Patih Sampun

Pada masa Kadipaten Pemalang dipimpin oleh pendekar sakti yang dikenal dengan Ki Gede Sambung Yudo, dibangunlah pusat pemerintahan di Pedurungan, sehingga Pemalang berkembang pesat dan makmur.

Seiring dengan kemakmuran Kadipaten Pemalang maka perkembangan agama Islam pun meningkat dengan pesat. Kesultanan Demak mengakui Ki Gede Sambung Yudo sebagai Adipati di Pemalang.

Setelah Ki Gede Sambung Yudo meninggal jabatan Adipati diambil alih oleh putranya yang bernama Anom Windu Galbo. Di masa pemerintahan Windu Galbo Kadipaten Pemalang menjadi lebih luas ditambah wilayah timur sampai ke Pekalongan dan Batang, terlebih lagi dibantu oleh Patih sakti yang bernama Cincing Murti.

Pada era Adipati Windu Galbo usaha untuk memperluas kekuasaan Kadipaten Pemalang semakin kuat, salah satu penyebabnya ialah pengaruh kekuasaan Majapahit yang semakin pudar karena perpecahan para pejabat tinggi Majapahit itu sendiri. Sementara munculnya Kesultanan Demak memberikan dorongan yang kuat untuk semakin merdeka memerintah Kadipaten Pemalang.

Kesuksesan Windu Galbo dalam memperluas wilayah tidak lepas dari peran Patihnya yaitu Cincing Murti yang dibantu oleh putranya yang tidak kalah sakti dengan Cincing Murti yaitu Jiwonegoro.

Setelah berhasil menaklukkan Pekalongan dan Batang, Windu Galbo memerintahkan kepada Patihnya yaitu Cincing Murti untuk menaklukkan Tegal, Slawi, dan Brebes. “Pergilah ke arah barat dan bawalah pasukan, segera taklukan wilayah Tegal, Slawi dan Brebes!” ujar Windu Galbo kepada Patih Cincing Murti. 

Sendika dhawuh, Kanjeng Adipati,” jawab Patih Cincing Murti setelah menerima tugas dari Adipati Windu Galbo. Cincing Murti pun mengumpulkan pasukan dan membawa Jiwonegoro untuk ikut menaklukkan Tegal, Slawi dan Brebes.

Setelah melakukan pertempuran panjang Cincing Murti dan Jiwonegoro akhirnya berhasil menaklukkan Tegal, Slawi dan Brebes. Ketiga daerah tersebut pun menjadi bagian dari Kadipaten Pemalang walaupun dibayar mahal dengan meninggalnya Cincing Murti saat melawan pasukan Syaikh Walijoko (Mbah Panggung) dari Tegal. 

Sebelum meninggal Cincing Murti memberikan wasiat kepada Jiwonegoro untuk meneruskan jabatannya sebagai Patih Kadipaten Pemalang. “Teruskanlah perjuanganku, dan abdikanlah hidupmu untuk Pemalang,” pesan Cincing Murti kepada Jiwonegoro. “Baik ayah, aku akan meneruskan perjuanganmu,” jawab Jiwonegoro dengan tegar sembari melihat ayahnya sekarat. Setelah meninggal Cincing Murti dimakamkan di Dukuh Brujulan, Kabunan Kecamatan Taman.

Sejak saat itu Jiwonegoro diangkat menjadi Patih oleh Adipati Windu Galbo dengan sebutan “Patih Jiwonegoro”. Selang beberapa tahun setelah diangkatnya Jiwonegoro menjadi Patih, Adipati Windu Galbo meninggal dunia. Namun Windu Galbo tidak memiliki keturunan sehingga tidak ada pengganti jabatan Adipati dari garis keturunan Windu Galbo, sehingga pada saat itu Pemalang komplang atau Pemalang kosong. 

Akhirnya Jiwonegoro secara otomatis merangkap jabatan sebagai Patih Pemalang sekaligus Adipati Pemalang. Jiwonegoro yang tidak mempunyai ambisi menjadi Adipati kemudian mengutus seseorang untuk melaporkan keadaan Kadipaten Pemalang ke Sultan Pajang yaitu Sultan Hadiwijaya.

Setelah menerima pesan dari utusan Jiwonegoro, Sultan Hadiwijaya mengangkat putranya yaitu Pangeran Benowo menjadi Bupati/Adipati Pemalang dengan membekalinya keris Setan Kober dan memerintahkan Pangeran Benowo untuk mengambil keris kyai tapak. “Sebelum ku angkat dan ku sahkan kau menjadi Bupati Pemalang, aku bekali kau Keris Setan Kober dan kuperintahkan kau untuk mengambil Keris Kyai Tapak untuk berjaga jaga saat menjadi bupati nanti,” kata Sultan Hadiwijaya. 

Sendika dhawuh, Ayah, tetapi dimana aku harus mengambil Keris Kyai Tapak?” tanya Pangeran Benowo kepada Sultan Hadiwijaya.

 “Ambilah keris itu di Sultan Yusup, bilang padanya ini perintah dariku,” jawab Sultan Hadiwijaya. 

Pangeran Benowo pun langsung melaksanakan perintah ayahnya untuk mengambil Keris Kyai Tapak yang berada di tangan Sultan Yusup.

Setelah berhasil memiliki kedua keris Pangeran Benowo dilantik menjadi Bupati Pemalang sekaligus ditetapkannya kembali Jiwonegoro menjadi Patih pada tanggal 24 Januari 1575 M. Pada hari pelantikan Pangeran Benowo menjadi Bupati Pemalang, pada hari itu juga diadakannya acara halalbihalal karena bertepatan tanggal 2 Syawal 982 H yaitu hari

raya kedua Idulfitri sehingga pendapa Kadipaten Pemalang penuh sesak dihadiri para pejabat dan masyarakat. Pada saat itu Pangeran Benowo bertanya kepada Patih Jiwonegoro bahwa biasanya pada acara seperti ini dimeriahkan pula hiburan untuk menambah suasana kebahagiaan, “Apakah Andika Patih tidak menyediakan hiburan?” 

Patih Jiwonegoro pun menjawab “Sampun dipunsediaken,”. Dan seketika itu juga terlihat dari jauh rombongan mendatangi pendopo, terdiri dari serombongan penabuh gamelan menggotong seperangkat gamelan dan tampak pula pesinden dari Desa Gombong (Pemalang Selatan) yaitu Nyai Sarinten.

Semua orang termasuk Pangeran Benowo terkejut dan terheran-heran melihat tiba-tiba saja terjadi setelah Patih Jiwonegoro mengatakan Sampun, padahal sebelumnya tidak ada sesuatupun.

Peristiwa serupa kembali terjadi pada hari Paseban di mana rapat kerja yang dihadiri seluruh masyarakat praja kabupaten, para tumenggung, wedana, dan lain lain. Pada saat itu Pangeran Benowo meminta dibangun sarana untuk memperlancar perhubungan dengan terlebih dahulu dibangun dua jembatan di kota, yaitu Jembatan Banger dan Jembatan Pelawangan, maka dijawab oleh Patih Jiwonegoro bahwa jembatan “Sampun dados,” (sudah jadi) ujar Patih Jiwonegoro. Namun setelah ditinjau di lapangan ternyata tidak hanya dua jembatan yang sudah jadi melainkan 17 jembatan baru di seluruh wilayah Kabupaten Pemalang.

Karena Kekaguman yang luar biasa dan rasa terima kasih Pangeran Benowo kepada Patih Jiwonegoro maka pada Paseban berikutnya Patih Jiwonegoro diberikan gelar oleh Pangeran Benowo dengan sebutan “Patih Sampun Jiwonegoro”.

Patih Sampun Jiwonegoro menjabat patih sampai dengan masa pemerintahan Bupati Mangun Oneng(Mangoneng), karena termakan usia tua Patih Sampun meninggal pada tahun 1616 M dalam pertempuran dan dikalahkan oleh Patih Jongsari dari Alas Roban, kemudian jasadnya dimakamkan di kuburan Depok Slatri Wanareja. Karena jasanya yang begitu besar untuk Pemalang, nama Patih Sampun diabadikan hingga sekarang untuk menamai taman di Pemalang, yaitu Taman Patih Sampun. (*)

Oleh Arul Damar