| Judul Film | KKN di Desa Penari |
| Penulis Naskah | Lele Laila & Gerald Mamahit |
| Sutradara | Awi Suryadi |
| Durasi Waktu | 130 Menit |
| Kategori Film | Horor |
| Pemain Film | Tissa Biani sebagai Nur, Adinda Thomas sebagai Widya, Achmad Megantara sebagai Bima, Aghniny Haque sebagai Ayu, Calvin Jeremy sebagai Anton, Fajar Nugraha sebagai Wahyu, Kiki Narendra sebagai Prabu, Aulia Sarah sebagai Badadarawuhi, Aty Canser sebagai Sundari, Diding Boneng Zeta sebagai Mbah Buyut, Dwi Sri sebagai Mbah Dok, Andri Mashadi sebagai Ilham, Lydia Kandou sebagai ibu Widya. |
| Tahun Produksi | 2022 |
| Perusahaan produksi | MD Pictures Pichose Films |
Film ini diangkat dari kisah nyata yang menceritakan tentang 6 mahasiswa bernama Nur, Widya, Ayu, Bima, Anton, dan Wahyu. Mereka memilih desa penari sebagai tempat untuk melaksanakan progam KKN (Kuliah Kerja Nyata). Film ini bergenre horor. Suasana menyeramkan sudah dimulai sejak mereka pertama kali menginjakkan kaki di Desa Penari. Sejak awal, Nur mempunyai firasat yang tidak mengenakkan dan merasakan aura mistis di Desa tersebut. Nur diceritakan sebagai tokoh yang memiliki karakter yang agamis dan memiliki kemampuan supranatural yang menjadikan dirinya dapat melihat sosok tak kasat mata. Di film ini, Nur juga diceritakan memiliki sosok penjaga berwujud nenek tua yang bernama si mbok.
Ketika berada di Desa Penari, keenam mahasiswa ini didampingi oleh kepala desa yang akan membantu mereka untuk beradaptasi di lingkungan desa tersebut. Kepala desa menjelaskan bahwa ada aturan yang harus ditaati. Mereka diharuskan menjaga sikap dan mereka juga dilarang melewati gapura yang menjadi pembatas antara wilayah desa penari dengan hutan di belakangnya. Sesampainya di rumah tempat mereka menginap, gangguan mistis pun mulai muncul satu persatu. Dimulai dari Nur yang bermimpi dikejar sosok hitam besar. Gangguan selanjutnya pun dirasakan oleh nur dan Widya ketika mereka hendak mandi. Nur didatangi kembali oleh sosok hitam besar yang pernah datang dalam mimpinya, sedangkan Widya mulai di ganggu oleh sosok penari perempuan bernama Badarawuhi. Sosok Badarawuhi memiliki ketertarikan kepada Widya karena diceritakan bahwa ternyata Widya memiliki getih anget.
Tak hanya cukup sampai Widya, teror-teror yang dilakukan oleh sosok penari perempuan tersebut mulai menyebar dan dirasakan oleh seluruh teman-teman Widya. Pada salah satu adegan dalam film tersebut, Nur bahkan dirasuki oleh sosok nenek tua yang ternyata dia merupakan sosok penjaga dari Nur sendiri. Dari kejadian tersebut, orang-orang menjadi tahu bahwa salah seorang teman Nur telah melanggar sebuah larangan yang ada di desa tersebut. Orang itu melanggar larangan dengan melakukan perjanjian ataupun kesepakatan bersama roh seorang penari perempuan yang disebut-sebut sebagai sosok Badarawuhi.
Keadaan yang sudah sangat mencekam semakin diperparah oleh teman Nur yang bernama Bima. Pada satu malam, Bima secara sembunyi-sembunyi pergi ke sebuah tempat yang seharusnya tidak boleh untuk dia datangi. Tapi ternyata Widya melihat Bima yang sedang mengendap-endap ingin pergi keluar. Dengan hanya bermodal nekat, pada saat itu Widya memberanikan diri untuk mengikuti Bima secara langsung. Ia lantas sadar akan adanya sesuatu yang tidak beres dan mengerikan yang sedang dilakukan oleh Bima. Selain Widya, Ayu juga menjadi sasaran dari teror roh penari. Dia sering kerasukan sosok penari tersebut hingga pada satu adegan, dia memperagakan beberapa tarian tradisional hingga menjadi tidak sadarkan diri. Karena ada suatu hal yang tidak beres, Widya maupun teman-temannya yang lain pun tak bisa menolong Ayu. Semua hal mengerikan yang terjadi pada Ayu merupakan konsekuensi yang harus dia terima. Hal itu merupakan akibat dari perbuatannya sendiri. Cerita film ini masih terus berkelanjutan yang terus menampilkan usaha untuk mengungkap alasan di balik ketidakmampuan Widya maupun teman-temannya yang lain menolong Ayu. Sementara di saat yang bersamaan, Bima terus saja melakukan hal yang mengerikan tanpa mempedulikan kata-kata dan nasihat dari kelima temannya.
Film ini memiliki banyak sekali daya tarik tersendiri yang akan memikat hati para penontonnya bahkan sejak menit pertama filmnya diputar. Film ini mempunyai alur yang tidak membosankan. Suasana mencekam yang tidak pernah hilang menjadikan para penonton semakin penasaran tentang kelanjutan adegan yang ada dalam film ini. Latar belakang cerita yang diangkat dalam juga sangat kuat dan mendalam, sehingga menjadikan para penonton juga ikut merasakan gejolak emosi yang ditampilkan dalam adegan yang ada di filmnya. Film ini juga berhasil membuat para penontonnya merasakan suasana serupa, menjadikan kita seolah-olah berada di posisi mereka yang sedang mengalami adegan menyeramkan itu. Mungkin salah satu penyebabnya karena film ini diangkat dari kisah nyata. Nama tempat atau desa yang dirahasiakan mampu menghipnotis semua penonton dengan suasana mencekam hasil dari kuatnya penggambaran setting dalam setiap adegannya.
Hal menarik lainnya, bahwa film ini sendiri dapat mempertahankan sudut pandang para penontonnya sehingga para penonton dapat terus tertarik dan bisa ikut tenggelam dalam setiap adegan di film tersebut. Suasana tegang dan menyeramkannya sangat terasa. Para pemainnya pun memainkan perannya dengan baik, sesuai dengan karakter tokoh yang ada dalam ceritanya. Film ini bukan seperti film horor biasanya yang lebih banyak mengandalkan suara-suara menyeramkan yang ditampilkan dengan keras, tetapi film ini lebih mengandalkan latar cerita yang memang sudah terasa seram, pengambilan gambar yang begitu epik, ditambah dengan adegan menyeramkan yang selalu muncul tiba-tiba membuat penonton menjadi semakin tertarik untuk terus melihatnya.
Sangat disayangkan film ini memiliki akhir yang kurang jelas dan menggantung. Ending dari film memperlihatkan meninggalnya tokoh bernama Ayu dan Bima. Tetapi, respon dari kedua keluarga tidak diceritakan dan diperlihatkan, padahal ada banyak penonton yang penasaran bagaimana respon kedua keluarga melihat anak kesayangan mereka meninggal dunia. Dalam film ini juga terdapat beberapa adegan dewasa di tengah-tengahnya yang membuat film ini memiliki batas usia untuk ditonton. Unsur dewasa yang ada di dalamnya menyebabkan anak di bawah umur tidak bisa menonton film ini. Lalu alur cerita dari film ini cukup tergesa-gesa, sehingga membuat beberapa orang menjadi sedikit bingung saat menontonnya.
Film ini sangat cocok bagi orang-orang yang menggemari film horor. Para penonton akan ikut terbawa suasana saat menyaksikan setiap adegan yang ada dalam film ini. Para penonton juga seolah-olah akan ikut bergabung dalam setiap adegan yang ditampilkan pada film ini. Adegan-adegan horor dengan nuansa budaya kuno yang masih sangat kental yang terus saja bermunculan membuat para penonton tidak akan mempunyai waktu untuk hanya sekedar menghela napas. Film ini sangat cocok untuk ditonton bersama teman, atau bahkan hanya untuk menemani kesendirian dengan suasana mencekam setiap detiknya di tengah malam para penonton.
Lu’lu’ Nur Fadiya, Lintang Kusumaningrat, Dita Idmania, Alya Luthfi Ghani, Azhar Aji Winanda
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia