Judul buku : Miracle In Cell No 7
Sutradara : Hanung Bramantyo
Produser : Frederica
Penulis naskah : Alim Sudiyo
Durasi : 145 menit
Film yang berjudul “Miracle In Cell No 7” merupakan film yang menyajikan drama yang cukup menguras air mata. Film ini merupakan adaptasi dari film Korea yang berjudul Miracle in Cell No.7 (Hangul: 7번방의 선물; RR: 7 beonbangui Seonmul; lit. Keajaiban Di Ruang 7″). Film “Miracle In Cell No 7” ini sangat digemari oleh seluruh kalangan, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa. Hal ini tidak lain karena alur dari cerita yang dapat menarik perhatian para penonton. Selain itu, artis dan aktor yang memerankan film tersebut dapat menjiwai perannya masing-masing, sehingga penonton dapat ikut serta merasakan apa yang diperankan para aktor dalam film “Miracle In Cell No 7”.
Film ini menceritakan tentang kisah gadis kecil yang bernama Kartika dengan seorang ayah yang bernama Dodo, serta seorang wanita yang berperan sebagai ibu dari Dodo dan nenek dari Kartika. Kartika adalah seorang gadis kecil yang terbilang pandai di sekolahnya. Ayah dari Kartika adalah seorang penggembala kambing yang mengalami penyakit idiot. Namun, keadaan tersebut tidak menjadi penghalang Kartika dalam berprestasi di sekolahnya.
Suatu ketika, disaat Kartika pulang dari sekolahnya, Kartika telah ditunggu oleh ayahnya di depan gerbang. Namun ketika Kartika keluar dari ruang kelasnya terdapat beberapa teman Kartika yang memaki ayah Kartika dengan sebutan “Orang bodoh”. Hal tersebut tentu membuat hati Kartika sedih. Namun, Kartika tidak menjadikan itu sebagai penghalang karena menurutnya ayahnya adalah sosok paling berharga di hidupnya meski beliau memiliki kekurangan dalam hal fisik maupun psikis.
Saat perjalanan pulang, Kartika melihat sebuah tas yang sangat disukainya dan memiliki keinginan untuk membeli tas tersebut. Namun, sayangnya ia dan ayahnya tidak memiliki uang yang cukup, sehingga untuk membeli tas tersebut ayahnya harus menjual permen keliling. Sayangnya, ketika uang dari penjualan permen terkumpul, tas Impian itu telat dibeli oleh teman Kartika yang memiliki ayah yang terbilang kaya dan mempunyai jabatan yang tinggi. Selayaknya anak-anak pada umumnya, tentu Kartika sedih tapi ia tidak ingin ayahnya tahu.
Di saat Dodo, ayah Kartika, tengah menggembala domba, ia bertemu dengan anak-anak orang kaya, yang salah satu dari mereka adalah anak yang telah membeli tas kegemaran Kartika. Lalu, semua anak-anak itu pergi dan hanya tersisa Melati yaitu teman Kartika, yang menggendong tas kegemaran Kartika di pundaknya. Gadis kecil yang bernama Melati itu menawarkan tasnya kepada Dodo dengan memberikan syarat, yaitu agar mengejar Melati sampai dapat. Dodo mengejar Melati hingga tak terasa ternyata mereka sudah berlari terlalu jauh. Sehingga, mereka sampai pada puncak yang paling tinggi. Pada saat itu, Dodo menghentikan langkah Melati. Namun, perintah tersebut tidak dipedulikan oleh Melati. Langkah demi langkah pun telah terlewati hingga Melati jatuh ke dasar jurang dan kehilangan nyawanya.
Singkat cerita ayah Melati datang bersama polisi ke lokasi tempat Melati meninggal. Dodo dituduh sebagai pelaku pembunuhan Melati, yang mengakibatkan Dodo harus berpisah dengan Kartika. Karena tidak bisa membela diri akibat keterbatasannya, Dodo dijebloskan ke dalam penjara. Ia ditempatkan di sel penjara bersama para narapidana yang kejam dan beringas. Suatu ketika, Dodo mendapatkan kunjungan dari Kartika. Melihat kedekatan dan kasih sayang antara ayah dan anak ini, para narapidana tersebut tersentuh. Mereka pun ragu jika Dodo adalah pelaku tindak pembunuhan yang telah dituduhkan.
Setelah melihat kasih sayang Dodo kepada anaknya, para narapidana tersebut berpikiran untuk membantu Dodo, supaya dia bisa bertemu dengan anaknya lagi dengan cara menyelundupkan Kartika secara diam-diam. Di suatu kebetulan, sekolah Kartika diundang untuk melakukan pertunjukan islami di depan para narapidana. Kesempatan ini, dimanfaatkan untuk menyelundupkan Kartika ke dalam sel sesuai dengan harapan mereka. Namun, ketika rencana tersebut terbongkar akibatnya Dodo dipindahkan ke sel terpencil dan Kartika dikirim ke panti asuhan. Setelah Dodo berhasil menyelamatkan nyawa Hendro yang merupakan salah satu sipir saat terjadi kebakaran, Hendro mulai melihat sifat tulus dan kejujuran Dodo. Ia kemudian memutuskan untuk mengembalikan Dodo ke sel awal dan mengizinkan Kartika tinggal di sel Bersama Dodo.
Beberapa bulan kemudian, setelah mengumpulkan bukti yang cukup Hendro mengajukan banding. Namun, pada saat yang sama ayah Melati kembali sebagai gubernur dan memperkuat hukum kekerasan terhadap Dodo. Hal ini, berarti peluang bagi Dodo untuk dibebaskan sangat kecil. Setelah mendengar kronologi kejadian yang diceritakan oleh Dodo, para narapidana di sel menyusun pernyataan yang akan diucapkan oleh Dodo di pengadilan, karena mereka menganggap bahwa Dodo memiliki kesulitan dalam mengungkapkan pikirannya secara lisan. Tetapi, pengacara mendorongnya untuk mengaku sebagai pembunuh Melati agar Dodo dimasukkan ke dalam penjara dan diakui sebagai pelaku yang membunuh Melati.
Pada saat persidangan, Dodo dikenai hukuman mati dan pada saat itu sang nenek hanya bisa berderai air mata mendengar hukuman yang telah diputuskan oleh hakim. Sampailah ketika waktunya tiba, Dodo pun dikenai dihukum mati oleh pihak berwajib. Kartika dan neneknya hanya bisa pasrah menerima sebuah kenyataan yang pahit itu. Pada tahun 2019, saat Kartika telah dewasa, Ia mengajak para teman ayahnya yang telah lebih dulu bebas untuk menghadiri sidang terakhir Dodo. Saat itu Kartika sudah menjadi seorang pengacara yang adil. Kartika menceritakan kronologi peristiwa yang menimpa Dodo dan didukung oleh kesaksisan Hendro dengan menyampaikan lebih banyak bukti terutama bahwa hasil autopsi Melati tidak menunjukkan tanda tanda kekerasan fisik dan kekerasan seksual. Dia juga berargumentasi bahwa banyak orang disabilitas telah menderita seperti ayahnya. Akhirnya Dodo dinyatakan tidak bersalah.
Banyak hal menarik yang disajikan di dalam film ini. Film yang berjudul “Miracle in cell no 7” berhasil menyentuh hati penonton yang melihatnya. Selain itu, dari film “Miracle in cell no 7” ini memiliki momen yang dapat menggugah emosi penonton. Mulai dari momen sedih, lucu, hingga menimbulkan amarah. Pada segi visual, warna yang digunakan film ini sangat bagus, yang menunjukan bahwa film ini dilakukan dengan sangat matang dan dikemas secara apik.
Cerita yang disajikan dalam film sangat menarik perhatian penonton. Karena sebagian besar film ini memiliki kisah haru dan menginspirasi para penonton. Kisah inspirasi dalam film ini dapat mendorong seseorang untuk selalu bersyukur dalam keadaan apapun. Selain itu, film ini juga secara tidak langsung mengajak para penonton untuk selalu mencintai ayahnya dalam berbagai kondisi
Film ini hampir tidak memiliki sebuah kekurangan. Namun, sayangnya di dalam film yang berjudul “Miracle in cell no 7”terdapat tayangan yang mungkin kurang nyaman untuk ditonton, sehingga memiliki dampak yang besar bagi penonton kususnya pada kalangan muda zaman sekarang. Tayangan tersebut adalah tindak kriminalitas dan kekerasan yang dilakukan oleh ayah Melati dan pihak penegak hukum yang memperlakukan Dodo dengan semena-mena.
Film ini sangat cocok untuk ditonton berbagai kalangan usia. Mulai dari anak-anak, dewasa, ataupun orang tua. Para penonton yang menyaksikan film ini akan tertarik pada tokoh Kartika, yaitu seorang gadis kecil yang memiliki jiwa yang besar dan rasa syukur yang tinggi. Para penonton juga seoalah-olah merasakan adegan permasalahan yang dialami oleh keluarga Kartika. Adegan-adegan yang dikemas di dalam film ini dapat menggugah emosi penonton dalam menyaksikannya.
Rizki Ayudika Y., Hilda Afidatussofa, Monica Anggraini Choirunisa, Nurul Hikmah, Ainna Galuh Pratiwi
(Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia)