Oleh M Hafizhi Gavindra Zulma (Ilmu Hukum UNNES)
Pandemi Covid-19 membawa tantangan besar bagi dunia pendidikan. Dengan beralihnya metode pembelajaran ke mode daring, banyak siswa di Indonesia learning loss terutama di kemampuan membaca,m enulis, dan berhitung. Menurut penelitian, banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam mengakses pembelajaran daring, yang mengakibatkan penurunan kemampuan akademis, khususnya dalam literasi dan numerasi. Pascapandemi, pemerintah Indonesia melalui Kementrian Pendidikan, Kebudayaan,Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) meluncurkan sejumlah program pemulihan pembelajaran.
Menurut laporan UNICEF , 70% siswa Indonesia mengalami penurunan kompetensi akibat pembatasan pembelajaran tatap muka selama pandemi. Kesulitan ini diperburuk oleh kesenjangan digital, dimana hanya sebagian siswa yang memiliki akses ke perangkat belajar daring. Learning loss paling parah terjadi di wilayah 3T (terdepan,terluar, dan tertinggal) dimana akses internet dan guru yang kompeten sangat terbatas. Dan data menunjukkan bahwa hanya sekitar 40% rumah tangga di Indonesia memiliki akses internet stabil, sehingga siswa di daerah terpencil mengalami ketertinggalan yang jauh lebih besar dibandingkan siswa di perkotaan.
Banyak dampak yang ditimbulkan akibat pembelajaran melalui daring yaitu learning loss salah satunya, siswa juga mendapatkan tekanan psikologis seperti stress dan kecemasan akibat isolasi sosial dan tekanan akademik, juga ketimpangan pendidikan di wilayah 3T, dimana infrastruktur pendidikan yang minim dan kekurangan guru terlatih menghambat implementasi program pemulihan. Jika masalah ini tidak segera diatasi, Indonesia berisiko mengalami dampak jangka panjang berupa penurunan kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu, pemulihan pembelajaran harus menjadi prioritas nasional agar siswa dapat kembali mengejar ketertinggalan dan memastikan keberlanjutan pendidikan yang berkualitas.
Untuk mengatasi masalah learning loss dan tantangan dalam program pemulihan pembelajaran pascapandemi, ada beberapa solusi yang bias diterapkan. Pertama, memperluas infrastruktur digital seperti internet dan perangkat belajar di wilayah 3T. Implementasinya yaitu pemerintah dapat menggandeng sektor swasta untuk menyediakan perangkat digital murah atau layanan internet bersubsidi. Program offline learning berbasis aplikasi juga dapat menjadi alternatif bagi wilayah tanpa akses internet.
Kedua, mengadakan pelatihan intensif bagi guru untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan mereka dalam menerapkan Kurikulum Merdeka. Implementasinya yaitu pelatihan ini harus dilakukan secara berkala, baik secara langsung maupun daring, dan disertai pendampingan selama proses pembelajaran.
Ketiga, meningkatkan keterlibatan orang tua dan komunitas dalam mendukung proses belajar siswa. Penerapannya adalah membuat program seperti kelompok belajar komunitas atau bimbingan belajar di lingkungan sekitar dapat membantu siswa yang mengalami kesulitan.
Empat, memonitor dan evaluasi program, mengukur efektivitas program pemulihan secara berkala untuk memastikan keberhasilan implementasi. Implementasinya yaitu pemerintah dan pihak sekolah perlu menetapkan indikator keberhasilan yang jelas, seperti peningkatan nilai siswa atau tingkat kehadiran.
Program pemulihan pembelajaran pascapandemi merupakan langkah penting untuk mengatasi dampak besar yang ditinggalkan oleh pandemi COVID-19 terhadap pendidikan di Indonesia. Meskipun sudah ada berbagai upaya yang diluncurkan, seperti Kurikulum Merdeka, program remedial, dan asesmen nasional, tantangan besar tetap ada. Kesenjangan digital, keterbatasan akses di daerah 3T, dan dampak psikologis yang dialami siswa memperburuk permasalahan ini. Untuk itu, keberhasilan program pemulihan sangat bergantung pada pemerataan sumber daya, peningkatan pelatihan bagi guru, dan pemanfaatan teknologi yang lebih baik.
Untuk mengatasi permasalahan dalam pemulihan pembelajaran pascapandemi, pemerintah harus lebih fokus pada pemerataan akses pendidikan, khususnya di daerah tertinggal dan 3T. Pembangunan infrastruktur pendidikan yang memadai, seperti akses internet dan perangkat belajar, sangat penting agar seluruh siswa dapat mengakses materi pembelajaran secara setara.
Selain itu, pelatihan berkelanjutan untuk guru juga perlu diperkuat agar mereka dapat mengelola dan mengimplementasikan Kurikulum Merdeka secara efektif. Peningkatan kapasitas guru dalam menghadapi pembelajaran yang fleksibel dan berbasis teknologi akan sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan setiap siswa. Selain aspek akademik, dukungan psikologis bagi siswa juga sangat penting, mengingat banyak di antaranya mengalami stres dan kecemasan akibat pandemi. Sekolah perlu menyediakan layanan konseling yang dapat membantu siswa kembali beradaptasi. Terakhir, untuk memastikan keberhasilan pemulihan pembelajaran, pemanfaatan teknologi harus lebih merata. Pengembangan sistem pembelajaran berbasis aplikasi offline atau yang tidak bergantung pada akses internet akan sangat membantu di daerah yang masih terbatas jangkauan teknologinya. Dengan kolaborasi antara pemerintah, sekolah, masyarakat, dan sektor swasta, diharapkan pendidikan Indonesi dapat pulih dan berkembang lebih baik. (*)