Masjid Menara Kudus menjadi salah satu bangunan masjid tua di Indonesia. Masjid ini dibangun oleh salah satu Wali Songo, yaitu Sunan kudus. Lokasi Masjid Menara Kudus berada di Jalan Menara, Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Nama resmi Masjid Menara Kudus adalah Masjid Al-Aqsa Menarat Qudus.
Menara masjid ini cukup ikonik karena menyerupai bangunan candi dan melambangkan akulturasi budaya masa lalu. Hingga saat ini, Masjid Menara Kudus masih aktif digunakan untuk beribadah umat Islam. Selain itu masjid juga dibuka untuk peziarah ke makam Sunan Kudus.
Masjid Menara Kudus dibangun oleh Ja’far Shadiq, atau yang lebih dikenal dengan nama Sunan Kudus. Usia masjid ini disinyalir sudah hampir 500 tahun. Prasasti yang ada di atas mihrab masjid ini sendiri berangka tahun 956 Hijriah, atau 1549 Masehi. Nama asli masjid ini yaitu Masjid Al-Quds kota suci di Palestina yang bernama Al-Quds, atau juga dikenal Yerusalem. Nama Al-Quds yang kemudian diucapkan sebagai Kudus ini dipilih Sunan Kudus untuk mengobati kerinduannya terhadap tanah kelahirannya tersebut. Pasalnya, Sunan Kudus atau Ja’far Shadiq dilahirkan di Al-Quds, Palestina sekitar tahun1500-an.
Selain sejarahnya yang menarik, Menara Kudus memiliki beberapa mitos-mitos yang tersebar dan terkenal khususnya di kalangan masyarakat Kudus. Mitos-mitos tersebut adalah seperti Rajah Kalacakra yang terpasang di gerbang memiliki mitos bahwa siapapun yang melintas terutama pejabat yang tidak amanah akan kehilangan jabatannya, lalu ada mitos sumur kembar, mitos sumur pnguripan dan mitos-mitos lainnya.
Adapun mitos yang akan dibahas di sini adalah mengenai mitos sumur panguripan, yaitu sumur yang airnya dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, bahkan dapat menghidupkan orang yang sudah mati. Adanya mitos tersebut dikatakan bahwa Sunan Kudus memiliki kemampuan untuk melakukan berbagai mukjizat, termasuk menyembuhkan orang sakit dan mengusir roh jahat.
Pak Deni, narasumber yang saya wawancarai, mengatakan bahwa air adalah sumber kehidupan, apabila dunia tidak ada air maka dunia ini tidak akan bisa berjalan atau hidup, karena setiap makhluk hidup itu pasti membutuhkan air. Yang pasti, banyu panguripan dari sumur tersebut yang konon bisa mengobati atau bahkan bisa menghidupkan orang mati, belum pernah diteliti kebenarannya.
BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya) Jawa Tengah mengatakan bahwa sumur itu berfungsi untuk mengatur temperatur dari bangunan ketika kemarau air sumur menguap dan ditahan uap air itu oleh batu bata menara sehingga batu bata tersebut, semakin kuat dan itu juga yang membuat alas paving dimenara terasa sejuk. Dan penyebab lainnya adalah karena terdapat pohon palem yang berfungsi menampung air hujan, dan penggunaan paving sebagai resapan air.
Jadi dapat disimpulkan bahwa adanya “Sumur Panguripan” bukan sebagai penyembuh atau penghidup orang mati. Keberadaan sumur tersebut memang ada tetapi bukan memiliki fungsi sesuai mitos yang beredar. Sumur tersebut berada di bawah menara yang memiliki fungsi untuk mengatur temperatur dari bangunan ketika kemarau air sumur menguap dan ditahan uap air itu oleh batu bata menara sehingga batu bata tersebut, semakin kuat dan itu juga yang membuat alas paving di menara terasa sejuk.
Dengan demikian, penting bagi kita untuk memahami bahwa mitos yang berkembang di masyarakat sering kali memiliki akar yang berbeda dari kenyataan. Mitos dapat mencerminkan nilai-nilai budaya dan kepercayaan masyarakat, namun kita juga perlu mengedepankan pemahaman yang berbasis pada fakta dan penelitian. Melalui pendekatan ini, kita dapat lebih menghargai warisan budaya yang ada, sekaligus menjaga keseimbangan antara tradisi dan pengetahuan ilmiah.(*)
Oleh Adinda Dewi Larasati Ismailia