Oleh Amanda Dwi Yunita (Ilmu Hukum UNNES)
Survei nasional yang dilakukan oleh Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) pada tahun 2022 mengungkapkan bahwa satu dari tiga remaja (34,9%) atau sekitar 15,5 juta remaja di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. Selain itu, satu dari dua puluh remaja (5,5%) atau sekitar 2,45 juta remaja terdiagnosis dengan gangguan mental dalam periode yang sama. Meskipun banyak remaja yang membutuhkan dukungan, hanya 2,6% dari mereka yang pernah mengakses layanan konseling atau dukungan emosional. Temuan ini menunjukkan perlunya kolaborasi pemerintah dalam mendukung program-program positif untuk menjaga kesehatan mental remaja.
Terdapat beberapa jenis gejala gangguan mental yang dapat dirasakan penderita, mulai dari yang ringan hingga yang berat. Beberapa contohnya seperti gangguan kecemasan yang mencakup berbagai kondisi seperti serangan panik, fobia, dan gangguan kecemasan umum. Orang yang mengalaminya sering merasakan kecemasan berlebihan yang sulit untuk dikendalikan. Perasaan cemas tersebut dapat berlangsung hampir setiap hari selama beberapa minggu.
Begitu pula depresi yaitu kondisi di mana seseorang merasa hampa dan kehilangan motivasi untuk melakukan kegiatan sehari-hari dalam jangka waktu yang lama. Gangguan psikosis adalah gangguan mental yang membuat seseorang kesulitan membedakan antara kenyataan dan khayalan. Mereka juga mengalami kesulitan dalam mengendalikan emosi, berkomunikasi dengan orang lain, dan menjalin hubungan sosial. Gangguan bipolar adalah kondisi kesehatan mental yang ditandai dengan perubahan suasana hati yang drastis dan tidak terduga. Penderita mengalami siklus antara fase mania atau naik, di mana mereka merasa sangat bersemangat dan penuh energi, dan fase depresi, di mana mereka merasa sedih, kehilangan minat, dan kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari.
Beberapa faktor atau penyebab terjadinya gangguan mental terbagi menjadi bebberapa hal diantaranya Faktor genetika, seperti riwayat keluarga dengan gangguan mental, dapat meningkatkan kerentanan seseorang. Faktor ekonomi, seperti kemiskinan atau kehilangan pekerjaan, dapat memicu stres yang berujung pada masalah kesehatan mental. Trauma fisik atau seksual juga dapat menjadi pemicu utama. Selain itu, faktor sosial seperti diskriminasi dan isolasi sosial dapat memperburuk kondisi mental seseorang.
Dalam hal ini keluarga merupakan unit lembaga pendidikan yang paling pertama dan utama bagi seorang anak. Keluarga adalah hal terpenting dalam pengasuhan anak dikarenakan anak akan dibesarkan dan didik oleh keluarga. Orang tua merupakan sebuah cerminan yang akan dilihat dan ditiru oleh seorang anak dalam keluarga. Maka dari itu diharapkan pola asuh terhadap anak harus memberikan rasa nyaman kepada anak itu sendiri namun juga memberikan Batasan-batasan terhadap hal-hal yang tidak sesuai dengan aturannya. Jikalau pola asuh terhadap anak belum benar maka dapat memunculkan permasalahan dan konflik, entah dalam diri seorang anak itu sendiri juga terhadap hubungan orang tua dengan anaknya, hal ini juga dapat mempengaruhi perilaku anak dengan lingkungannya.
Keluarga diharapkan dapat membesarkan anak yang tumbuh menjadi individu yang baik dan mampu berinteraksi dengan masyarakat. Dalam konteks ini, orang tua memiliki peran penting dalam mengasuh, melindungi, dan memberikan pendidikan yang berkualitas kepada anak. Ayah dan ibu perlu bekerja sama untuk mencapai tujuan tersebut. Umumnya, seorang ayah bertanggung jawab untuk mendisiplinkan anak, sementara seorang ibu berperan memberikan dukungan agar anak dapat meraih cita-citanya.
Dalam pengasuhan dan mendidik anak bukan hanya dilakukna melalui Lembaga sekolah saja, namun diluar sekolah anak bisa mendapatkan banyak pengetahuan dari orang tuanya. Perkembangan mental anak juga sangat penting dalam perkembangan ini jiwa anak akan sangat dipengaruhi oleh peranan orang tua. Orang tua harus memberi arahan agar sang anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik dan optimal.
Orang tua dapat memberikan kegiatan yang menyenangkan bagi anaknya dan meminimalisir sang anak mengalami pengalaman yang kurang menyenangkan. Orang tua dapat memenuhi kebutuhan sang anak dengan memberi perhatian penuh dan memperhatikan kegiatannya. Jika semua hal tersebut terpenuhi maka akan tumbuh rasa percaya pada diri sendiri juga pada orang lain. Sebaliknya jika tidak terpenuhi maka akan tumbuh rasa kurang percaya diri atau pesimistis.
Untuk membentuk perilaku anak, diperlukan pendekatan yang harmonis guna menanamkan nilai-nilai positif. Kualitas komunikasi yang buruk antara orang tua dapat berdampak negatif terhadap anak dan mengganggu keharmonisan keluarga. Karena itu, penting untuk menciptakan suasana keluarga yang harmonis melalui komunikasi yang intens, seperti berbagi cerita atau pendapat. Hal ini dapat meningkatkan kasih sayang orang tua terhadap anak dan membantu menjaga keutuhan keluarga, serta mencegah timbulnya masalah yang tidak diinginkan. Pola asuh sendiri merujuk pada cara orang tua memperlakukan anak, termasuk dalam mendidik, membimbing, mendisiplinkan, dan melindungi mereka selama proses menuju kedewasaan, serta dalam upaya membentuk norma-norma yang diharapkan oleh masyarakat secara umum.
Upaya kesehatan mental anak mencakup keadaan di mana seorang anak tidak hanya sehat secara fisik, mental, spiritual, dan sosial, tetapi juga memiliki kemampuan untuk hidup secara produktif. Namun, dalam kenyataannya, seringkali anak mengalami masalah kesehatan mental yang dipengaruhi oleh kondisi keluarga atau lingkungan sekitarnya. Untuk menjaga kesehatan mental anak, orang tua perlu memberikan perhatian dan kasih sayang yang memadai. Membangun kepercayaan antara orang tua dan anak juga sangat penting agar anak merasa aman untuk berbagi perasaan dan masalah yang mereka hadapi. Selain itu, menciptakan hubungan yang baik melalui aktivitas bersama dapat mencegah timbulnya gangguan mental.Kesehatan mental adalah isu penting yang semakin diperhatikan di masyarakat, mencakup kesejahteraan individu dalam menyadari potensi diri dan berfungsi secara produktif. Gangguan mental dapat mempengaruhi siapa saja, terutama mereka yang sulit beradaptasi dengan perubahan lingkungannya, dan dapat berdampak tidak hanya pada individu tetapi juga pada orang di sekitarnya. Keluarga berperan sebagai lembaga pendidikan utama yang membentuk pola asuh anak, di mana perhatian, kasih sayang, dan komunikasi yang baik dari orang tua sangat penting untuk mendukung kesehatan mental anak. Oleh karena itu diharapkan dengan adanya pendekatan yang harmonis dan dukungan yang memadai, anak dapat tumbuh menjadi individu yang sehat secara mental dan mampu berinteraksi dengan masyarakat secara positif. (*)