Di sebuah desa yang tenang bernama Gemiring Lor, hidup dua pemuda yang dikenal banyak orang: Agus dan Abdi. Keduanya sebenarnya berteman sejak kecil, namun hubungan mereka mulai retak akibat suatu peristiwa yang tidak jelas kebenarannya. Mereka saling menuduh, saling menyalahkan, dan tak satu pun dari mereka mau mengalah atau mengaku siapa yang salah.
“Kamu aja yang ngaku, Gus! Jangan nyeret nama aku segala!” bentak Abdi waktu mereka adu mulut di balai desa. “Enak aja kamu! Aku malah yakin kamu yang bohong! Jangan sok polos deh!” balas Agus dengan suara tinggi.
Warga mulai resah, warga desa juga sudah mencoba menengahi, tapi perdebatan keduanya makin panas. Suasana jadi keruh, bahkan sampai menimbulkan perpecahan di antara warga yang mulai memihak salah satu dari mereka. Sampai akhirnya, sesepuh desa angkat bicara dan memberikan usulan tak biasa. Ia berkata, “Jika kalian berdua memang merasa tidak bersalah, buktikan kejujuran kalian. Pergilah ke sumur tua di ujung desa Gemiring Lor, minum airnya. Konon, air itu bisa membedakan siapa yang jujur dan siapa yang berbohong.”
Agus dan Abdi saling pandang. “Setuju aku. Ayo ke sana sekarang juga!” ucap Agus menantang. “Siap. aku buktikan kalo aku nggak bohong,” sahut Abdi. Rasa gengsi dan ingin menunjukkan kebenaran membuat mereka menerima tantangan itu tanpa pikir panjang. Keesokan harinya, dengan disaksikan beberapa warga, mereka berjalan bersama menuju sumur tua yang dikenal angker itu. Sumur tersebut sudah lama tak digunakan, tapi airnya tetap jernih dan sejuk.
Sesampainya di sana, mereka bergantian menimba air dan meminumnya tanpa rasa takut. “Nih, lihat. aku minum, aku nggak takut!” teriak Agus.
Abdi pun menyusul. “Aku juga,” katanya sambil meneguk air dengan ekspresi datar.
Tidak terjadi apa-apa saat itu juga. Warga hanya diam, tak tahu harus percaya atau tidak dengan mitos yang katanya bisa menunjukkan siapa yang berdusta. Akhirnya semua orang kembali ke rumah masing-masing, meninggalkan kisah itu seakan hanya jadi bagian dari drama semata.
Namun beberapa hari kemudian, kabar mengejutkan mengguncang desa. Agus ditemukan meninggal dunia di rumahnya. Tubuhnya tampak tenang, tanpa luka sedikit pun, namun wajahnya terlihat seperti menyimpan ketakutan yang dalam. Kematian Agus menjadi misteri yang tak bisa dijelaskan. Tak ada penyakit, tak ada tanda-tanda kekerasan.
Warga desa pun langsung teringat pada air sumur Gemiring Lor yang diminumnya beberapa hari lalu. Bisik-bisik mulai terdengar: “Jangan-jangan Agus yang sebenarnya berbohong….”
Perlahan-lahan, cerita tentang air sumur itu mulai dipercaya sebagai sesuatu yang sakral. Sejak saat itu, orang-orang mulai menghormati dan mewaspadai keberadaan sumur tersebut.
Abdi, yang selamat, tidak pernah lagi banyak bicara. Ia menjauh dari keramaian dan memilih hidup lebih tenang. Ada yang bilang ia merasa bersalah, ada pula yang yakin bahwa Abdi memang jujur dari awal. Namun satu hal yang pasti, sejak kejadian itu, Abdi tak pernah menyentuh sumur itu lagi.
Cerita kematian Agus menyebar ke desa-desa lain. Orang-orang datang untuk melihat sumur Gemiring Lor dengan mata kepala sendiri. Ada yang datang karena penasaran, ada juga yang datang untuk mengambil air dan mengujinya—meski tak ada yang benar-benar berani meminumnya.
Lambat laun, mitos air sumur Gemiring Lor makin mengakar. Orang-orang percaya bahwa air tersebut hanya bisa diminum oleh orang yang jujur. Siapa pun yang berdusta dan mencoba meminum airnya, konon akan mengalami nasib seperti Agus—meninggal dalam waktu dekat dengan cara yang misterius.
Kini, sumur Gemiring Lor bukan hanya sekadar tempat menimba air. Ia menjadi lambang kejujuran, saksi bisu dari sebuah perseteruan yang berakhir tragis. Cerita Agus dan Abdi terus diceritakan dari generasi ke generasi, menjadi pengingat bahwa kebenaran kadang tak perlu dicari lewat debat, tapi melalui kejujuran dalam hati.(*)
Oleh Naurah Syada Tabina