Senja baru saja turun ketika seorang gadis muda, Ayu, menyusuri pematang sawah dengan keranjang rotan di tangan. Angin sore membawa harum tanah basah dan suara jangkrik yang mulai bersahutan. Langkahnya terhenti di pelataran cungkup kecil yang dikelilingi oleh pohon-pohon rindang. Ia menghela napas pelan, menatap tempat itu penuh hormat.
“Mbah, aku datang lagi,” ucapnya lirih, meletakkan bunga telon di depan cungkup.
Dari balik pepohonan, seorang lelaki tua berkain lurik dan mengenakan ikat kepala muncul dengan langkah tenang. Ia adalah Mbah Karta, penjaga cungkup dan sesepuh desa Blimbinggede.
“Ayu, cucunya Mbah Wireng datang lagi, ya?” tanya Mbah Karta sambil tersenyum hangat.
Ayu mengangguk. “Aku pengin dengar lagi, Mbah… kisah Blimbinggede, kisah Eyang Wireng. Rasanya tiap kali kudengar, selalu beda rasanya di hati.”
Mbah Karta duduk perlahan di batu besar dekat cungkup. Tatapannya jauh, seperti menembus kabut waktu.
“Baiklah, Nduk. Dengar baik-baik ya. Kisah ini tak cuma dongeng… tapi napas desa kita.”
Zaman dulu, jauh sebelum ada listrik atau jalan beraspal, di tengah hutan lebat yang dihuni macan dan suara gamelan malam dari alam, datanglah seorang prajurit. Namanya Wireng. Ia bukan orang biasa. Ia adalah prajurit Pangeran Diponegoro, yang tersisa setelah perang besar berakhir dengan kekalahan.
Lelah, terluka, tapi jiwanya tak runtuh. Wireng memilih berjalan sendiri, menyingkir dari kejaran VOC. Ia mencari tempat untuk bertapa, menguatkan diri demi satu harapan: membalas penjajahan.
Suatu malam, ia tiba di sebuah hutan yang sepi tapi terasa hidup. Udara di sana menggigilkan tulang tapi menenangkan jiwa. “Di sinilah… di sini tempatku bertapa,” katanya pada diri sendiri.
Ia mendirikan sebuah padepokan dari kayu dan bambu. Lalu ia semedi, berdoa, dan menyalakan api semangatnya di tengah hening. Ia membaca wirid, zikir dalam sujud panjang, dan melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai penguat ruhani. Lima waktu dalam sehari, ia tak pernah lalai dari sholat. Ia yakini, hanya dengan kedisiplinan ibadah, jiwa dan raga akan dibimbing menuju jalan kebenaran.
Tak lama, kabar tentangnya sampai ke warga kampung di tepi hutan. Mereka datang, satu per satu, membawa makanan dan harapan. Mereka menyebutnya “Singo Hutan” karena aura dan wibawanya.
“Kami ingin belajar, Kakang Wireng,” ujar seorang pemuda desa waktu itu.
Wireng hanya mengangguk, lalu berkata, “Aku bukan guru. Tapi bila kalian ikhlas, marilah kita sama-sama mencari cahaya. Cahaya-Nya.”
Hari berganti minggu. Wireng makin dihormati. Namun ada satu hal yang membuatnya takjub. Sebatang pohon belimbing raksasa tumbuh megah di dekat padepokannya. Buahnya tak habis, sepanjang musim. Dan tiap malam, bau harum buahnya seperti menuntun semedi.
“Kenapa bisa sebesar itu, Mbah?” tanya Ayu.
“Karena itu bukan pohon biasa, Nduk… itu pohon yang jadi lambang.”
Wireng, lanjut Mbah Karta, percaya pohon itu bukan sekadar tanaman. Ia melihatnya sebagai pertanda dari langit. Belimbing punya lima sisi—dan lima itu bukan sembarang angka. Bagi Wireng, itu lambang dari shalat lima waktu: Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya. Ia selalu mengatakan, “Lima sisi itu seperti lima jari yang terangkat dalam takbir, lima kali sehari kita menghadap-Nya. Selama kita menjaga sholat kita, Allah akan menjaga kita.”
Dan kata “gede”… bukan soal ukuran saja. Tapi tentang keagungan iman, luasnya keikhlasan, dan tingginya harapan. ‘Gede’ itu juga ajakan untuk membesarkan makna sholat dalam hidup. Bahwa dari lima waktu itu, kita bisa menegakkan kehidupan yang lurus, sabar, dan berkah. Gede itu tentang bagaimana seorang hamba membesarkan Allah dalam hatinya setiap kali ia sujud.
Suatu malam, ia berkata pada para pengikutnya:
“Kampung ini… mulai hari ini, kusebut Blimbinggede. Bukan hanya karena pohon ini besar, tapi agar kita semua ingat: kejayaan hanya akan datang kalau kita tekun beribadah, menjaga lima waktu, membesarkan Allah dalam hati, dan memuliakan hidup sesuai ajaran-Nya.”
Lalu tibalah hari itu. Wireng merasa waktunya mendekat. Ia memerintahkan para pengikutnya menggali lubang sakpengadek sakpengawe—tinggi sekitar dua setengah meter. Ia hendak melakukan tapa mluwang, bertapa dalam tanah selama 40 hari 40 malam, mengejar kesaktian pamungkas: aji panglimunan.
Sebelum masuk ke lubang, ia menuliskan surat yang berisi doa, ayat suci, dan wasiat kepada umat agar tetap menjaga shalat lima waktu, berpegang pada tauhid, menunaikan zakat, berpuasa, dan bersyukur dalam segala hal.
“Jangan ganggu aku sebelum waktunya,” pesannya.
Dan mereka menunggu. Hari pertama… ke-10… ke-30… Hari ke-40, lubang dibuka. Tapi… kosong.
“Wireng telah murca,” kata salah satu pengikut dengan mata berkaca.
“Ia menuju sabrang… menyusul junjungannya, Pangeran Diponegoro. Mungkin ia sekarang bertapa di alam ghaib, atau telah berpulang dalam ridho Allah.”
Ayu terdiam. Angin sore menerpa rambutnya yang panjang. Suaranya gemetar ketika bertanya, “Jadi… apa Eyang Wireng benar-benar ada, Mbah?”
Mbah Karta menatap cungkup. “Kalau yang kau cari jasadnya, mungkin tidak. Tapi kalau yang kau cari semangatnya… lihat sekelilingmu, Nduk. Lihat desa ini. Lihat sawahmu, sekolahmu, langgar tempat kita berjamaah lima waktu itu… semua itu ada karena semangat seorang pejuang yang tak menyerah.”
Ayu menunduk, menahan air mata.
“Dan kamu… kamu bagian dari semangat itu, Ayu. Kamu cucunya. Kamu yang akan terus bercerita… agar Blimbinggede nggak pernah lupa darimana ia berasal, dan tetap berjalan di atas jalan yang diridhai Allah.”
Dan di antara riuh suara jangkrik dan harum tanah sore, Blimbinggede terus hidup… dalam doa, dalam cerita, dalam lima waktu yang tak pernah putus, dan dalam semangat yang ditanam seorang prajurit yang tak pernah kembali, namun selalu pulang lewat iman.(*)
Oleh Annisa Firdausi Nuzula