait dan membentuk pola perilaku agresif pada individu, khususnya anak-anak dan remaja. Setidaknya terdapat empat faktor utama penyebab bullying, yaitu faktor keluarga, sekolah, teman sebaya (peer group), serta tayangan media, baik televisi maupun media cetak.

  1. Faktor Keluarga yang bermasalah sering kali menjadi akar penyebab terjadinya bullying (Latifah, 2024). Faktor keluarga merupakan salah satu penyumbang terbesar terhadap perilaku bullying. Selama masa pertumbuhannya, anak-anak sering meniru tindakan orang tua mereka. Anak-anak mungkin melihat penggunaan kekerasan atau hukuman oleh orang tua sebagai pendekatan yang berhasil dan menirunya dengan teman-teman mereka. Selain itu, anak-anak juga dapat meniru perilaku tersebut karena mereka menganggap otoritas orang tua sebagai sesuatu yang menimbulkan rasa takut. Kurangnya pengawasan orang tua juga meningkatkan kemungkinan terjadinya bullying
  2. Faktor Sekolah kasus bullying sering kali terjadi di lingkungan sekolah dan melibatkan anak-anak usia sekolah (Ningtyas & Sumarsono, 2023). Banyak korban melaporkan kasus bullying kepada pihak sekolah, tetapi laporan tersebut sering kali diabaikan dan dianggap sebagai lelucon siswa semata. Kelalaian pihak sekolah ini dapat membuat pelaku bullying merasa lebih aman dan terdorong untuk melakukan tindakan serupa terhadap teman-temannya. Namun, ada juga situasi di mana sekolah tidak mengabaikan bullying tetapi justru memberikan sanksi yang tidak efektif. Beberapa pelaku bullying bahkan menikmati perhatian yang mereka terima, sehingga hukuman tersebut tidak selalu berhasil menghentikan mereka. Akibatnya, para pelaku bullying tidak pernah hidup tenang dan selalu terbayang bayang.
  3.  Faktor Teman Sebaya (peer group) Anak-anak mungkin terlibat dalam tindakan bullying saat bersosialisasi dengan kelompok teman mereka. Banyak dari mereka berperilaku seperti ini untuk diterima dan diakui oleh kelompok tertentu. Sebagai contoh, seorang siswa mungkin ingin bergabung dengan kelompok teman yang dikenal karena popularitas dan reputasinya. Namun, siswa tersebut mungkin harus memenuhi persyaratan tertentu, termasuk menunjukkan kekuasaan atas orang lain, agar dapat diterima. Karena alasan ini, siswa tersebut melakukan bullying terhadap orang lain dalam upaya untuk menyesuaikan diri dengan kelompok populer (Abdullah & Ilham, 2023).
  4.  Faktor Tayangan Televisi dan Media Cetak, beberapa acara menunjukkan tindakan kekerasan, seperti menendang, memukul, menyakiti, mengejek, atau memperolok orang lain. Hal ini dapat mempengaruhi cara anak-anak dan remaja memandang interaksi sosial dan mendorong mereka untuk meniru perilaku berbahaya tersebut dalam kehidupan sehari-hari, baik di dunia nyata maupun di dunia maya (Fadly, 2024). Dampak Bullying

Perilaku bullying. Maka menurut hasil pengamatan dapat diambil kesimpulan bahwa Semakin rendahnya kemampuan anak dalam meningkatkan sikap toleran.

kemampuan Sosial emosionalnya dan sebaliknya. Semakin tinggi perilaku bullying maka semakin menurun. Juga perkembangan sosial emosional anak usia dini

Strategis Penanggulangan

1. Face to face komunikasi antar Pihak.

2. Trust building membangun kepercayaan.

3. Commitment to process: menjalankan kerjasama/komitmen.

4. Share understanding pemberian pemahaman

Upaya untuk mengatasi masalah bullying melibatican pendidikan, kesadaran, komitmen, dan kerja sama dari semua pihak termasuk sekolah, orang tua, siswa dan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

https://scholar.google.com/scholar?hl=id&as_sdt=0%2C5&q=artikel+masalah+geng+pada+anak+sd+kelas+5&btnG=&rlz=#d=gs_qabs&t=1720355358052&u=%23p%3DNScVwNfGxJMJ

Latifah, R. A. (2024). Faktor–Faktor Psikologis Penyebab Perilaku Bullying. Blantika:

            Multidisciplinary Journal, 2(6), 657-666.

Habsy, B. A., Alamsyah, A. D., & Maula, A. I. A. (2024). Studi Literatur Tentang Fenomena

              Bullying di Jawa Timur. Al-Isyraq: Jurnal Bimbingan, Penyuluhan, dan Konseling

              Islam, 7(1), 129-140.

Ningtyas, P. V., & Sumarsono, R. B. (2023). Upaya Mencegah Bullying Anak Usia Sekolah

              Dasar Melalui Sosialisasi. Jumat Pendidikan: Jurnal Pengabdian Masyarakat,         

              104-108.

Abdullah, G., & Ilham, A. (2023). Pencegahan Perilaku Bullying Pada Anak Usia Sekolah

               Dasar Melalui Pelibatan Orang Tua. Dikmas: Jurnal Pendidikan Masyarakat dan

               Pengabdian, 3(1), 175-182.

Fadly, D. (2024). Tantangan Bagi Perkembangan Psikososial Anak dan Remaja di Era

               Pendidikan Modern: Studi Literatur. Venn: Journal of Sustainable Innovation on

               Education, Mathematics and Natural Sciences, 3(2), 66-75

Nama : Ervina Anindya sevana

  Nim : 2502020159