Oleh Callista Salwa Hafiza
Pindah berkala rumah ke rumah
Mengambil pelajaran jika berpisah
Jikalau suatu saat berujung indah
Catat nama kita dalam sejarah
(Rumah ke Rumah – Hindia)
Aku termenung saat mobil putih khas SMA-ku melaju melewati jalanan kelabu. Sore itu, suasana terlalu ramai untuk bisa kuutarakan, terlebih rasa penat yang mengikat tubuh membuatku termenung sepanjang jalan. Kuda besi berlalu-lalang dengan bau yang khas tatkala jendela kubuka lebar—dihadiahi dengusan kesal temanku yang duduk tak jauh dari jendela. Pening menghantam kepala, namun ada rasa bahagia yang tak kunjung hilang setelah sekian lama. Aku duduk termenung dengan mata yang setengah terkatup. Binar mata menelisik setiap sudut desa yang terasa sangat familier. Aneh rasanya, baru kali ini aku merasa tak sabar untuk segera melepas penat di sebuah ruang beratap dengan hangat dan suasana yang tak kunjung pudar ditelan waktu.
Setiap sudut desa, toko kelontong milik sahabat Ibuk, hingga pos ronda yang selalu ramai oleh Bapak-Bapak yang sedang bersenda gurau diselingi asap rokok yang mengudara. Di tengah Desa Margosari—sebuah desa asri di daerah Kendal—letak rumah yang selalu menjadi tempat pulang di saat dunia sedang tidak baik-baik saja. Bahkan di tengah lelah dan rasa kantuk yang menyerang, aku masih mengingat jelas letak jalan yang berlubang sebelum memasuki pelataran rumah. Dengan jelas aku memperhatikan kursi yang berada tak jauh dari pintu masuk. Biasanya, Bapak akan berleha-leha sembari menyeruput kopi hitam pekat. Bibirku membentuk lengkungan kecil; senyum merekah ketika aku melangkah keluar dari mobil. Selalu seperti ini, rasa tenang menerobos relung jiwa yang telah lelah itu. Hanya rumah yang dapat mengambil rasa lelahku begitu cepat.
Aku segera menapakkan kakiku di pelataran rumah, masa bodoh dengan suara bising dari motor pemotong rumput yang sedang Bapak gunakan di kebun. Mungkin aku ingin sedikit memberi Bapak kejutan—tak ingin ia tahu bahwa aku membawa suatu kabar gembira. Toh, mungkin saja dia lebih memilih untuk tahu pada saat-saat terakhir daripada ketika ia sedang memotong rumput.
Hal yang pertama aku dapati adalah sepatu putihku yang kotornya melebihi kaus kaki Bapak telah bersih layaknya baru. Mungkin setelah ini Ibuk akan memarahiku karena aku lupa mencuci sepatu itu, padahal ia telah mengingatkanku sejak seminggu yang lalu. Memikirkannya saja membuatku merinding, namun aku lebih memilih untuk mengabaikan sepatu itu—untuk saat ini —dan memilih melenggang masuk. Ruang keluarga terasa sepi; hanya ada layar lebar dengan kartun buatan Malaysia yang menyambutku pertama kali. Tidak heran tagihan listrik melonjak tinggi. Namun, indra penciumanku menangkap wangi khas pedas bercampur syahdunya rempah yang berasal dari sisi kananku. Ibu tengah bergelut dengan masakannya lagi. Seketika kakiku terbawa oleh senandung merdu yang dinyanyikan Ibuk. Dari sisi kanan ruang keluarga terasa lebih hidup daripada biasanya.
“Assalamu’alaikum,” salam bergema di ruang dapur. Ibuk tidak menoleh sama sekali, mengingat ia sangat hafal dengan kehadiranku sebelum aku sempat mengucapkan salam atau sekadar mengagetkannya. Aku segera mendudukkan diri di kursi, kakiku telah digerogoti rasa penat dan semut-semut nakal.
Ibuk hanya menggeleng sembari tangannya lihai mengaduk sesuatu di panci besarnya itu, “Wa’alaikumussalam. Kamu iki lho, dibilangin kok ngeyel. Kan Ibuk udah berapa kali bilang kalau sepatumu itu kotornya melebihi kaos kakinya Bapak. Mbok yo aja ngeyel.”
“Hehe, lupa, buk.”
“heha hehe terus. Ibuk ki lho yang nyuci—”
Ucapan Ibuk seketika terpotong; matanya terpaku pada benda bertingkat berwarna emas yang bertengger di atas meja makan—di tengah dapur itu. Mungkin Ibuk lupa atau bahkan tidak menyangka aku membawa pulang suatu penghargaan yang pertama kali aku dapatkan di bangku SMA ini. Piala kemenangan, juara dua lagi. Sesekali ia akan melirik ke arahku dengan tatapan bingung serta alisnya yang mengernyit tanda sedang memproses apa yang sebenarnya terjadi. Kali ini aku tidak pulang dengan tangan kosong, malahan membawa sebuah piala kemenangan dan sertifikat dengan uang tunai yang tertera. Tidak menyangka, mungkin tidak tahu menahu bagaimana aku bisa memenangkan kejuaraan tersebut.
“Loh? Kok ngga bilang ke Ibuk dari tadi!” Guratan tegas di wajahnya perlahan menghilang, tergantikan oleh senyum merekah tanda kebanggaan. Tak lupa, Ibuk segera mematikan kompor dan mencuci tangan, takut jika pedasnya sambal masih melekat di tangan kasarnya itu.
Aku berdiri menyandar pada tembok, harum wangi khas masakan Ibuk tercampur dengan aroma penguk akibat keringat yang menempel di seragam. Biasanya Ibuk akan marah. Namun, ketika ia merengkuhku, aku tak lagi banyak bicara seperti biasanya. Dagu kutumpukan di pundaknya yang kokoh itu. Mungkin Ibuk sedikit emosional melihat anaknya akhirnya pulang membawa sesuatu yang bisa ia banggakan. Senyum perlahan merekah dari sudut bibirku, mengikis guratan kasar yang terukir indah di antara alis. Piala itu rasanya sudah tidak ada makan harfiah karena sejatinya penghargaan terbesarku adalah ketika aku bisa membanggakan Ibuk maupun Bapak. Tanganku kembali terulur, kini membalas pelukan hangat yang aku dapatkan dari Ibuk.
“Eh, buk, kok tiba-tiba gini sih? Harusnya kan aku disambut pakai karangan bunga.” Kalimat tersebut langsung dihadiahi sentilan pada keningku, membuatku mendengus sebal sembari bibir mengerucut.
Ibuk hanya bisa tertawa—mungkin karena wajahku yang terlihat menyebalkan atau ucapanku terdengar lucu di telinganya. Namun, tidak menutup kemungkinan jika penyebabnya adalah euforia kecil di hatinya, matanya tak lupa menelisik setiap sudut piala bertingkat dengan saksama. Sore itu, rasa hangatnya melebihi hari biasanya. Tawa Ibuk yang menggema, aroma sambal yang menusuk indra penciuman, hingga suara motor pemotong rumput yang masih Bapak gunakan di halaman. Hanya satu kemenangan kecil, namun dapat meninggalkan kesan manis yang berbekas di dalam hati dan mungkin segala kemungkinan yang aku harapkan akan berubah manis seperti ini.
Tangan Ibuk terulur untuk mengambil piagam kemenangan, disapunya dengan jari-jari yang lembut gemulai. “Ibuk senang lihat kamu berhasil meraih apa yang kamu harapkan. Satu kemenangan sudah cukup membuat Ibuk bangga, Nduk.”
“Jadi, sepatuku aman, kan, buk? Aku ngga usah nyuci ulang lagi to?”
“Iyo, aman. Untung bawa piala, kalau ndak yo wis nyuci piring kamu sekarang.”
Rasa lelah perlahan terangkat dari pundak, menikmati setiap tawa ceria yang keluar dari kedua insan yang sedang dipeluk euforia. Tangan Ibuk masih setia bertengger di pundakku, mengelusnya lembut dengan mata terpaku pada piala kebanggaanku—untuk saat ini. Tentu saja aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. mungkin ini pertama kalinya aku melihat perempuan yang amat aku cintai terlihat ceria. Bahkan setelah ia mencuci sepatu yang bau itu. Namun tak masalah, toh, aku benar-benar terbebas dari hukuman mencuci piring.
Tentu saja kami terlalu lama tertawa sehingga tidak sadar Bapak sudah berdiri di dekat pintu dapur, menatap kami dengan tatapan jahil. Ya, ia sudah menangkap benda berwarna emas yang berada di meja. Mungkin Bapak juga ingin bergabung dengan hangatnya suasana dapur sore itu. Aku tertawa—benar-benar tertawa menatap Bapak yang mendekati meja dan menyeruput teh hangatnya itu. Aroma rumput dan keringat—nyatanya sukses membuat Ibuk mengernyit tidak senang. Tapi untuk saat ini? Mungkin Ibuk akan membiarkannya seperti itu daripada merusak hawa hangat sore itu.
“Kok yo ndak ngabari Bapak sek to, nanti kan bisa dijemput daripada pulang pakai mobil SMA,” kata Bapak sembari duduk di meja makan, matanya menyeberang ke arahku sebelum menyeruput teh hangatnya lagi—kali ini senyum terpatri indah di wajah lelahnya.
“Lho, kan mau surprise dong, Pak! Masa dijemput, nanti tahu duluan dong!”
Aku tertawa sembari menghampiri Bapak yang sudah duduk manis di kursi kebanggaannya itu. Oh iya, Bapak selalu suka duduk di kursi dekat pintu—katanya ia merasa seperti tuan rumah yang berkuasa. Tanganku meraih piagam penghargaan dengan hati-hati sesaat setelah aku duduk di sebelah Bapak, meneliti setiap tulisan serta tekstur kertas yang terasa asing. Mereka bahagia, kan? Mataku mulai menatap Ibuk dan Bapak dengan tatapan senang. Segala usahaku terbayarkan.
Bapak mengambil lintingan rokok dari sakunya—sukses membuat Ibuk melenggang pergi untuk menyelesaikan masakannya. “Nduk, jangan lupa disyukuri segala pencapaianmu itu.” Asap rokok itu sedikit menyesakkan, namun kali ini Bapak tidak bergeming walaupun mendapat decakan sebal dari Ibuk. “Bapak tahu usahamu, yang pulang sehabis magrib cuman untuk les, larut malam masih terjaga karena materi-materi itu. Tetap dipertahankan, ya? Usahamu selalu Bapak kenang.”
Entah mengapa mataku tiba-tiba berkaca-kaca, mungkin saja terharu. Atau mungkin merasa usahaku kali ini berhasil. Aku tak ingin menangis—perempuan seperti diriku tidak pantas menangis setelah berceloteh lama dengan Ibuk dan melontarkan candaan receh itu. Senyum tetap mengembang, tanpa sadar tanganku meraih piala yang aku rasa menutup setiap sudut meja saat Ibuk menata makanan dengan ringkas. Rasanya asing, rasa hangat yang selama ini aku impikan—kali ini aku raih dengan mudah. Sore itu, suasana rumah kembali hidup, kembali hangat seperti layaknya saat aku melangkahkan kakiku pertama kali atau sekadar menceritakan bagaimana ibu guru memujiku karena aku pandai matematika saat di bangku sekolah dasar itu. Terlalu hangat, terlalu sukar untuk dilupakan. (*)