Menyelami Kekayaan Rasa dan Cerita Kuliner Bangka Belitung

Matahari baru saja naik dari sebelah timur dan aroma laut pun menyapa hidung di pelabuhan Pangkalbalam, Pangkalpinang. Di antara nelayan yang sibuk menurunkan hasil tangkapan terdapat beberapa perempuan membawa ember berisi ikan tenggiri dan kerapu segar. Di tangan-tangan mereka, ikan bukan sekedar hasil laut, melainkan bahan dasar bagi kuliner khas Bangka Belitung yang kaya akan rasa dan cerita. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memang terkenal dengan keindahan pantainya yang mempesona. Namun, tersimpan kekayaan kuliner yang tak kalah memikat. Makanan disini bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang sejarah, budaya, dan identitas masyarakat pesisir yang hidup berdampingan dengan laut sejak ratusan tahun yang lalu.

Tak ada kuliner yang lebih identik dengan Bangka Belitung selain lempah kuning. Dari dapur sederhana hingga ke restoran modern, aroma kuah kuningnya yang beraroma harum kunyit dan lengkuas selalu menjadi penanda khas. Lempah kuning dibuat dari ikan laut seperti ikan tenggiri, ikan kerapu, atau ikan kakap yang dimasak dengan bumbu rempah sederhana seperti kunyit, cabai, lengkuas, bawang merah, bawang putih, dan terakhir ditambah dengan sentuhan rasa asam dari cairan air asam jawa. Warna kuning yang cerah, kuah yang segar sekaligus pedas, dan rasa yang seimbang antara rasa gurih dan rasa asam.

“Kalau kami orang Bangka, lempah kuning itu makanan harian. Tapi setiap keluarga punya versi sendiri-sendiri, ada yang ditambah nanas biar segar dan ada juga yang pakai udang rebon sebagai bahan pelengkapnya.” kata Bu Sari, penjual lempah di Pasar Pagi Pangkalpinang.

Tak hanya menggugah selera, setiap suapan lempah kuning seperti membawa kita pada perjalanan panjang masyarakat Bangka yang bergantung pada laut. Kuahnya mereprsentasikan keseharian mereka sederhana, tapi penuh kehangatan. Tak berlebihan jika lempah kuning disebut jiwa dari kuliner khas Bangka Belitung.

Perjalanan kuliner berlanjut ke kota kecil yang bernama Koba, kurang lebih sekitar dua jam dari Kota Pangkalpinang. Di tepi jalan terdapat warung-warung sederhana dengan papan bertuliskan “Mie Koba Iskandar” atau “Mie Koba Asli” berjejer rapi. Dari dapur mereka, aroma kaldu ikan yang gurih, menggoda siapa pun yang melintas. Hidangan ini terpengaruh dari tradisi kuliner Tionghoa, namun diadaptasi dengan bahan-bahan lokal.

Kuah yang bening, karena dibuat dari rebusan kepala ikan tenggiri dengan sedikit rempah, menghasilkan rasa gurih yang lembut. Mie-nya dibuat secara tradisional, tanpa bahan pengawet, dengan tekstur lembut dan sedikit kenyal. Dilengkapi dengan suwiran ikan tenggiri, tauge, irisan daun seledri, dan taburan bawang goreng. Setiap sendoknya menghadirkan rasa yang lembut berpadu dengan gurihnya kaldu ikan. Masyarakat setempat punya kebiasaan menambahkan sedikit perasaan jeruk kunci sebelum disantap. Aroma jeruk yang segar membuat rasa Mi Koba semakin hidup. Meski sederhana, tetapi Mie Koba meninggalkan kesan lebih mendalam seperti keramahan masyarakat Bangka yang apa adanya, namun hangat menyambut siapa pun yang datang.

Sore menjelang di pantai Sungailiat. Di deretan kios kayu yang menghadap laut, asap tipis mengepul dari tungku pembakaran. Di atas bara arang, deretan otak-otak panggang sedang matang perlahan. Daun pisangnya mulai mengering, mengeluarkan aroma harum yang khas perpaduan antara ikan, santan, dan asap kayu.

Otak-otak Bangka memang berbeda dari daerah lain. Adonannya dibuat dari ikan tenggiri yang dicampur dengan tepung sagu dan santan, kemudian dibungkus daun pisang dan dipanggang diatas arang panas. Menghasilkan tekstur lembut berpadu dengan aroma daun pisang yang sedikit gosong, menghadirkan rasa gurih alami tanpa perlu tambahan saus yang berlebihan. Bagi masyarakat Bangka, otak-otak bukan sekedar cemilan. Otak-otak adalah bagian dari kenangan masa kecil, hingga oleh-oleh wajib wisatawan. Setiap gigitan menghadirkan rasa yang akrab dan hangat seolah menyimpan kenangan tentang rumah.

Jika otak-otak adalah aroma, maka kemplang adalah bunyi. Bunyi “kres” yang renyah ketika digigit adalah musik tersendiri bagi lidah orang Bangka. Kemplang merupakan kerupuk ikan khas Bangka yang dibakar. Bahan dasarnya yaitu ikan tenggiri, tepung sagu, dan garam. Adonan dipipihkan, dijemur, lalu dibakar di atas bara panas hingga mengembang dan kering. Proses tradisional ini memberi rasa gurih alami serta aroma ikan yang cukup kuat. Biasanaya, kemplang disajikan bersama sambal cuka merah pedas manis yang menjadi pasangan sempurna. Rasa gurih, asam, pedas, dan renyah berpadu jadi satu sebuah harmoni rasa.

Tak lengkap membicarakan kuliner Bangka tanpa menyebut lada putih. Sejak zaman kolonial, Bangka sudah dikenal sebagai penghasil lada terbaik. Butiran kecil ini menjadi bumbu wajib di hampir setiap masakan. Lada Bangka memiliki aroma yang cukup tajam, rasa hangat yang khas, dan sensasi pedas yang tidak menusuk. Dalam lempah, sup, atau ikan bakar, lada putih selalu hadir memberikan karakter kuat.

Namun bagi orang Bangka sendiri, lada bukan sekedar rempah, tetapi simbol kekayaan alam dan ketekunan. Hingga kini, lada Bangka menjadi salah satu komoditas ekspor unggulan Indonesia. Namun bagi orang Bangka sendiri, lada tetap bagian dari keseharian hadir di meja makan sederhana, menyatu dalam masakan rumah yang penuh cinta. 

Malam tiba perlahan di tepi pantai Parai Tenggiri. Dari kejauhan terlihat lampu kapal para nelayan berkelap-kelip seperti bintang di atas laut. Di warung kecil dekat dermaga ada seorang ibu menyajikan sepiring nasi hangat dengan lempah kuning, dan sepiring sambal terasi. Uapnya naik, membawa aroma yang menyenangkan. Sambil menyantapnya terasa jelas bahwa kuliner Bangka Belitung adalah cerminan jiwa masyarakatnya sederhana tetapi kaya rasa. Di setiap gigitan, memberikan kenangan menyenangkan tentang Bangka.

Nama      : Siti Nabilah AP

NIM        : 2502020138

Rombel   : 4 (empat)