Jakarta- Kawasan Tanjung Priok, pelabuhan utama yang berada di utara Jakarta, kembali menjadi sorotan terkait masalah polusi udara yang semakin memburuk. Tingginya aktivitas kendaraan berat, emisi dari mesin bongkar muat di pelabuhan, serta polusi dari pembakaran bahan bakar fosil menjadi faktor utama yang menyebabkan kualitas udara di kawasan ini menurun drastis. Polusi udara yang terus meningkat mengancam kesehatan warga dan pekerja yang setiap hari terpapar langsung dengan udara tercemar.
Tanjung Priok, sebagai pusat kegiatan logistik dan perdagangan, memiliki volume kendaraan berat yang sangat tinggi. Truk-truk pengangkut barang dan kontainer yang melintas di jalan-jalan utama seringkali mengeluarkan emisi gas buang yang mengandung partikel berbahaya seperti PM2.5 dan CO2. Selain itu, proses bongkar muat di pelabuhan yang melibatkan mesin-mesin besar dan alat berat juga turut menyumbang terhadap polusi udara.
Menurut data yang dihimpun oleh Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, kualitas udara di kawasan tersebut beberapa kali tercatat berada di level tidak sehat, dengan konsentrasi PM2.5 yang mencapai angka lebih dari 150 µg/m³, jauh di atas ambang batas yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang hanya 25 µg/m³.
Polusi udara yang tinggi di Tanjung Priok memberikan dampak signifikan terhadap kesehatan, terutama bagi mereka yang tinggal atau bekerja di kawasan ini. Beberapa masalah kesehatan yang dapat timbul akibat paparan polusi udara meliputi penyakit pernapasan seperti asma, bronkitis kronis, dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Selain itu, polusi udara juga dapat memperburuk kondisi penyakit jantung dan stroke, serta meningkatkan risiko gangguan pernapasan pada anak-anak dan orang lanjut usia.
“Setiap hari kami bekerja di area ini, dan udara di sekitar pelabuhan sangat buruk. Sering kali saya merasa sesak di dada dan hidung tersumbat. Kadang, saya merasa mual karena asap dari truk dan mesin di pelabuhan,” kata Andi, seorang pekerja pelabuhan yang telah bertugas di Tanjung Priok selama lebih dari 5 tahun.
Selain upaya pemerintah, kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kualitas udara juga menjadi hal yang krusial. Aktivitas sehari-hari seperti pembakaran sampah sembarangan, penggunaan kendaraan pribadi yang tidak ramah lingkungan, serta kurangnya pemeliharaan kendaraan bermotor juga turut memperburuk kualitas udara. Warga di sekitar Tanjung Priok diminta untuk mendukung program-program pengurangan polusi udara, seperti penggunaan transportasi umum dan pengelolaan sampah yang lebih baik.
Selain polusi dari kendaraan dan aktivitas pelabuhan, minimnya ruang hijau di sekitar Tanjung Priok juga menjadi faktor yang memperburuk kualitas udara. Beberapa warga menyarankan agar pemerintah meningkatkan pengembangan ruang terbuka hijau yang dapat membantu menyaring polusi udara dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat. Seperti yang diungkapkan oleh Rina, seorang warga yang tinggal di dekat pelabuhan, “Kita butuh lebih banyak pohon dan taman untuk menyaring udara kotor ini. Tanpa itu, kesehatan kami semakin terancam.” (Fajrin Moreno Akbar, Pendidikan Teknik Otomotif UNNES)