Kebersihan Lingkungan Tugas Siapa?

Pada zaman modern ini tentu semakin cepat informasi beredar dengan mudah, baik itu fakta maupun tidak. Terutama dengan adanya beragam sosial media yang dengan mudah siapa saja menggunakannya baik orang dewasa bahkan hingga anak kecil sekalipun. Tren yang sering bermunculan di sosial media menjadi suatu lifestyle yang wajib untuk diikuti para remaja, baik dari segi fashion, makanan, minuman, tempat, atau hal-hal lainnya. Dengan begitu, sangat mudah sekali untuk mengatur seseorang dengan membuat algoritma yang berulang kali sama terhadap mereka. Tetapi mengapa, algoritma tersebut tidak digunakan dengan baik untuk kepentingan bersama, yaitu masalah kebersihan lingkungan.

Tentu saja kita semua pasti sudah pernah mendengar dengan kumpulan lima pemuda yang mempunyai inisiatif untuk membersihkan sampah-sampah kotor yang berada di pantai maupun sungai, iya benar pandarawa group. Mereka memulai aksi mereka berawal pada pertengahan tahun 2022 dengan alasan mereka sering kali menjadi korban banjir karena menumpuknya sampah-sampah tersebut. Tentu saja awalnya mereka memulai aksi mereka hanya disekitaran Bandung saja, tetapi ketika mereka sudah mulai terlihat di kalangan umum, mereka mulai menggerakkan wilayah-wilayah lain untuk dapat mengikuti aksi mereka itu.

Pada tahun 2023, marak juga wilayah-wilayah lain bahkan pemuda-pemuda lain yang mengikuti aksi tersebut dan mengunggahnya di sosial media. Tetapi satu hal yang disayangkan, aksi tersebut hanya berhenti disitu saja. Ketika pandawara group sudah tidak lagi menjadi suatu tren, hilang juga pemuda-pemuda hingga wilayah-wilayah yang melakukan aksi pembersihan sampah itu. Bahkan sempat ramai kabar bahwa kawasan-kawasan yang sempat pandawara group bersihkan kembali kotor karena masyarakat lokal disana masih  marak melakukan pembuangan sampah secara sembarangan.

Permasalahan Klasik

Permasalahan lingkungan ini sebenarnya sudah menjadi permasalahan umum sejak lama. Bahkan permasalahan sampah di dunia ini sudah dapat dikatakan sangat darurat,. Perkembangan manusia serta teknologi membuat semakin banyaknya limbah dan sampah yang ada. Dengan semakin bertambah dan meningkatnya jumlah penduduk dengan segala kegiatannya, maka akan berpengaruh juga terhadap jumlah buangan limbah yang ditimbulkan oleh aktifitas dalam rumah tangga yang meningkat. Limbah rumah tangga memiliki banyak sekali dampak. Limbah rumah tangga yang berupa padat organik dan didegradasi oleh mikroorganisme dapat menimbulkan bau yang tidak enak atau bau busuk akibat dari penguraian limbah menjadi lebih kecil yang di sertai oleh pelepasan gas yang berbau tidak enak. Limbah organik yang mengandung protein lebih menghasilkan bau yang tidak sedap atau lebih bau busuk dikarenakan protein itu mengandung gugus amin dan akan terurai menjadi gas ammonia (Kristanto, Philip. 2002).

Meskipun adanya perkembangan teknologi tersebut, memang telah memberikan suatu solusi dalam menangani permasalahan limbah sampah di dunia, tetapi apakah permasalahan limbah sampah yang ada telah hilang? Tentu tidak. Meskipun telah banyak teknologi-teknologi yang membantu masih banyak sekali oknum-oknum yang dengan sengaja membiarkan permasalahan tersebut. Perusahaan-perusahaan yang masih membuang limbahnya tanpa adanya pengelolaan, limbah rumah tangga yang dibuah tanpa ada pemisahan, serta oknum-oknum yang masih saja  membuang sampah sembarangan.

Bahkan jika kita lihat dari segi pemerintahan, mereka juga telah menyediakan fasilitas bank sampah yang dapat menukarkan limbah sampah mereka yang telah dipilah dan dapat ditukarkan menjadi uang. Bahkan bank sampah yang ada di daerah saya yaitu Banyuwangi, telah terdapat sosialisasi kepada ibu-ibu rumah tangga untuk dapat merecycle sampah yang masih dapat di daur ulang.

Tak hanya itu, disana juga terdapat pengelolaan sampah organik maupun an-organik untuk dijadikan suatu kompos dengan menggunakan maggot. Lalu disini menjadi salah siapa? Pemerintah sudah berusaha agar menyediakan fasilitas untuk mengelola limbah sampah tersebut, beberapa instansi juga sudah mengelola limbah sampahnya sendiri, serta menyediakan pembuangan sampah yang cukup.

Pendidikan juga sudah cukup mengajarkan pentingnya membuang sampah pada tempatnya serta cara mengelola sampah tersebut, dari masyarakat juga beberapa ada desa atau wilayah yang melaksanakan sosialiasi untuk mengelola sampah, masyarakat juga sempat membuat aksi-aksi pengelolaan sampah, dan bahkan menurut saya pribadi semua kalangan masyarakat paham caranya serta pentingnya membuang sampah pada tempatnya dan cara mengelolanya. Tetapi mengapa masih banyak permasalahan sampah di Indonesia ini? Dan salah siapakah ini? (*)

Aneira Taqi

Fakultas Hukum

Universitas Negeri Semarang