Perbedaan dan perubahan cara pandang masyarakat tentang peran dan posisi kaum perempuan memunculkan perdebatan mengenai pilihan menjadi perempuan karier atau ibu rumah tangga. Perdebatan ini memunculkan banyak pendapat-pendapat subjektif sehingga banyak perempuan yang mengalami situasi dilematis dan harus mempertimbangkan pilihan menjadi wanita karier atau ibu rumah tangga. Seolah-olah memilih kedua hal tersebut tidak dapat disatukan menjadi kesatuan yang harmonis dan perempuan sekarang seakan-akan harus memilih pilihan mana yang lebih baik.
Permasalahan itu memiliki dampak sosial dan psikologis yang terkena untuk seorang wanita yang harus memilih pilihan tersebut. Setiap dua peran tersebut memiliki dampak masing-masing dan bukan hanya individu yang terkena namun di dalam keluarga bisa terkena dampak dari pengaruh tersebut. Ibu rumah tangga sering menghadapi tantangan psikologis seperti rasa jenuh dan kurangnya bersosialisasi dengan orang luas.
Aktivitas harian mereka yang cenderung monoton dan dilakukan berulang-ulang kali dan sangat menguras tenaga bisa menyebabkan stres, kecemasan, dan yang paling parahnya adalah depresi. Kebanyakan wanita yang memilih peran ini mereka sering merasakan tidak mendapatkan atau kurang mendapatkan dukungan sosial maupun dukungan dari keluarga yang memperburuk kondisi mental mereka, banyak dari ibu yang memiliki peran ini merasa bahwa kontribusi mereka tidak dihargai secara aspek ekonomi.
Selain dampak psikologis juga terdapat dampak sosial yang dapat para Ibu rasakan, karena secara sosial seorang ibu rumah tangga seringkali mereka terisolasi dari interaksi sosial yang lebih luas di luar rumah. Dengan ini dapat mengurangi peluang untuk berinteraksi sosial dan membentuk hubungan dukungan, yang sangat penting untuk kesejahteraan mental. Rasa tidak puas terhadap peran ini juga bisa menimbulkan konflik dalam hubungan keluarga, khususnya jika terdapat harapan yang tidak tercapai dari pasangan atau anak-anak.
Selain dari sudut pandang ibu rumah tangga, peran wanita karier juga dapat menimbulkan dampak psikologis dan dampak sosial. Dampak psikologis yang didapatkan dari peran wanita karier ini karena, seorang wanita karier pasti mendapatkan tekanan agar bisa menyeimbangkan antara pekerjaannya dan tanggung jawabnya di rumah tangga. Bagi sebagian wanita, bekerja dapat memberikan mereka rasa pencapaian dan identitas yang lebih kuat, sekaligus peluang untuk mengembangkan keterampilan dan jaringan sosial.
Namun situasi peran ganda ini mengakibatkan mereka mendapatkan tekanan yang meningkat dan ketidakpuasan dalam hubungan pernikahan. Dampak lainnya wanita karier mendapatkan anggapan sosial dari beberapa orang bahwa mereka kurang memperhatikan keluarga mereka dan lebih fokus terhadap karier, persepsi negatif ini seringkali dibuat menjadi sebuah topik yang semakin diperparah oleh masyarakat luas dengan menggunakan media sosial yang dimana wanita karier menjadi sasaran kritik atas pilihan hidup.
Stereotipe
Pengaruh stereotipe gender sangat mempengaruhi cara masyarakat menilai wanita yang bekerja dan ibu rumah tangga. Stereotipe ini muncul turun temurun dari budaya dan norma sosial yang menggiring pandangan mengenai tindakan yang seharusnya dilakukan oleh pria serta wanita. Stereotipe gender merupakan keyakinan bahwa keyakinan bahwa laki-laki dan perempuan yang memiliki sifat, kemampuan, dan peran yang berbeda berdasarkan jenis kelamin mereka. Contohnya seperti anggapan bahwa perempuan dianggap lebih emosional dan lebih cocok untuk pekerjaan yang mengasuh anak, sementara laki-laki dianggap lebih rasional dan cocok dalam bidang teknis seperti teknologi ataupun pekerjaan di kantoran.
Adanya stereotipe gender ini sering kali menjadi penghalang dalam kemajuan profesional bagi wanita karier. Banyak perusahaan yang berpandangan bahwa posisi kepemimpinan lebih tepat untuk pria karena banyak orang beranggapan bahwa sifat kepemimpinan itu harus tegas, berani, dan dominasi, dengan karakteristik yang biasa dianggap maskulin yang anggapan ini lebih sering pria dipandang layak untuk jabatan kepemimpinan karena dianggap memiliki kemampuan lebih besar dalam menunjukkan karakteristik tersebut daripada wanita, yang cenderung dikaitkan dengan kelembutan dan emosionalitas, hal ini menyebabkan adanya diskriminasi dalam pengembangan karier.
Sementara itu, stereotipe juga didapatkan oleh ibu rumah tangga yang dianggap bawah mereka seharusnya fokus sepenuhnya pada tugas keluarga dan tugas rumah tangga. Kebanyakan orang berpandangan bahwa wanita yang memilih untuk tidak bekerja diluar rumah adalah pilihan yang tepat baginya. Hal ini juga menimbulkan anggapan bagi ibu rumah tangga yang ingin kembali ke dunia kerja setelah berfokus pada keluarga karena mungkin mereka merasa tertekan oleh ekspektasi sosial untuk selalu berada di rumah dan merawat keluarga mereka.
Wanita yang menjalankan peran ganda sebagai wanita karier dan ibu rumah tangga pasti memiliki tantangan yang kompleks, salah satu tantangan terbesar, yaitu manajemen waktu. Mereka harus membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga sehingga hal ini bisa menyebabkan stres dan kelelahan. Seorang wanita juga sering merasakan beban untuk mencapai kesuksesan baik dalam menjalankan karier maupun dilingkungan rumah. Menjaga keseimbangan ini sering menimbulkan perasaan bersalah dan kekhawatiran karena mereka merasa mengabaikan salah satu peran dan merasa gagal dalam peran lainnya.
Tantangan lainnya adalah adanya stigma atau perspektif negatif yang dapat memperburuk kondisi psikologis, banyaknya anggapan bahwa seharusnya seorang wanita lebih fokus terhadap keluarga dan jika mereka lebih memilih karier dianggap kurang peduli terhadap anak-anak atau rumah tangganya. Tantangan ini menyebabkan stres berkepanjangan karena selalu mencoba memenuhi keinginan dari kedua peran yang dapat menyebabkan depresi. Maka dari itu, dukungan dari pasangan merupakan salah satu peran penting dalam keputusan seorang wanita untuk bekerja atau tidak. Keterlibatan pasangan dalam memberikan dukungan finansial dan emosional dapat memberikan ketenangan pikiran yang penting bagi wanita saat merencanakan karier mereka, dengan adanya dukungan, wanita merasa lebih aman untuk fokus pada pekerjaan mereka tanpa khawatir tentang dampak ekonomi bagi keluarga. dukungan emosional memiliki peran yang signifikan untuk wanita. Saat pasangan memberikan dukungan emosional seperti mendengarkan keluhan dan memberikan semangat, perempuan akan merasa dihargai dan termotivasi, dengan adanya dukungan ini dapat menurunkan tingkat stres dan meningkatkan kepercayaan diri pada seorang wanita.
Peningkatan kesadaran sosial bisa dilakukan melalui pendidikan yang lebih luas untuk dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesetaraan gender dan nilai dari kedua peran, baik sebagai wanita karier maupun ibu rumah tangga. Hal ini dapat membantu mengurangi stigma negatif dan mendukung pilihan hidup perempuan. Selain melalui keluarga dekat, kebijakan dari pemerintah merupakan salah satu langkah penting seperti menerapkan kebijakan cuti melahirkan yang lebih baik, fleksibilitas jam kerja, serta program pengembangan karier untuk wanita. Meningkatkan kesadaran akan pentingnya dukungan dari pasangan dalam menjalani peran ganda. Pendidikan mengenai pembagian tugas di rumah tangga perlu ditingkatkan agar pasangan dapat saling mendukung satu sama lain. Dengan mengikuti langkah-langkah tersebut, diharapkan akan muncul lingkungan yang mendukung bagi perempuan untuk menjalani peran ganda sebagai profesional dan ibu rumah tangga, yang dapat membantu mereka meraih kesejahteraan diri dan keluarga dengan seimbang.(*)
Oleh Ataya Talita Sakhi (Ilmu Hukum UNNES)