Nyai Brintik adalah sosok legendaris yang dikenal sebagai murid Sunan Kalijaga dan menjadi tokoh penting dalam sejarah Kampung Gunung Brintik di Kota Semarang. Ia digambarkan sebagai wanita yang selalu mengenakan kebaya lorek-lorek dan jarik putih, dengan rambut brintik atau keriting yang terurai hingga sepunggung. Penampilannya yang khas ini membuatnya mudah dikenali oleh masyarakat setempat.
Kampung Gunung Brintik sendiri merupakan sebuah perkampungan yang terletak di Randusari, Semarang Selatan. Nama kampung ini tidak bisa dilepaskan dari sosok Nyai Brintik, yang dahulu pernah menjadi penguasa di wilayah tersebut, tepatnya di kerajaan Bergota yang berada di dataran tinggi Gunung Brintik. Keberadaannya sebagai penguasa menunjukkan bahwa ia memiliki posisi penting dalam sejarah lokal.
Menurut keterangan dari juru kunci makam Nyai Brintik, Ari Kumalasari, wilayah Gunung Brintik dulunya adalah kawasan yang luas dan masih berupa alas dengan tumbuhan alang-alang yang lebat. Ari yang merupakan generasi ketiga pewaris juru kunci makam tersebut, menjelaskan bahwa penduduk pertama kampung ini adalah keluarganya sendiri. Ini menunjukkan bahwa daerah tersebut sudah lama dihuni dan memiliki nilai sejarah yang kuat bagi penduduknya.
Nyai Brintik dikenal memiliki kekuatan yang luar biasa dan tidak terkalahkan. Ia juga memiliki kemampuan khusus, yaitu dapat mengambil barang tanpa diketahui oleh pemiliknya. Kemampuan ini membuatnya memiliki citra buruk di masyarakat Kota Semarang pada masa itu, karena dianggap sebagai sosok yang misterius dan berbahaya.
Salah satu kisah terkenal tentang Nyai Brintik adalah ketika Kerajaan Demak mengadakan hajatan jamasan pusaka. Mendengar kabar tersebut, Nyai Brintik pergi ke Demak dan mengambil salah satu pusaka keramat kerajaan tersebut. Setelah itu, ia kembali ke wilayah kekuasaannya di Bergota. Namun, pihak kerajaan Demak segera menyadari bahwa pusaka mereka hilang dan melakukan penyelidikan yang mengarah pada Nyai Brintik sebagai pelakunya.
Kerajaan Demak kemudian mengirim prajurit untuk mengambil kembali pusaka yang dicuri oleh Nyai Brintik. Namun, semua prajurit yang dikirim gagal karena Nyai Brintik dengan mudah mengalahkan mereka. Ia hanya mau menyerahkan pusaka tersebut setelah kerajaan Demak mengutus Sunan Kalijaga untuk melawannya. Pertarungan ini menandai titik balik dalam kisah Nyai Brintik.
Setelah dikalahkan oleh Sunan Kalijaga, Nyai Brintik memutuskan untuk memeluk agama Islam dan menjadi murid Sunan Kalijaga. Keputusan ini mengubah hidupnya secara drastis, dari seorang penguasa yang kuat menjadi seorang yang taat beragama dan mengasingkan diri. Ia meninggalkan kerajaannya yang terletak di bukit yang kini dikenal sebagai Gunung Brintik.
Sebelum perkampungan Gunung Brintik dibangun, daerah tersebut merupakan pemakaman umum. Ari Kumalasari menjelaskan bahwa di sana terdapat makam-makam tokoh penting seperti Srikandi dan Ngestipandowo, yang merupakan tokoh wayang.
Pemakaman ini kemudian dipindahkan, dan hal ini diketahui oleh Ari karena ia masih kecil saat proses pemindahan berlangsung.
Makam Nyai Brintik sendiri kini dapat ditemukan di samping musala Al-Falah di Kelurahan Randusari, Semarang Selatan. Keberadaan makam ini menjadi bukti nyata dari legenda yang hidup di masyarakat dan menjadi tempat ziarah bagi mereka yang ingin mengenang sosok Nyai Brintik.
Kisah Nyai Brintik tidak hanya menjadi cerita rakyat semata, tetapi juga mengandung nilai sejarah dan budaya yang penting bagi masyarakat Semarang. Legenda ini mengajarkan tentang kekuatan, perubahan, dan pengaruh Sunan Kalijaga dalam penyebaran Islam di Jawa. Nyai Brintik tetap dikenang sebagai sosok yang kuat sekaligus simbol transformasi spiritual di daerah Gunung Brintik.(*)
Oleh Yasmin Naomi Aji