Zaman dahulu kala, ketika Kerajaan Demak masih berjaya, ada seorang prajurit bernama Ki Jogo. Ia adalah prajurit yang sangat setia kepada Sultan Demak. Selain gagah berani, Ki Jogo juga terkenal sebagai orang yang jujur dan bijaksana.
Pada suatu hari, Sultan memanggil Ki Jogo dan memberi tugas penting. Sultan ingin membuka wilayah baru di sebelah timur kerajaan agar bisa menjadi tempat tinggal rakyat dan ladang pertanian. Wilayah itu masih berupa hutan lebat yang bernama Alas Wonoseto. Banyak orang takut dengan hutan itu karena katanya dihuni makhluk halus.
Meski begitu, Ki Jogo tidak takut. Ia menerima tugas itu dengan ikhlas. Bersama beberapa warga, ia berangkat menuju Alas Wonoseto. Mereka mulai menebangi pohon, membersihkan semak-semak, dan membuka jalan.
Namun, pekerjaan mereka tidak berjalan lancar. Banyak pekerja yang tiba-tiba jatuh sakit. Ada yang hilang tanpa jejak, dan bahkan ada yang meninggal dengan cara misterius. Warga pun mulai ketakutan dan ingin pulang. Mereka percaya bahwa hutan itu dikutuk atau dijaga oleh makhluk gaib.
Melihat keadaan itu, Ki Jogo tidak tinggal diam. Ia lalu bermeditasi dan bertapa di bawah pohon beringin tua di tengah hutan. Ia memohon petunjuk kepada Tuhan agar diberi jalan keluar. Dalam semedinya, Ki Jogo mendapat petunjuk lewat mimpi: ia diminta untuk menancapkan tombak pusaka peninggalan ayahnya ke tanah, tepat di tengah hutan.
Keesokan harinya, Ki Jogo menuruti petunjuk itu. Ia menancapkan tombak pusaka sambil membaca doa-doa. Ajaibnya, setelah itu suasana hutan menjadi tenang. Tidak ada lagi gangguan. Warga yang sakit mulai sembuh, dan pekerjaan bisa dilanjutkan.
Akhirnya, hutan itu berhasil dibuka. Tanah yang tadinya liar dan angker kini menjadi ladang yang subur dan tempat tinggal yang nyaman. Lama-kelamaan, wilayah itu berkembang menjadi sebuah desa.
Untuk menghormati jasa Ki Jogo, warga menamai desa itu “Jogoloyo.” Nama itu berasal dari dua kata: “Jogo,” yang artinya menjaga, dan “Loyo,” yang artinya lelah atau sepenuh hati. Nama itu menggambarkan perjuangan Ki Jogo yang dengan sepenuh hati menjaga dan membangun desa meskipun harus mengorbankan banyak tenaga dan waktu.
Ki Jogo menghabiskan sisa hidupnya di desa itu dan dihormati sebagai leluhur. Hingga hari ini, warga Desa Jogoloyo masih mengenang kisah Ki Jogo. Setiap tahun, mereka mengadakan sedekah bumi dan kirab untuk mengenang perjuangannya dan bersyukur atas berkah yang mereka terima.(*)
Oleh Azfa Fikri Wildannafis