Ayam cemani adalah ayam khas yang berasal dari daerah Kedu Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Ayam ini memiliki khas seluruh badan yang berwarna hitam, mulai dari jenggernya hingga cakarnya bahkan sampai ke organ dalamnya. Itulah alasan yang menjadikan ayam cemani ini unik dan memiliki daya tariknya tersendiri, sehingga banyak orang yang mencari ayam cemani untuk dijadikan ayam hias bahkan harga yang terbilang jauh lebih mahal dari ayam biasa tidak membuat mereka (pencinta ayam cemani) menyerah mencari.
Dikisahkan, pada zaman kerajaan Majapahit dahulu kala. Hiduplah seorang sakti mandraguna dan bijaksana berhati mulia yang sangat dihormati oleh masyarakat bernama Ki Ageng Makukuhan. Ia adalah murid dari Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Selain berguru dan mencari ilmu agama kepada Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga, Ki Ageng Makukuhan juga ikut serta dalam menyebarkan agama Islam di Jawa Tengah. Selain terkenal sebagai pemuka agama, Ki Ageng Makukuhan juga pandai bercocok tanam dan beternak. Ia memiliki ayam peliharaan yang sangat unik, seluruh bagian badannya berwarna hitam kecuali paruhnya berwarna putih.
Suatu hari, Ki Ageng Makukuhan dipanggil untuk menemui Sunan Kalijaga di kediamannya.
Ki Ageng Makukuhan: “Ada keperluan mendesak apa, Sunan? Hingga saya dipanggil menuju kediaman anda.”
Sunan Kalijaga: “Begini, ingatkah kau saat kita berkunjung ke daerah lereng gunung Sumbing itu?”
Ki Ageng Makukuhan: “Saya ingat, Sunan. Daerah yang damai, bersih, dan sejuk itu. Namun sayangnya, masih banyak masyarakat yang menganut paham dinamisme. Mereka masih sangat percaya pada ilmu hitam dan kekuatan gaib”
Sunan Kalijaga: “Maka dari itu, niatku memanggilmu kesini adalah aku ingin memerintahkan engkau untuk berdakwah menyebarkan agama Islam disana. Apakah engkau sanggup, wahai muridku?”
Ki Ageng Makukuhan: “Saya sanggup, Sunan.”
Sunan Kalijaga: “Baiklah. Berdakwalah engkau disana hingga akhir hidupmu.”
Berangkatlah Ki Ageng Makukuhan menuju lereng gunung Sumbing. Tak lupa ia membawa ayam hitam kesayangannya. Sesampainya disana, ia langsung berbaur dengan masyarakat, bahkan tidak memerlukan waktu yang lama. Karena pribadinya yang bijaksana dan pandai serta mendalami ilmu agama, masyarakat menjadi sangat mencintai dan menghormati Ki Ageng Makukuhan. Banyak orang yg berdatangan setiap harinya ke rumah Ki Ageng Makukuhan untuk mengaji, belajar berkebun dan beternak, hingga meminta nasihat atau pertolongan kepada beliau.
Berita tentang adanya Ki Ageng Makukuhan ini menyebar ke segala penjuru daerah, hingga terdengarlah pada seorang sesepuh di daerah itu yang bernama Ki Darjo. Ki Darjo menjadi tempat bertanya dan meminta masyarakat setempat sebelum Ki Ageng Makukuhan datang. Namun, setelah datangnya Ki Ageng Makukuhan, masyarakat menjadi lebih menyukai dan memilih datang kepada Ki Ageng Makukuhan, karena sebenarnya masyarakat kurang menyukai Ki Darjo sebab Ki Darjo ini mempunyai watak yang kurang baik dan pendendam. Ki Darjo hanya memiliki ilmu namun tidak menggunakannya dengan baik, bahkan kerap kali ia menggunakan ilmunya untuk hal yang salah, seperti menyantet orang yang tidak mau mendengarkan atau menganutnya. Dengan datangnya Ki Ageng Makukuhan dan menjauhnya masyarakat setempat, itu membuat Ki Darjo menjadi marah dan dengki kepada Ki Ageng Makukuhan.
Suatu hari, Ki Ageng Makukuhan dipanggil oleh pejabat pemerintah setempat bernama Panembahan Harga Pikuku di kediamannya. Harga Pikuku memiliki seorang anak bernama Lintang Karon yang mengidap penyakit misterius sejak lama dan sulit sekali disembuhkan. Harga Pikuku mengundang Ki Ageng Makukuhan bermaksud agar Ki Ageng Makukuhan membantu menyembuhkan penyakit yang lama diderita Lintang Karon. Ki Ageng Makukuhan menyanggupi dan mencoba menyembuhkan penyakitnya, ia juga membawa ayam hitam kesayangannya dalam proses penyembuhan itu. Dan benar saja, seketika penyakit misterius yang diderita Lintang Karon sembuh, badannya kembali sehat seperti semula.
Nama Ki Ageng Makukuhan semakin harum dikenal di masyarakat setempat sejak Ia berhasil menyembuhkan penyakit Lintang Karon. Masyarakat setempat mempercayai bahwa ayam hitam milik Ki Ageng Makukuhan ajaib, dapat menyembuhkan segala penyakit. Mendengar kabar ini, Ki Darjo semakin marah dan benci kepada Ki Ageng Makukuhan. Ki Darjo mencoba segala cara untuk menyingkirkan Ki Ageng Makukuhan. Mulai dari bertarung secara langsung sampai mengiriminya santet ilmu hitam. Namun, itu semua tidak berhasil menyingkirkan Ki Ageng Makukuhan karena Ia selalu bersama dengan ayam hitamnya. Tiap kali Ki Darjo menyerang Ki Ageng Makukuhan, ia kalah karena Ki Ageng Makukuhan membawa ayam hitam bersamanya. Ini membuat pemikiran tentang keajaiban ayam hitam semakin melesat.
Pada suatu hari murid Ki Ageng Makukuhan yang bernama Selo Amba, menemukan ayam hitam kesayangan Ki Ageng Makukuhan berada di ruang tidur Ki Ageng Makukuhan, namun Ki Ageng Makukuhan tidak ada di tempat tidurnya. Ia mencari cari Ki Ageng Makukuhan di sekitar rumahnya namun tidak juga menemukan pemilik ayam hitam itu. Selo Amba kemudian meminta bantuan kepada warga untuk mencari Ki Ageng Makukuhan. Hingga kemudian, Selo Amba menemukan gurunya tersebut dalam keadaan sudah tidak bernapas di bukit kecil daerah Kedu, entah apa penyebabnya tidak ada yang tahu. Namun masyarakat menduga Ki Ageng Makukuhan meninggal karena serangan Ki Darjo dan pada saat itu Ki Ageng Makukuhan tidak membawa ayam hitamnya. Masyarakat sekarang mengenal tempat meninggalnya Ki Ageng Makukuhan adalah Dusun Makukuhan (diambil dari nama Ki Ageng Makukuhan sendiri), Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung.
Sejak kepeninggalan Ki Ageng Makukuhan, murid murid Ki Ageng Makukuhan akhirnya mengambil seluruh pekerjaan gurunya, termasuk dalam hal merawat ayam hitam kesayangannya. Ayam ayam itu berkembang biak dengan baik, melahirkan anak ayam yang sama dengan induknya yakni berwarna hitam semuanya kecuali paruh.
Hal itu membuat Ki Darjo kembali tidak senang. Ia berniat mencuri ayam hitam peliharaan murid Ki Ageng Makukuhan dan mencoba untuk memelihara sendiri. Ia kemudian berhasil mencuri ayam hitam yang sudah berukuran sedang dan memeliharanya sendiri di rumahnya. Ia mengawinkan ayam hitam itu dengan ayam miliknya yang merupakan ayam kampung biasa. Alhasil anak yang dihasilkan cacat dan berwarna hitam semuanya kecuali pada mata dan paruhnya, tidak sesuai dengan keinginan Ki Darjo. Hal itu diketahui oleh Selo Amba. Selo Amba mendatangi rumah Ki Darjo dan menegurnya, namun Ki Darjo tidak terima. Akhirnya terjadilah perlawanan sengit antara Selo Amba dan Ki Darjo. Namun naas, nasib Ki Darjo tidak beruntung, ia berhasil dikalahkan oleh murid Ki Ageng Makukuhan itu, ia tewas ditempat pada pertarungan itu. Selo Amba kemudian kembali ke tempatnya dan membawa ayam hitam curian Ki Darjo dan anak ayam yang bermata dan berparuh putih itu.
Suatu malam saat Selo Amba nyenyak dalam tidurnya, ia bermimpi didatangi Ki Ageng Makukuhan dan diperintahkan untuk mengawinkan ayam hitam miliknya dengan ayam hasil perkawinan milik Ki Darjo. Selo Amba sempat bingung dan menolak karena ayam milik Ki Darjo cacat. Namun, Ki Ageng Makukuhan tetap teguh memerintahkan Selo Amba untuk mengawinkannya. Kemudian di keesokan harinya, Selo Amba mengawinkan ayam hitam milik Ki Ageng Makukuhan dengan ayam cacat milik Ki Darjo. Lalu dari pengawinan itu, dihasilkanlah anak ayam yang sangat unik, seluruh tubuhnya berwarna hitam, mulai dari jengger, mata, paruh, lidah, bulu, ceker, hingga organ dalamnya. Ayam unik berwarna hitam seluruhnya ini kemudian dikenal sebagai “Ayam Cemani”. Sejak saat itu, ayam cemani menjadi ayam peliharaan masyarakat Kedu, yang dianggap keramat dan kerap digunakan dalam ritual mistis. Selain itu ayam cemani dipercayai sebagai pembawa keberuntungan, memiliki kekuatan magis, dan dapat menolak keburukan dari segala makhluk halus.(*)
Oleh Nayla Septita Ningtyas