Di tengah riuhnya aktivitas jual beli di Pasar Peterongan, Semarang, terselip sebuah kisah yang jarang diketahui orang. Tepat di sudut timur pasar, ada satu sudut yang selalu tampak berbeda, tenang, bahkan cenderung khusyuk. Di sanalah punden tua berdiri, bangunan kecil seperti altar, sederhana, beratap seng dan berdinding bata yang sudah menghitam dimakan waktu yang dipenuhi sesajen dan bunga melati setiap hari. Orang-orang menyebutnya Punden Mbok Rondo Peterongan. Tidak semua orang tahu asal-usul punden itu. Bagi sebagian pedagang muda, tempat itu hanya dianggap sebagai lokasi ‘wajib’ meletakkan bunga dan dupa setiap pagi. Tapi bagi mereka yang sudah puluhan tahun berjualan di sana, punden itu bukan sekadar symbol melainkan penjaga pasar.
Konon, dahulu kala sebelum pasar ini ramai seperti sekarang, daerah itu hanyalah hamparan tanah kosong yang sering dilewati para pedagang dari pesisir utara ke arah pedalaman. Di sana tinggal seorang perempuan tua, yang dipanggil orang-orang sebagai Mbok Rondo. Ia hidup seorang diri, menjanda sejak muda, dan dikenal sebagai dukun pijat yang sakti sekaligus penolong warga sekitar. Mbok Rondo bukan sembarang perempuan. Ia dipercaya memiliki ilmu yang diwariskan dari leluhur pesisir dan sering dimintai tolong saat musim paceklik tiba. Ia tak pernah meminta imbalan cukup seikat sayur atau segenggam beras.
Meski hidup dalam kesederhanaan, Mbok Rondo tak pernah kekurangan. Tiap pagi ia turun ke desa, membantu orang melahirkan, memijat anak-anak demam, atau meracik jamu dari dedaunan hutan. Tak ada satu pun warga yang berani berlaku kasar padanya. Namun di balik kebaikannya, ada satu hal yang membuat orang enggan sembarangan: ilmunya. Mereka bilang, Mbok Rondo bisa berbicara dengan angin, dan tahu siapa yang sedang berniat jahat, bahkan sebelum orang itu membuka mulut. Meski tak pernah memamerkan kesaktian, warga percaya jangan sekali-kali meremehkan Mbok Rondo. Mereka percaya, siapa pun yang menghina Mbok Rondo akan sial selama tujuh hari tujuh malam.
Waktu berlalu. Setelah Mbok Rondo wafat, tanah tempat tinggalnya dianggap keramat. Warga membangun sebuah punden kecil sebagai bentuk penghormatan. Namun, ketika rencana pembangunan pasar besar digulirkan pemerintah, lokasi punden itu ikut terkena proyek. Seorang saudagar dari luar kota, bernama Pak Salim, datang membawa modal besar. Ia hendak membangun gudang di lahan itu. Meski warga telah memperingatkan soal punden, ia menertawakan mereka. “Tempat ini hanya batu tua dan bunga busuk. Tak ada gunanya,” katanya sambil menendang sesajen yang baru diletakkan warga.
Malam itu, hujan turun deras disertai angin kencang. Gudang yang baru dibangun runtuh seketika, dan sang saudagar menghilang tanpa jejak. Orang-orang mencarinya berhari-hari, tapi ia tak pernah ditemukan. Warga percaya, arwah Mbok Rondo marah karena tempat sucinya dirusak. Sejak saat itu, punden tersebut tidak pernah lagi dibiarkan kosong. Kini, setiap pagi, sebelum pedagang membuka lapak, mereka menyempatkan waktu meletakkan bunga melati dan dupa di punden. Bagi mereka, ini bukan soal mistis atau takhayul, tapi bentuk penghormatan kepada Mbok Rondo penjaga tak kasat mata yang diyakini membawa berkah dan ketentraman. Mereka percaya, selama punden dirawat, rezeki akan lancar dan pasar akan aman dari gangguan.
Beberapa warga juga bercerita, saat pasar sepi di malam hari, terdengar suara perempuan tertawa pelan. Ada yang bilang, kalau berada di Pasar Peterongan saat malam hari dan berjalan ke arah timur, bisa mendengar suara sapu lidi menyentuh lantai pelan-pelan. Dan mereka yang mendengar, tak pernah merasa takut. Sebaliknya mereka merasa aman. Mereka yakin, itu adalah Mbok Rondo yang menjaga pasar dari hal-hal buruk. Kini, kisah Punden Mbok Rondo menjadi bagian dari budaya Pasar Peterongan. Bukan hanya sekadar mitos, tetapi juga cerminan rasa hormat pada sejarah dan leluhur yang pernah menjadi bagian dari tanah itu.(*)
Oleh Fayaquna Wardah Islamadina