Asal Mula Jaran Kepang di Purworejo

Pada zaman yang telah berlalu terlalu lama, khususnya di Tanah Jawa yang sangat indah yang dikerumuni oleh tradisi yang banyak makna. Pada saat itu, sebuah perdesaan yang makmur meski pada zaman tersebut merupakan zaman dengan kehidupan yang primitif. Meski begitu, ajaran nenek moyang mereka sangatlah melekat ditambah dengan daerah yang subur sehingga kemakmuran menjadi khas daerah tersebut. Di daerah itu memercayai bahwa sumber kemakmuran yang berlangsung lama tersebut merupakan hidayah atau anugerah dari ajaran leluhur mereka yang turun temurun diwariskan kepada keturunannya. Sehingga, jika penduduk menginginkan sesuatu, mereka akan berdoa sesuai tradisi yang diajarkan.

Namun, suatu saat ketika para penduduk telah menikmati kemakmuran yang lumayan lama, ujian atau musibah pun melanda mereka. Musibah tersebut berupa kerusakan alam dan bencana alam. Awal dari datangnya musibah itu, para penduduk belum sepenuhnya merasakan derita akan musibah tersebut. Lalu di antara petinggi atau pemimpin daerah tersebut memberi intruksi bahwa mereka harus berdoa seperti yang telah diajarkan oleh leluhur nya.

“Berkumpulah semuanya di lapangan persembahan. Kita akan melakukan ritual bersama-sama agar musibah ini cepat mereda.”

Dengan begitu, semua warga serentak lari berbondong-bondong mengikuti inruksi tersebut dengan membawa beberapa bahan keperluan untuk melengkapi ritual tersebut. Namun, setelah beberapa hari yang telah berlalu saat ritual itu dilaksanakan, suasana masih belum berubah. Menyadari hal tersebut, mereka melakukan ritual lagi agar doa mereka terkabul. Nahasnya, musibah tersebut menjadi lebih parah dibanding beberpa hari yang lalu sebelum mereka melakukan ritual. Menghadapi hal tersebut, penduduk pun mulai kebingungan serta keluhan mereka terdengar dari kuping ke kuping yang membuat kepala daerah tersebut panik karena tidak menemukan solusi untuk masalah ini. Karena dirasa jalan telah buntu, merekapun menyalahkan nenek moyang mereka karena dianggap jiwa atau rohnya lah penyebab dari musibah ini.

Setelah berpikir keras dan membutuhkan waktu yang cukup lama, pemimpin daerah tersebut mnemukan ide atau solusi untuk menghadapi bencana ini. Pada saat itu ia menginstrusikan penduduknya agar tidak menyalahkan nenek moyang mereka karena merekalah yang telah memberikan kemakmuran sehingga daerah tersebut hidup sejahtera.

Tenanglah semuanya.. jangan gaduh menyalahkan nenek moyang kita.. mari kita lebih berusaha untuk berdoa agar musibah kali ini cepat mereda. Kita akan lebih dalam lagi untuk melakukan persembahan agar doa kita cepat terkabul.”

Pemimpin daerah merencanakan agar penduduk desa lebih menguatkan iman mereka selama mereka melakukan doa. Setelah kurang dari satu minggu, musibah itupun mereda dengan lingkungan yang hancur berantakan. Dan pada saat itulah mereka mulai memikirkan agar musibah tersebut tidak terjadi lagi kedepannya. Pada akhirnya mereka melakukan upacara seperti tarian yang dimaksud sebagai tolak bala agar musibah tersebut tidak akan pernah terjadi lagi.(*)

Oleh Iman Agustian