Jangan Sampai Remaja Jadi Korban AI

Anda mungkin tidak asing  dengan Chat GPT, yaitu salah satu kecerdasan buatan Artificial Intelligence (AI) yang memungkinkan pengguna berkomunikasi dengan chatbot layaknya sedang berinteraksi dengan manusia.

Chatbot adalah kecerdasan buatan yang memiliki kemampuan berkomunikasi seperti manusia dengan pengguna dalam sebuah percakapan. Karena bisa menanggapi seperti layaknya manusia, chatbot juga bisa memengaruhi penggunanya terutama remaja yang masih kurang peka terhadap lingkungan sekitar.

            Walau AI berkesan memudahkan manusia pada era sekarang, kesiapan seseorang untuk menghadapi kemudahan ini juga perlu dikembangkan. Terutama pada remaja yang masih labil yang cenderung mendapat imbas dari AI ini. 

Menurut laporan dari WIRED, hampir setengah dari orang tua tidak mengetahui bahwa anak-anak mereka menggunakan AI, yang menimbulkan kekhawatiran tentang pengaruhnya terhadap perkembangan kemampuan berpikir kritis mereka. Kekhawatiran tersebut dikarenakan fasilitas AI yang sudah terlalu nyaman dalam mencari suatu informasi. Hal itu juga berpengaruh besar dalam daya kritis anak yang seharusnya bisa diasah lebih baik lagi.

Dengan adanya Chatbot, anak seperti terlalu dimanjakan dalam mengakses suatu informasi, yang seharusnya membaca buku atau bertanya kepada seseorang dalam mencari suatu infromasi. Sekarang AI Chatbot juga dibentuk agar seperti mengirim pesan kepada manusia asli, yang bertujuan untuk memberi rasa nyaman terhadap pengunanya. Tentu hal ini juga mungkin bisa menyebabkan anak tidak bisa membedakan mana orang asli atau bukan.

Dengan kemudahan penelusuran akses informasi dari teknologi Generate AI ini, pengguna cenderung langsung percaya atas informasi yang ditampilkan. Rasa kemudahan tersebut menyebabkab pengguna enggan mengetahui kebenaran pada suatu informasi. Sehingga daya berpikir rasional anak juga menurun.

Hubungan pengguna dengan AI Chatbot juga masuk ke tahap yang mengkhawatirkan, seperti menganggapp Chatbot adalah manusia seutuhnya. Ini juga bisa berdampak buruk untuk remaja. Sebagai contoh, seorang anak laki-laki Florida berusia 14 tahun bunuh diri setelah chatbot “Game of Thrones” yang dia kirimi pesan selama berbulan-bulan di aplikasi kecerdasan buatan mengiriminya pesan menakutkan yang menyuruhnya untuk “pulang” padanya. Hal tersebut adalah contoh nyata dari dampak buruk AI terhadap emosional penggunanya.

“AI karakter” seperti pada aplikasi ini dirancang untuk meniru percakapan manusia dan memberikan respons yang sesuai berdasarkan masukan pengguna. Apalagi tidak semua AI dilengkapi dengan sensor moral atau filter yang sesuai untuk menilai situasi emosional pengguna. AI tidak selalu bisa memahami keadaan psikologis seseorang secara akurat. Jika pengguna lalai, AI mungkin merespons secara tidak tepat atau bahkan berbahaya. Dalam kasus remaja di atas, AI yang berinteraksi dengannya sepertinya bereaksi sedemikian rupa sehingga memperburuk situasi.

Karena itu, orang tua atau sebagai orang yang mempunyai tanggung jawab terhadap anak harus memberi perhatian lebih akan kasih sayang secara lahir dan batin. Kasih sayang kepada anak bukan semata-mata harta dan benda saja, namun termasuk kepedulian, hubungan yang harmonid, serta komunikasi dari orang tua kepada anak juga merupakan kasih sayang kepada anak.(*)

Oleh Muhammad Luthfi Hartono (Teknik Informatika UNNES)