Oleh Uemura Farrel Ahnaf
Pada bulan Maret 2024 di sebuah tempat Bernama asmaraloka. Kini aku sedang menatap tajam seseorang yang mengaku sebagai paman Black. Semangatnya begitu membara ketika menyuarakan isu-isu pendidikan. “Bagaimana bisa di negeri yang mengaku kaya ini yang bisa kubanggakan hanyalah seorang ibu?” kata Paman Black.
Aku pun hanya bisa terdiam ketika mendengar kritik pedas sepedas cunguk yang ia utarakan. Pada waktu itu, yang aku pikirkan adalah mengapa di Pulau Jawa ini, yang bahkan lebih maju dibandingkan dengan Papua, warga pulanya masih khawatir mengenai hak mereka. Di sini tak hanya aku, teman-teman yang senasib denganku yang benci adanya pungli di sekolah pun ikut mendengarkan dengan geram dan penuh semangat.
Pada masa itu kami rutin untuk mengkritik segala macam Keputusan kontroversial yang dibuat oleh para petinggi sekolah, kami menyebut mereka 5 bajingan. Uang sumbangan yang tak masuk akal sampai kekerasan verbal menjadi isu yang terus kami gema, bahkan kami sampai mendatangkan beberapa aktivis yang giat menggemakan isu pendidikan. Semuanya berjalan dengan baik pada awalnya, sampai pada akhirnya para petinggi sekolah merasa terganggu oleh fakta yang terus kami suarakan. Hadiah terakhir yang kami berikan sebagai kenang-kenangan adalah postingan propaganda mengenai kebobrokan sekolah kami yang diunggah di Instagram. Biarlah kami dianggap sebagai alumnus tak tahu diri, mereka yang berkata seperti itu berpotensi menjadi anjing penjilat penguasa yang bobrok. Biarlah Tuhan yang menilai mana yang benar dan mana yang salah. Itulah kisah awalku dengan tempat bernama Asmaraloka.
Setelah banyak huru-hara di Kedai Asmaraloka, kedai pun terpaksa dinonaktifkan atas dorongan berbagai pihak. Aku menilai mereka sebagai orang yang antikritik terhadap pandangan yang berbeda. Orang-orang seperti mereka akan hidup dalam situasi yang damai namun palsu. Itulah cerita awalku mengenai Asmaraloka. Ceritanya akan kulanjutkan dari awal karena Asmaralokaku akan buka kembali dengan wajah yang berbeda dan semangat yang lebih membara.
Pada bulan Mei tahun 2025, waktu itu aku mendengar Asmaraloka ternyata telah dibuka kembali. Aku pun berkunjung pada waktu itu di malam hari. Kesan pertamaku yang akan kudeskripsikan. Aku pun pergi ke Kedai Asmaraloka dengan berjalan kaki. Selain karena 2 menit dari rumah, aku juga ingin berusaha ’menghirup udara segar’ Kota Bekasi. Daerah kedai ini cenderung sejuk karena pinggiran kota dan juga masih banyak orang yang sadar akan pentingnya menanam tumbuhan.
Kudatangi kedai itu, kedai sederhana yang berada di rumah seseorang bernama Arunika, mahasiswa Universitas Gajah Mada. Rumahnya sederhana, bergaya kesenian dengan ciri khas yang dipenuhi lukisan abstrak entah karya siapa. Selain itu, di sudut-sudut ruangan banyak rak-rak yang dipenuhi dengan buku karya Pramoedya, Tan Malaka, George Orwell, hingga penulis novel terkenal seperti Leila S. Chudori yang gratis untuk dibaca. Kursi-kursi berbahan kayu mahoni tertata rapi siap menyambut para pejalan yang singgah untuk membeli ataupun sekadar singgah untuk membaca. Lampu kuning yang hangat menyinari seluruh ruangan sehingga memberikan kesan hangat di sudut kota yang dingin. Selain lampu ruangan, kedai ini juga menyediakan lampu baca yang dapat digunakan secara gratis.
Kabar baiknya, kedai ini memiliki menu makanan dan minuman dengan harga kaki lima. Dengan harga tiga ribu kita sudah dapat membeli secangkir teh hangat yang siap untuk diseruput. Menu andalan dari kedai ini adalah jamu kunyit asam seharga sepuluh ribu yang membuatnya berbeda dengan kedai-kedai lain. Kombinasi antara jamu dan buku membuat perpaduan yang unik dan sehat.
Di samping tempat dan makanan, ada detail-detail kecil yang membuat Asmaraloka semakin “melawan”. Asmaraloka tidak meminimalisir penggunaan plastik dengan tidak menggunakan sedotan plastik serta mengelola sampah secara mandiri. Hal ini membuat Asmaraloka menjadi kedai yang bertanggung jawab atas sampah hasil pemakaian kedai. Selain itu, Asmaraloka secara rutin memperbarui buku setiap bulan agar selalu up-to-date dengan minat para pengunjung.
Asmaraloka kini menjadi markas book party Bekasi yang rutin diadakan tiap bulan. Hal ini semakin menguatkan Asmaraloka sebagai wadah untuk berekspresi dan berkreasi sebebas mungkin. Selain itu, Asmaraloka juga menyediakan tempat jika ada pengunjung yang ingin melukis serta menyediakan kanvas dengan harga murah. Asmaraloka siap untuk mendukung setiap hal yang produktif dan berdampak bagi masyarakat.
Asmaraloka melawan dalam bentuk pengembangan sumber daya manusia sederhana, yang mewah di sini hanyalah memiliki idealisme untuk selalu berpihak pada yang benar. Kesederhanaan inilah yang membuatku jatuh cinta pada tempat ini. Bagiku, setiap sudutnya memiliki nilai-nilai yang banyak dilupakan di tengah kesibukan kesibukanku sebagai seorang manusia. Di sini tak ada diskriminasi, rasisme, ataupun patriarki. Semuanya dirangkul melalui tempat yang nyaman dan aman untuk diskusi yang menjunjung toleransi.
Tempat ini pun kini banyak direservasi untuk keperluan rapat maupun diskusi. Tak ada syarat khusus untuk reservasi di sini. Aku pun berkunjung ke tempat ini setiap malam di waktu libur kuliah untuk sekadar membaca maupun mengobati rindu dengan berjumpa dengan kawan lama. Berkunjung ke Asmaraloka membuatku berhenti sejenak dari rutinitasku dan memaknai kehidupanku sendiri.
Menemukan Asmaraloka adalah titik balik dalam hidupku yang membantuku menghilangkan rasa takut dan gelisah akan masa depan yang abu-abu. Kedamaian yang tak biasa kurasakan di tempat ini membuatku semakin ingin berlama-lama di sini. Bagiku, Asmaraloka sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidupku. Banyak nilai-nilai yang penting dan orang-orang yang kelak menjadi orang yang hebat di sini.
Dengan harapan dan cinta, Asmaraloka.(*)