Oleh Fasya Meyusma Setyobudi
Kalian tahu bahwa perubahan iklim juga dipengaruhi oleh hasil globalisasi? Perubahan iklim sendiri diartikan sebagai perubahan jangka panjang dalam pola cuaca tertentu di suatu wilayah dan sering dikaitkan dengan pemanasan global. Jadi sebenarnya globalisasi dan perubahan iklim saling terkait, di mana globalisasi sering kali memperburuk perubahan iklim melalui peningkatan produksi dan konsumsi yang tidak berkelanjutan. Seperti yang dikutip dari Triwikrama dalam Jurnal Ilmu Sosial, bahwa globalisasi membawa dampak negatif pada lingkungan seperti meningkatkan pemakaian sumber daya alam yang tidak berkelanjutan (minyak dan gas), meningkatkan emisi gas rumah kaca dan limbah industri, serta merusak lingkungan dengan cara deforestasi dan degradasi lahan. Ini merupakan hal yang sangat serius, sehingga penting bagi kita semua untuk memahami dampak dari globalisasi terhadap lingkungan. Karena sejatinya makhluk hidup sehari-harinya sangat bergantung pada lingkungan, sehingga kesehatan dari lingkungan perlu diperhatikan demi kenyamanan dan kelancaran kehidupan.
Salah satu dampak paling mencolok dari globalisasi lingkungan yaitu eksploitasi sumber daya alam. Karena di negara-negara maju dan berkembang pemanfaatan sumber daya alam digunakan tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang pada lingkungan dan masyarakat. Contohnya ada di Indonesia, seperti yang diungkapkan Annisa Nur Lathifah, S.Si., M.Biotech., M.Agr., Ph.D., yang merupakan Dosen Program Studi Teknik Lingkungan UII pada kajian keilmuan bertemakan SDA Indonesia yang digelar oleh LEM UII secara daring, bahwa Indonesia sangat kaya akan ekosistem, seperti hutan hujan tropis yang digunakan sebagai habitat keanekaragaman flora dan fauna. Meskipun begitu, Indonesia menduduki peringkat ketiga dunia deforestasi hutan pada tahun 2018 karena sejak tahun 2015 sekitar 30 persen hutan konservasi rusak akibat perambahan hutan oleh masyarakat. Annisa juga menyebutkan bahwa perlindungan laut di Indonesia juga masih terancam, rata-rata 58 persen menjadi 48 persen pada tahun 2016, dan 61 persen menjadi 55 persen pada tahun 2017 yang disebabkan aktivitas manusia seperti reklamasi pantai, polusi minyak, penambangan pasir dan karang, serta pembuangan sampah ke laut.
Lalu terdapat emisi gas rumah kaca yang juga mempengaruhi perubahan iklim pada era globalisasi ini. “Peningkatan emisi gas rumah kaca antropogenik sebagian besar didorong oleh pertumbuhan dan bertambahnya populasi manusia” (IPCC, 2014). Jadi bisa dikatakan bahwa aktivitas sehari-hari manusia dapat meningkatkan emisi gas rumah kaca di atmosfer. Berdasarkan studi yang dilakukan Schmitz (2017) manusia menghasilkan; Karbon Dioksida (CO2), Metana (CH4), Dinitrogen Oksida (N2O), dan Gas berfluorinasi yang dapat meningkatkan gas rumah kaca. Produksi dan penggunaan energi (seperti bahan bakar kendaraan) menjadi sumber emisi gas rumah kaca terbesar di dunia (sekitar 75 persen dari total pada tahun 2015). Pengamatan juga dilakukan oleh Global Atmospheric Watch (GAW) di seluruh dunia menunjukkan grafik rata-rata bulanan gas rumah kaca global naik setiap tahunnya. Menurut informasi dari artikel utama Buletin Gas Rumah Kaca Vol. 01 No. 01 yang diterbitkan oleh BMKG, di Indonesia terdapat 3 titik pemantauan gas rumah kaca, yaitu di Bukit Kototabang, Palu, dan Sorong yang menggunakan flask sampling sebagai alat pemantaunya. Sedangkan untuk daerah urban terletak di Kemayoran dan Semarang menggunakan alat peralatan pemantau GRK otomatis.
Selain itu, terdapat juga limbah industri yang termasuk dalam perubahan iklim dalam globalisasi. Semakin banyaknya populasi manusia, semakin banyak terciptanya lapangan kerja seperti industri pabrik. Sedangkan, industri pabrik menghasilkan banyak asap akibat dari produksinya, hal ini dapat mengakibatkan polusi udara dan membuat lingkungan tercemar sehingga terjadi pemanasan global. Terkadang pula, terdapat beberapa pabrik industri yang belum menerapkan cara pengelolaan limbah dengan benar sebelum dibuang. Mereka dengan mudahnya membuang hasil limbah pabrik ke lingkungan tanpa memikirkan dampaknya untuk kesehatan makhluk hidup, akibatnya sungai dan tanah banyak tercemar karena limbah ini. Pencemaran ini dapat menyebabkan munculnya beberapa penyakit mematikan, contohnya malaria.
Faktor lain penyebab perubahan iklim yaitu deforestasi atau alih fungsi hutan. Maraknya kegiatan penebangan secara liar mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan dan dapat mendatangkan peristiwa bencana alam seperti tanah longsor dan banjir. Hutan juga berperan dalam menyimpan cadangan karbon secara besar dan mampu menyerap karbon dioksida berlebih yang ada di udara lalu mengkonversinya menjadi oksigen melalui proses fotosintesis yang dapat menyimpan karbon lebih dari dua ratus miliar ton. Sehingga deforestasi sangat mempengaruhi perubahan iklim karena berkaitan dengan karbon-karbon di udara dan tanah gambut. Dapat diketahui bahwa perubahan iklim membawa pengaruh yang sangat besar bagi kehidupan. Sebagai makhluk hidup yang sangat bergantung kepada lingkungan alangkah baiknya kita dapat memahami betul faktor-faktor perubahan iklim yang disebabkan oleh globalisasi supaya kita dapat menanggulangi hal tersebut dan menjaga keseimbangan ekosistem lingkungan. (*)