Festival Peh Cun di Sungai Cisadane

Oleh Zulfan Pandu Wiraguna

        Festival Peh Cun di Tangerang sudah lama menjadi bagian dari kehidupan warga di sana. Setiap tahun, orang-orang selalu menunggu momen ini, bukan cuma karena meriah, tapi karena ada rasa kembali ke tradisi yang sulit dijelaskan. Asal-usulnya sendiri berkaitan dengan kisah Qu Yuan. Ceritanya tentang kesetiaan dan pengorbanan yang kemudian dikenang lewat berbagai ritual. Tapi di Tangerang, orang-orang tidak selalu melihatnya secara kaku sebagai sejarah, melainkan sebagai warisan yang terus dijaga.

       Menariknya, Peh Cun di Tangerang sudah mengalami banyak perubahan. Budaya Tionghoa yang dibawa dulu bercampur dengan budaya lokal, sehingga bentuk perayaannya jadi lebih membumi. Ini bukan lagi sekadar tradisi luar, tapi sudah jadi milik bersama. Kalau datang langsung ke Sungai Cisadane, suasananya benar-benar terasa hidup. Lomba perahu naga jadi pusat perhatian, dengan suara sorakan penonton yang bikin suasana makin panas. Kadang bukan cuma soal menang atau kalah, tapi soal kebanggaan tim.

      Di balik itu, ada kerja sama yang kuat dari para pendayung. Mereka harus kompak, satu ritme, satu tujuan. Kalau tidak, perahu bisa oleng atau kalah cepat. Dari sini saja sebenarnya sudah terlihat nilai kebersamaan yang ingin ditonjolkan.

      Selain lomba, tradisi melempar bacang ke sungai juga tetap dilakukan. Buat sebagian orang, mungkin terlihat seperti simbol biasa, tapi bagi yang menjalankan, ini bentuk penghormatan kepada leluhur. Ada juga harapan-harapan yang ikut dilemparkan bersama bacang itu.

      Saya pernah berkunjung langsung ke tempat festival ini dilaksanakan. Kebetulan sekolah saya berseberangan dengan Sungai Cisadane. Dari situ saya bisa melihat langsung suasana festival yang sedang berlangsung. Perahu-perahu naga saling berlomba, didayung bersama-sama dengan penuh semangat. Saya dan teman-teman hampir setiap tahun menonton Peh Cun, jadi rasanya sudah seperti bagian dari kebiasaan kami sendiri.

      Di sekitar lokasi, biasanya banyak pedagang yang ikut meramaikan. Mulai dari makanan khas sampai jajanan biasa, semua bercampur. Suasana jadi seperti pasar dadakan, yang justru menambah daya tarik tersendiri.

      Atraksi seperti barongsai juga tidak pernah absen. Anak-anak sampai orang dewasa biasanya ikut menikmati. Ini jadi cara yang cukup efektif untuk mengenalkan budaya kepada generasi yang mungkin sudah jauh dari akar tradisinya. Yang cukup terasa adalah bahwa festival ini tidak eksklusif. Siapa saja bisa datang, menonton, bahkan ikut merasakan suasananya. Tidak ada batasan yang kaku dan justru di situ letak kekuatannya. Tradisi ini bisa diterima luas.

      Tapi kalau dipikir lagi, ada juga tantangan ke depan. Ketika acara seperti ini makin populer, ada kemungkinan maknanya jadi bergeser. Orang datang hanya untuk hiburan, bukan lagi untuk memahami nilai di baliknya.

      Di sisi lain, perkembangan itu juga tidak sepenuhnya buruk. Dengan makin dikenalnya Peh Cun, tradisi ini punya peluang untuk terus hidup. Tinggal bagaimana cara menjaganya supaya tidak kehilangan makna. Peran masyarakat lokal di sini cukup penting. Mereka yang sebenarnya menjaga agar tradisi ini tetap berjalan, bukan sekadar acara tahunan biasa. Tanpa keterlibatan mereka, mungkin Peh Cun sudah lama berubah jadi sekadar tontonan.

      Kalau dilihat lebih luas, Peh Cun ini seperti cerminan bagaimana budaya bekerja. Ia tidak statis, tidak kaku, tapi juga tidak sepenuhnya berubah. Ada bagian yang tetap dijaga, ada juga yang menyesuaikan. Bahkan bagi sebagian orang, datang ke festival ini bukan hanya soal melihat acara, tapi juga soal merasakan suasana. Ada rasa ramai, hangat, dan sedikit nostalgia, terutama bagi yang sudah sering datang sejak kecil.

     Akhirnya, Peh Cun di Tangerang bukan sekadar festival. Ia adalah campuran antara sejarah, kebiasaan, dan kehidupan sehari-hari masyarakat yang terus berjalan. Dan mungkin justru karena tidak terlalu dibuat kaku, tradisi ini bisa tetap bertahan sampai sekarang.(*)