Syair Kedamaian dari Rowo Gembongan

Oleh Alifta Nadila

        Aku adalah mahasiswi Unnes yang berasal dari daerah… Ada yang bisa menebak? Yah, aku berasal dari daerah yang sangat pelosok, yaitu Kecamatan Kaloran. Sebelumnya, yuk kenalan dulu dengan Kecamatan Kaloran supaya tidak penasaran. Jadi, Kecamatan Kaloran merupakan salah satu Kecamatan yang berada di Kabupaten Temanggung dan Kecamatan Kaloran sendiri merupakan perbatasan antara Kabupaten Temanggung dengan Kabupaten Semarang. Emang gak malu ya rumahnya di pelosok? Eits, jangan salah, justru aku sangat bangga dengan tanah kelahiranku ini, di mana di tanah kelahiranku ini banyak sekali wisata yang bisa kita kunjungi. Mau tahu apa aja wisatanya? Salah satu wisata yang menarik adalah Rowo Gembongan yang terletak di Kecamatan Kaloran.

        Yakin ga penasaran dengan asal-usul Rowo Gembongan? Kalau aku pribadi sih sangat penasaran. Mari kita mengenal latar belakang Rowo Gembongan. Jadi di kaki perbukitan hijau Kecamatan Kaloran, Temanggung, terdapat sebuah danau alami bernama Rowo Gembongan. Yang katanya dulunya adalah kawasan rawa biasa yang terbentuk dari genangan air hujan dan aliran kecil dari sekitar perbukitan di sekitar Kaloran.

          Awalnya, masyarakat Kaloran memandangnya sebagai tempat tenang tanpa nilai ekonomi, namun seiring berjalannya waktu, masyarakat Desa Tegowanuh melihat potensi besar dari rawa tersebut. Dengan dukungan BUMDes Maju Sejahtera, rawa itu dirawat dan dikembangkan menjadi destinasi wisata desa, sehingga rawa ini dikenal oleh banyak orang dengan julukan romantis “Danau Cinta”. Hah, Danau Cinta? Kok bisa sih? Karena suasana senja di tepi danau yang begitu memikat. Dari rawa sederhana, Rowo Gembongan mampu bertransformasi menjadi danau wisata dengan perahu keliling, gazebo, dan spot foto yang menarik.

          Tentunya kehadiran wisata ini sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar, bukan sekadar mempercantik wajah desa, tetapi juga membuka peluang usaha bagi warga. Loh, kok bisa? Tentu bisa dong, mulai dari kuliner lokal hingga jasa wisata, sekaligus memperkuat ikatan sosial melalui pengelolaan gotong royong. Kira-kira wisata ini mengandung cerita mistis apa engga ya? Emmm… seperti umumnya tempat wisata alami di Jawa, Rowo Gembongan juga dipercaya menyimpan kisah mistis tentang penunggu gaib yang menjaga ketenangan danau, menambah nuansa yang membuat pengunjung semakin penasaran. Kini, Rowo Gembongan berdiri sebagai bukti bahwa alam dan masyarakat bisa berjalan beriringan, menjelma menjadi ikon wisata Kaloran yang memikat hati sekaligus menghidupkan kembali semangat ekonomi desa.

          Perjalanan menuju Rowo Gembongan terasa seperti melangkah ke halaman puisi.Kok halaman puisi? Soalnya jalanannya berliku, udara dingin yang terasa menembus tulang, dan hamparan sawah hijau yang seolah melambai-lambai. Aku sempat berpikir, seandainya sawah bisa berbicara seperti manusia, mungkin ia akan berkata: “Selamat datang, jangan lupa mensyukuri nikmat Tuhan.”

          Ada yang masih bingung akses lokasi Rowo Gembongan?Yuk kita bahas akses menuju lokasi. Dari pusat Kabupaten Temanggung, perjalanan ke Rowo Gembongan memakan waktu sekitar 30–40 menit dengan kendaraan bermotor. Jika dari arah Semarang, perjalanan bisa ditempuh sekitar 1,5 jam melewati jalan berliku yang penuh dengan pemandangan sawah dan perbukitan hijau. Meski jalannya agak sempit, justru di situlah letak pesonanya karena setiap tikungan seperti mengantar kita ke halaman baru sebuah puisi alam.

          Penasaran enggak gimana perasaan aku saat di sana? Aku merasa semua beban pikiran hilang tanpa membekas sedikit pun di pikiranku. Sesampainya di tepian rawa, mataku langsung terpikat oleh genangan air yang begitu tenang seperti hatiku. Menikmati udara yang sangat sejuk membuatku lupa waktu. Memandang pantulan langit biru membuat hatiku serasa ikut bergetar. Rasanya seperti mengingatkanku untuk selalu bersyukur. Saat aku menatap sekeliling rawa, dalam hati aku selalu mengucapkan kalimat “subhanallah”. Pohon-pohon hijau dan kicauan burung membuat suasana semakin tenang.

          Angin yang berhembus lembut membawa aroma tanah basah. Aku menarik napas panjang, lalu aku pun tersenyum. Ada rasa damai yang meresap, meski sesekali terdengar suara anak kecil berteriak: “Ibuk, fotoin aku biar kayak artis TikTok!”. Ada juga yang

teriak-teriak saking senangnya naik perahu. Namun, ini tidak mengubah ketenangan hatiku. Aku berpikir bahwa damai memang kadang datang dari sebuah kisah yang lucu.

          Rasanya aku tak bosan mengamati rawa ini. Bentuknya kayak beda dari rawa-rawa pada umumnya. Kalau aku amati, terus bentuk rawa ini berbentuk seperti hati. Aku ingat kembali asal-usul rawa ini yang dulunya orang-orang menyebutnya Danau Cinta. Apa rawa ini dulunya diberi nama Danau Cinta karena bentuknya seperti hati, ya? Aku melanjutkan menikmati genangan rawa, lalu aku berkata dalam hati: “Kalau cinta sebesar ini, semoga tidak tenggelam di tengah jalan.” Aamiin.

          Di tempat ini banyak sekali fasilitas wisata yang dapat kita nikmati.Sesampainya di lokasi, pengunjung tidak perlu khawatir soal fasilitas. Area parkir cukup luas untuk menampung kendaraan roda dua maupun roda empat. Di sekitar Rowo Gembongan, terdapat gazebo yang bisa digunakan untuk bersantai, warung makan sederhana yang menjual kuliner lokal seperti mi ayam, bakso, dan gorengan, serta beberapa penjual minuman segar. Bagi yang ingin menikmati suasana lebih lama, ada penginapan sederhana di desa sekitar Kaloran, sehingga wisatawan bisa merasakan kehidupan pedesaan yang hangat.

          Melihat banyak pengunjung yang bersukaria naik perahu keliling rawa. Kamu pingin ya? Ya jelas, siapa yang rela melewatkan momen naik perahu keliling rawa? Kalau sudah main ke sini, sayang banget kalau tidak keliling rawa naik perahu. Akhirnya aku mencoba naik perahu dan mulai mengelilingi rawa dengan penuh rasa bahagia. Aku merasakan ayunan dayung yang bergerak pelan, menciptakan gerakan air yang menenangkan. Tapi jujur, aku sempat khawatir kalau perahu ini bocor, apakah aku akan jadi bahan berita lokal dengan judul “Wisatawan tenggelam karena terlalu romantis”?

          Di tengah rawa, aku berhenti sejenak. Menatap sekeliling, aku merasa dunia begitu luas. Ada rasa syukur yang mengalir, meski di kepala aku sempat muncul pikiran yang tidak masuk akal. Aku sempat berpikir, apa iya kalau kita berdoa di Danau Cinta ini kita bisa mendapatkan orang yang kita cintai? Lalu aku memberanikan diri untuk berteriak ‘‘aku cinta kamu”. Setelah kalimat itu keluar dari mulutku, tiba-tiba aku merasa takut dan malu jika ada orang yang mengenalku dan mendengar teriakanku. Tapi ya sudahlah, yang penting aku sudah merasakan betapa serunya berteriak sambil naik perahu di tengah rawa.

          Kira-kira kapan ya waktu terbaik ke Rowo Gembongan? Kalau menurut aku nih,waktu terbaik datang ke Rowo Gembongan adalah pagi hari untuk merasakan udara segar yang menyejukkan, atau sore menjelang senja untuk menikmati panorama romantis “Danau Cinta” dengan semburat jingga di permukaan air. Jangan lupa membawa kamera atau ponsel dengan baterai penuh, karena banyak spot foto menarik yang sayang dilewatkan. Namun, jika kamera mati seperti yang pernah aku alami, biarlah kenangan tersimpan di hati—kadang memori batin lebih indah daripada galeri digital.

          Karena terlalu seru, aku jadi lupa waktu. Senja sudah mulai datang perlahan, menciptakan semburat jingga di permukaan air. Suasana ini membuatku tambah bersyukur atas ciptaanmu. “Indah sekali ya Allah,” kataku dalam hati. Karena aku terlalu bersyukur melihat ciptaan Allah, aku sampai tidak sadar kalau hampir menitikkan air mata, tapi buru-buru menahan. Bukan karena aku tidak lagi bersyukur, tapi aku takut dikira orang bahwa aku baru putus cinta.

          Mataku kembali memandang tepian rawa. Banyak pengunjung duduk santai. Ada yang makan camilan, ada yang sibuk selfie, dan ada. Juga yang heboh naik perahu. Aku pun duduk di atas tikar, menikmati suasana. Rasanya hangat, meski aku hanya datang bersama tanteku. Aku mencoba mengambil foto buat kenangan yang mungkin tidak bisa terlupakan. Walaupun kamera tidak pernah bisa menangkap rasa damai yang aku rasakan. Tiba-tiba kamera yang aku bawa mati. Aku menyerah tanpa mencoba untuk membetulkannya dan tidak lagi mengambil foto. Lalu dalam hati aku berkata: “Biarlah kenangan ini tersimpan di dalam memori, bukan di galeri.”

           Jalan-jalannya udah seharian kan,habis ini berarti pulang?Aku lanjutin dulu ceritanya ya.Jadi,sebelum pulang, aku duduk di bangku kayu. Aku mencoba untuk menutup mata, mendengarkan suara alam seperti gemericik air, desiran angin, dan tawa pengunjung.

Rasanya seperti menonton konser gratis, hanya saja tanpa tiket dan tanpa penyanyi yang lupa lirik.Rasanya masih mau lama-lama di sana, namun malam akan segera datang.Dengan rasa berat hati, aku meninggalkan tempat yang penuh keindahan itu dan membawa pulang kenangan yang menyenangkan.

            Bagiku, perjalanan ke Rowo Gembongan bukan sekadar wisata. Ia adalah puisi yang hidup, penuh keindahan dan sedikit kelucuan. Aku pulang dengan pikiran jernih,senyum kecil,dan segenggam harapan agar bisa datang ke tempat ini lagi. Aku sadar kadang, kebahagiaan itu sederhana seperti duduk di tepi rawa, tertawa pada diri sendiri, lalu berkata, “Hidup ini indah, meski kadang tidak sesuai apa yang kita harapkan.” (*)