Laut Bercerita merupakan judul novel karangan Leila S. Chudori. Novel ini diterbitkan pada bulan Oktober tahun 2017 oleh KPG (Kepustakaan Populer Gramedia). Secara fisik, novel ini memiliki tebal 379 halaman, lebar 13,5 cm, dan panjang 20 cm.
Laut Bercerita menceritakan sekumpulan aktivis mahasiswa yang berjuang ditengah-tengah hiruk pikuk politik yang melanda pada tahun 1998. Kilas balik sejarah yang tertuang dalam cerita membuka kembali ingatan sejarah kelam yang pernah terjadi. Dalam novel Laut Bercerita, diceritakan mengenai kepemimpinan rezim Soeharto yang melarang kebebasan berpendapat. Buku-buku yang tidak sejalan dengan pemerintah seperti buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer dilarang disebarluaskan keberadaannya. Dalam situasi-situasi sulit, Biru Laut dan rekan seperjuangannya tetap bertahan untuk memperjuangkan hak asasi yang seharusnya mereka dan warga lainnya dapatkan. Laut dan para aktivis lainnya mengadakan pertemuan-pertemuan guna menyusun strategi untuk melakukan pemberontakan secara diam-diam. Meskipun ditengah-tengah perjalanan para aktivis kerap kali tertangkap aparat dan menerima kekejaman saat diasingkan. Para aktivis menjalani kehidupan seperti buronan, berpindah tempat dari satu tempat ke tempat yang lain guna menghindari aparat yang terus memburu. Cerita terus berjalan hingga para aktivis mulai hilang satu persatu tanpa kabar, tanpa jejak dan tanpa berpamitan.
Laut Bercerita karya Leila S. Chudori mengangkat tema yang sensitif, yaitu sejarah politik dan peristiwa kelam yang terjadi pada tahun 1998, masa peralihan orde lama ke orde baru. Di setiap ceritanya, penulis menyampaikan secara detail sehingga membuat imajinasi pembaca terbawa dalam serangkaian alur cerita.
Kompleksitas politik dan sejarah yang diangkat dalam novel ini mungkin perlu memerlukan pemahaman dan perhatian ekstra bagi beberapa pembaca. Memang tidak dipungkiri alur cerita yang penuh dengan kejutan dan tokoh yang saling berhubungan mungkin membuat beberapa pembaca mengalami sedikit kewalahan. Namun, secara keseluruhan Laut Bercerita adalah sebuah novel yang luar biasa dengan peristiwa-peristiwa politik dan kisah cinta yang dikemas dengan sangat baik.
Laut Bercerita merupakan sebuah cerita realita yang kemudian direpresentasikan menjadi sebuah karya fiksi. Novel ini disajikan dengan bahasa yang indah dalam menggambarkan kekejaman rezim Soeharto pada masa itu, sehingga pembaca diharapkan sedikit terbuka pemikiran dan hatinya mengenai peristiwa kelam yang pernah tejadi.
Novel ini menghadirkan beberapa tokoh yang berperan penting sebagai kesatuan yang saling melengkapi. Setiap tokoh memiliki latar belakang masing-masing, penyampaian latar belakang tersebut disampaikan secara kuat sehingga pembaca dapat merasakan emosi dan perjuangan yang mereka rasakan. Tokoh utama dalam novel ini adalah Biru Laut Wibisana, seorang mahasiswa yang menjadi aktivis dan mempunyai visi untuk memperjuangkan hak-hak rakyat kecil. Selanjutnya ada Asmara Jati, adik Biru Laut yang mempunyai tujuan atau visi yang cenderung berlainan dengan Laut. Di dalam novel ini terdapat pula tokoh-tokoh pendukung yakni, Kinan, Bram, Anjani, Sunu, Alex, Mas Gala, dan Daniel yang merupakan teman sesama aktivis dari Biru Laut.
Semua karakter dalam novel ini memiliki peran penting dalam cerita dan saling berkaitan satu sama lain. Namun, ada satu karakter yang tak bisa dilupakan dan selalu membekas dalam ingatan yaitu karakter Biru Laut. Biru Laut adalah tokoh utama dalam novel Laut Bercerita digambarkan sebagai seorang mahasiswa program studi Sastra Inggris di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Biru Laut memiliki watak yang bersemangat, tidak mudah terpengaruh, teguh pendirian, pendiam, pemalu, penyayang, pemberani, pantang menyerah, dan tenang.
Pengisahan dalam novel Laut Bercerita terbagi menjadi dua bagian dengan rentang waktu yang jauh berbeda. Bagian pertama diceritakan melalui sudut pandang tokoh utamanya yaitu Biru Laut beserta para teman sesama aktivisnya yang sama-sama berjuang untuk mewujudkan visi atau tujuan mereka. Lalu, pada bagian kedua di dalam novel ini diceritakan dari sudut pandang Asmara Jati dalam mencari penjelasan atas kehilangan kakaknya tanpa titik terang selama bertahun-tahun. Pada kedua bagian ini, penulis menggunakan sudut pandang orang pertama. Leila S. Chudori juga menulis alur ceritanya dengan begitu mengalir, jelas, dan membuat pembaca serasa ikut masuk ke dalam kisah Biru Laut dan teman-temannya. Dalam penyampaian cerita dalam novel ini meggunakan sudut pandang orang pertama
Keduanya memiliki ciri khas tersendiri dalam membawakan cerita melalui sudut pandang masing-masing. Keunikan tampak mencolok pada bagian kedua, yaitu pada sudut pandang Asmara Jati. Pada bagian tersebut diceritakan bahwa Biru Laut sudah tidak akan pernah pulang lagi. Akan tetapi, Leila S. Chudori dengan apik menampilkan bagian Laut dalam sudut pandang Asmara melalui surat yang seolah-olah ditulis Laut untuk adiknya, yakni Asmara Jati.
Cerita novel ini berakhir dengan kematian Laut yang menunjukkan bahwa tokoh utama juga mampu mendapatkan akhir cerita yang sangat tragis dan menyedihkan. Penyekapan dan pembungkaman yang kala itu ia hadapi, ternyata bukan tonggak awal untuk mendapatkan keadilan. Sebaliknya, justru menjadi gerbang menuju kematiannya. Di suatu tempat yang asing dan pengap, Laut dan Teman-teman seperjuangannya disiksa dengan sangat tidak manusiawi. Hingga akhirnya, ia dan aktivis lainnya dihilangkan secara paksa oleh sekumpulan orang yang menyiksanya.
“Ke Laut, sesuai namamu. Ke kuburanmu!” Akhirnya lautan menjadi rumah abadinya, sesuai dengan namanya, Laut.
Pembaca saat membaca novel ini merasa sangat terharu dan tertarik akan kisah yang dialami oleh tokoh utama. Buku ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama menyuguhkan kisah tentang perjuangan seorang aktivis yang memperjuangkan hak asasi bersama teman-temannya. Adapun pada bagian kedua berfokus dengan kisah bagaimana adik dan keluarga para aktivis berjuang tanpa lelah untuk mencari keadilan dan saudaranya yang dihilangkan secara paksa. Meskipun ini buku fiksi, tetapi kami mempercayai adanya penghilangan beberapa aktivis oleh aparat negara pada saat itu. Hal ini karena peristiwa tersebut menjadikan alasan kami bersyukur atas penegakan demokrasi yang dapat dirasakan.
Secara keseluruhan, novel ini sangat luar biasa. Bagian-bagian dalam isi cerita disampaikan dengan apik, unik, dan menyentuh perasaan pembaca. Leila S. Chudori tidak pernah gagal dalam menyajikan cerita menyayat hati yang penuh implikasi pembelajaran, baik pembelajaran sejarah, maupun pembelajaran hidup.
Oleh:
Audya Nilam Nariswari, Dewi Trisnawati, Jannatur Rohmah, Nurlaili Ismiati, Wenny Shafira Azzahra
Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia