Desa Bukit Batu, sebuah desa kecil yang tenang di Kabupaten Katingan. Hanya bertempatkan di tepi hutan, sering sekali kabut tipis yang menyelimuti pepohonan tinggi. Juga kerap dibekali angin pelan yang membawa aroma tanah basah dan dedaunan tua. Tak hanya itu, disini juga terkenal dengan Batu Suli, batu keramat yang konon pernah diinjak oleh seorang dewa.
“Kalau kamu mau ke Batu Suli, jangan cuma pakai kaki. Hati juga harus bersih,” ujar Pak Radit, seorang marbot musola yang kebetulan menjadi narasumberku . Suaranya pelan namun penuh wibawa. Lelaki paruh baya itu terkenal hafal dengan Sejarah akan batu suli .
Di desa ini, kisah tentang Batu Suli bukan sekadar dongeng. Ia adalah bagian dari kehidupan, bagian dari warisan yang dijaga dengan penuh hormat. Setiap anak yang lahir, setiap upacara besar, bahkan setiap musim tanam dimulai dengan doa ke arah batu itu. “Ia adalah awal dari semuanya,” kata Pak Radit.
Katanya untuk mencapai lokasi tidak mudah: menuruni lembah, menyeberangi sungai kecil, lalu mendaki bukit yang dikelilingi pohon tua. Udara di sana berbeda. Dingin, lembap, namun mengandung ketenangan yang sulit dijelaskan. Langkah demi langkah terasa berat, bukan karena lelah, tetapi karena perasaan kagum yang tumbuh dalam dada. Pak Radit tampaknya masih ingat betul saat dia kesana tahun lalu
“Dulu sekali, sebelum manusia mengenal logam dan mesin, dewa turun dari langit. Ia tidak membawa petir atau badai, melainkan cahaya dan petunjuk hidup,” lanjut Pak Radit sambil menatap langit. “Ia menginjakkan kakinya di batu itu, dan sejak saat itu, tempat ini dianggap suci.”
Batu besar itu berwarna abu-abu gelap. Di permukaannya, terlihat jelas sebuah lekukan berbentuk telapak kaki — besar dan dalam, seolah benar-benar pernah diinjak oleh makhluk agung. Di sekitarnya terdapat kain adat, dupa sisa pembakaran, dan bunga-bunga segar yang ditaruh dengan penuh hormat.
“Orang-orang ke situ bukan untuk meminta kekayaan,” kata Pak Radit , “mereka datang untuk mencari ketenangan, mendoakan keluarga, dan menghormati jejak leluhur.” Setiap hari tertentu, biasanya saat bulan purnama, warga datang membawa alat-alat peribadatan—rebana, gong kecil, dan tabuhan bambu. Mereka menyanyikan nyanyian kuno yang hanya dimengerti oleh tetua-tetua adat.
Namun, seiring waktu, Batu Suli juga mulai menarik perhatian masyarakat lokal yang penasaran akan kisahnya. Banyak yang datang hanya untuk melihat langsung jejak kaki itu dan mengabadikan momen melalui foto dan video. Mereka turut menikmati keyakinan bahwa pernah ada dewa yang turun di sana, namun tidak untuk beribadah, hanya sebagai bentuk kekaguman pada cerita dan budaya yang melekat.
Aku memperhatikan wajah Pak Radit yang tenang. Di balik sorot matanya, aku melihat keyakinan yang dalam. Meskipun zaman sudah berubah, ia tetap menjaga tradisi dan nilai-nilai yang diwariskan turun-temurun.
“Apa pernah ada kejadian aneh di situ, Pak?” tanyaku dengan rasa ingin tahu.
Ia tersenyum tipis. “Pernah. Ada orang luar yang datang sembarangan, tertawa-tawa, memanjat batu itu. Pulangnya, ia tersesat di hutan sampai dua hari dua malam. Padahal, jaraknya hanya sepelemparan batu dari desa.” Ia menatapku serius. “Tempat itu bukan untuk dipermainkan.”
Aku mengangguk perlahan. Ada aura yang tak kasat mata di tempat ini. Rasanya seperti berdiri di antara dua dunia yang berbeda yaitu dunia manusia dan dunia yang lebih tinggi, lebih sakral.
Aku sempat memejamkan mata sejenak, mencoba merasakan betul tentang cerita tadi. Entah mengapa, Mitos itu seperti nyata bagiku. Kepercayaan orang dulu mungkin bukan hanya untuk dihormati, namun juga untuk diambil pelajarannya . Mungkin fakta, mungkin juga bukan.
lLangit mulai gelap. Tapi hatiku terasa terang. Kini aku tahu, bahwa Batu Suli bukan hanya legenda. Ia adalah pengingat bahwa ada hal-hal yang tak bisa dijelaskan oleh logika.(*)
Oleh Mochammad Syaqif Syaputra Salafy Ichsan