Topi Mahesa Bikin Gaduh

SEMARANG- PKKMB (Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru) UNNES adalah kegiatan yang bertujuan untuk memperkenalkan berbagai aspek kehidupan kampus, aktivitas akademik, dan budaya akademik di lingkungan Universitas Negeri Semarang untuk Mahesa (Mahasiswa UNNES Muda). PKKMB UNNES 2024 dirancang untuk membekali mahasiswa baru dengan karakter unggul serta menjadi katalisator perubahan positif bagi mereka. Kegiatan tersebut menjadi acara yang paling dinanti oleh para Mahesa. Tahun ini, PKKMB UNNES 2024 mengusung tema “Gelora Cipta Mahesa,” dengan harapan agar Mahesa dapat mengoptimalkan potensi mereka dalam menyongsong Indonesia Emas.

Untuk mempersiapkan keperluan PKKMB, panitia menjual beberapa merchandise yang digunakan saat kegiatan berlangsung. Salah satu yang wajib dibeli adalah bucket hat berwarna biru navy yang dilengkapi dengan logo Mahesa. Namun, pada tanggal 14 Agustus 2024, beberapa hari menjelang pelaksanaan PKKBM, ratusan mahasiswa baru merasa kecewa dan meluapkan kekesalan mereka di Gedung PKMU UNNES. Hal itu terjadi akibat kurangnya topi Mahesa yang seharusnya diterima oleh seluruh maba sebagai salah satu atribut wajib saat PKKMB berlangsung.

Meskipun para maba telah membayar biaya atribut perlengkapan PKKBM, banyak dari mereka tidak mendapatkan topi Mahesa saat pembagian. Hal ini semakin diperparah karena para maba sudah mengantre di Gedung PKMU UNNES sejak pukul 14.00 hingga pukul 18.00 namun tidak mendapatkan barang yang mereka harapkan. Para maba meluapkan emosi kekecewaan mereka dengan berbagai cara, mulai dari berdemo hingga membunyikan kelakson motor di depan Gedung PKMU UNNES.

Pihak panitia PKKMB UNNES menjelaskan bahwa masalah ini terjadi karena beberapa faktor. Pertama, terjadi kekurangan bahan baku yang menghambat produksi topi Mahesa oleh vendor. Selain itu, waktu produksi yang terbatas juga menyebabkan vendor tidak mampu memenuhi permintaan tepat waktu. Akibatnya, ratusan mahasiswa baru terpaksa pulang tanpa menerima atribut yang telah mereka bayar, sehingga menimbulkan ketidakpuasan di kalangan mereka.

“Awalnya saya merasa sangat kesal, bayangkan saja, sudah mengantre lama hingga malam, tapi akhirnya tidak mendapatkan topi yang dijanjikan,” ujar Diyanah Salma, salah satu mahasiswa yang belum menerima topi Mahesa, saat diwawancarai. 

“Rasanya sungguh mengecewakan. Saya sudah menunggu lama dengan ekspektasi tinggi, tapi tiba-tiba diberitahu bahwa topinya habis,” tambahnya.

Ia mengungkapkan bahwa panitia memang mengembalikan uangnya, tetapi tidak penuh sesuai jumlah yang ia bayarkan sebelumnya. “Seharusnya saya mendapatkan kembali sekitar 28 ribu rupiah, namun hanya dikembalikan 25 ribu. Walaupun sudah dikembalikan, tetap saja rasanya kurang adil,” tuturnya.

Pada awalnya, ia mengira kesalahan tersebut ada pada panitia dan sempat merasa kesal karena berpikir panitia tidak bertanggung jawab. “Saya kira itu salah panitia, dan awalnya merasa kesal pada mereka. Tapi kemudian diberitahu bahwa sebenarnya kesalahan ini ada pada pihak vendor yang kurang bertanggung jawab,” pungkasnya.

Situasi ini menyebabkan kericuhan di Gedung PKMU, di mana para maba meminta penjelasan lebih lanjut dari panitia dan vendor terkait keterlambatan distribusi. Panitia berjanji akan segera mengembalikan uang sesuai harga topi Mahesa, tetapi mereka tidak bisa memberikan pengembalian sepenuhnya karena vendor tidak memberikan penjelasan ketika dihubungi.

Beberapa mahasiswa baru (maba) tidak menerima topi Mahesa meskipun sudah membayarnya. Akibatnya, topi Mahesa yang awalnya diwajibkan sebagai atribut untuk dikenakan saat PKKMB, kini tidak lagi wajib. Sebagai gantinya, maba diwajibkan untuk membeli topi berwarna navy dari luar sebagai pengganti. Kondisi ini menimbulkan kebingungan, terutama bagi maba yang sudah membeli dan mendapatkan topi Mahesa, karena atribut yang awalnya diwajibkan untuk dibeli kini tidak lagi diwajibkan. Hal ini kembali menimbulkan ketidakadilan, karena para maba membeli topi tersebut atas kewajiban dari panitia, tetapi setelah membeli, peraturan tersebut diubah begitu saja. (Zuliana Natasya Pratiwi, Teknologi Pendidikan UNNES)