Kelangkaan bahan bakar fosil telah diakui di dunia saat ini sebagai persoalan serius. Hal itu diakibatkan oleh eksplorasi besar-besaran di seluruh dunia. Eksplorasi bahan bakar fosil sudah terjadi sejak lama terutama untuk bahan bakar kendaraan bermotor baik yang bermesin bensin maupun bermesin diesel.
Benarlah bawa ketergatungan manusia pada bahan bakar fosil sangatlah besar untuk bahan bakar yang digunakan pada kendaraan bermotor. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan solusi terobosan terbaru, yaitu dengan menggunakan energi terbarukan untuk mengganti bahan bakar fosil. Karena itu kita harus segera mencari sumber energi yang terbarukan untuk kita gunakan dalam kegiatan sehari-hari. Apalagi minyak bumi lama-kelamaan akan habis jika diambil terus-menerus secara besar-besaran.
Salah satu sumber energi yang terbarukan adalah energi listrik yang diklaim lebih ramah lingkungan, sangat berlimpah, dan sangat kecil potensi pencemaran lingkungannya. Berkaitan dengan hal itu, perusahaan luar negeri sudah melakukan pengembangan besar-besaran terhadap mobil listrik.
Penggunaan mobil listrik merupakan era baru untuk perkembangan penggunaan energi terbarukan yang ramah lingkungan pada masa depan. Mobil bermesin listrik merupakan inovasi baru agar mobil bisa berjalan hanya dengan menggunakan energi listrik yang disimpan di dalam baterai dan tidak perlu menggunakan bensin sama sekali. Pabrikan mobil listrik berlomba-lomba menciptakan mobil listrik yang terbaik berupa konsumsi energi yang hemat, nyaman dikendarai dan jarak tempuh yang jauh untuk sekali charge baterai sampai penuh.
Salah satu pelopor pabrikan mobil listrik di dunia adalah Tesla pada 2004 dan muncul ke publik pada tahun 2008. Sekarang ini muncul pabrikan mobil listrik selain Tesla yang memproduksi mobil listrik canggih dengan harga terjangkau, antara lain Wuling, Hyundai, Cherry, BMW, Mercedes Benz , BYD, Porsche, Neta DLL.
Berkaitan dengan kemarakan pabrikan mobil listrik, apakah penggunaan mobil tersebut untuk menggantikan mobil bermesin bensin bersifat efektif?
Dapat dikatakan bahwa keberadaan mobil listrik sekarang dianggap sebagai bentuk perkembangan teknologi yang sangat pesat. Di Indonesia mobil listrik terus mencuri perhatian dan mulai populer di jalanan. Mobil listrik sering dianggap sebagai solusi mobil yang ramah lingkungan untuk mengurangi emisi gas buang dan polusi udara. Mobil listrik juga dianggap bisa mengurangi ketergantungan kita kepada mobil berbahan bakar fosil yang makin langka sehingga harga bensin sekarang makin mahal.
Tapi apakah penggunaan mobil listrik benar-benar ramah lingkungan? Sebelum menjawab hal itu, perlu diketahui bahwa salah satu komponen utama di mobil listrik adalah baterai lithium-ion. Proses produksi baterai lithium-ion ini sangat intensif energi dan sumber daya. Penambangan lithium, kobalt, dan nikel yang merupakan bahan utama baterai seringkali berdampak pada lingkungan dan bagi masyarakat sekitar. Emisi karbon dari proses pembuatan baterai mobil listrik cukup tinggi.
Mobil listrik juga sangat bergantung pada sumber listrik yang digunakan untuk mengisi daya baterainya. Jika jenis pembangkit listriknya masih menggunakan batu bara, maka emisi karbon dari mobil listrik tidak jauh berbeda daripada mobil bermesin bensin, karena batu bara masih menghasilkan polusi udara.
Akan tetapi jika sumber energi listriknya berasal dari panel surya atau dari angin menggunakan kincir angin maka emisi mobil listrik akan benar-benar ramah lingkungan. Dua sumber energi tersebut tidak menghasilkan emisi karbon sehingga udara bisa lebih bersih dan ramah lingkungan.
Masa pakai dari baterai mobil listrik tentu saja ada batasnya dan pastinya baterai dari mobil listrik akan mengalami kerusakan dan dapat menghasilkan limbah. Biasanya baterai mobil listrik yang mengalami kerusakan akan didaur ulang. Salah satu pabrikan mobil listrik yang melakukan daur ulang pada baterai mobil listrik adalah Tesla. Tesla telah berupaya untuk membuat proses produksinya lebih berkelanjutan, Tesla juga berinvestasi dalam energi terbarukan dan daur ulang baterai.
Tapi itu semua tidak mudah. Tesla masih mendapat kritikan terkait dampak lingkungan dari penambangan bahan baku baterai. Karena baterai yang habis masa pakainya mengandung bahan kimia beracun yang bisa merusak lingkungan jika tidak dikelola dengan benar. (Dari berbagai sumber)
Oleh Ariel Padma Gratia (Teknik Elektro UNNES)