Malam Satu Sura di Desa Kuripan

Malam satu Sura adalah malam yang sering dikeramatkan oleh sebagian masyarakat Indonesia. Pada malam ini konon banyak setan atau makhluk halus yang berkeliaran dan beberapa orang juga ada yang beranggapan bahwa leluhur yang sudah meninggal akan datang berkunjung ke rumah di malam itu. Di sebuah desa terpencil di Kabupaten Wonosobo yang bernama Desa Kuripan yang terkenal dengan hasil alam berupa buah salak, pada setiap malam satu suro diadakan sebuah syukuran besar-besaran. Syukuran diadakan di tengah desa tepatnya di lapangan SD Kuripan, pada malam itu semua warga di desa terutama para kepala keluarga berkumpul tanpa terkecuali dan melaksanakan syukuran dengan menyembelih kambing kendit yang akan dibagikan ke seluruh warga desa tersebut untuk wujud syukur dan keselamatan. 

Syukuran tersebut berawal dari adanya tiga pohon beringin besar yang dikeramatkan di desa tersebut sekitar 210 tahun yang lalu. Ketiga beringin besar tersebut terletak di tempat yang berbeda, pohon pertama terletak di jalan masuk SD, pohon kedua terletak di depan toko karnanya, dan pohon ketiga terletak di perempatan desa kuripan. Pada suatu hari, salah satu pohon yang berlokasi di jalan masuk ke SD tumbang. Terdapat keanehan yang terjadi saat yaitu pohon beringin menutupi hampir seluruh desa, namun tidak ada satupun rumah warga yang rusak dan terdampak akibat robohnya pohon tersebut. Pohon beringin seperti di tali agar tidak mengenai rumah warga.

Seorang kepala dusun bernama Pak Sadikrama, diberikan petunjuk melalui mimpi oleh penunggu pohon tersebut, bahwa jika desa tersebut  masih ingin selamat maka harus ada tebusan sebagai ganti keselamatan untuk warganya. Konon penunggu pohon tersebut meminta satu kambing kendit. Kambing kendit adalah kambing berwarna hitam dengan corak putih di tengah tubuhnya. Corak putih tersebut berbentuk lingkaran yang melingkar tanpa putus, menyerupai sabuk atau kendit dalam bahasa Jawa. Akhirnya, kambing kendit dipercaya sebagai sarana dalam upacara tolak bala atau selamatan. Setelah adanya pengganti kambing kendit, kemudian Pak Sadikrama juga diberikan petunjuk untuk memotong dua pohon beringin yang lain. 

Diawali dari mimpi tersebut ritual pemotongan kambing kendit dijadikan tradisi di malam satu suro secara turun-temurun yang diyakini sebagai medium ritual yang dianggap memiliki kekuatan untuk menolong warga Desa Kuripan. Makna dari kambing kendit adalah kendit itu simbol kesatuan, kesemestaan. Garis putih yang melingkar di perutnya artinya juga bertemu. Sehingga artinya holistik, jadi manusia berada di dalam kesemestaan. Wedhus kendit adalah simbol keberanian dan penyerahan diri. Penyembelihan kambing kendit tentunya juga melalui ritual oleh kyai dan para pemangku adat setempat terlebih dahulu. Tibalah saat syukuran malam satu suro kambing kendit yang sudah disembelih oleh dibagikan ke seluruh masyarakat sebanyak 18 RT, bagian kepala dan kaki di tanam di tengah gang masuk desa sebagai pengganti dari pohon beringin pengayom yang telah menjaga keselamatan dan kesehatan Desa Kuripan. 

Lambat lauin, malam satu suro telah menjadi malam yang paling ditunggu dan diyakini oleh warga Desa Kuripan. Tradisi penyembelihan kambing kendit yang telah diwariskan secara turun-temurun, telah menjadi denyut nadi spiritual desa yang tertanam kuat di jantung warganya. Namun, tidak semua generasi muda di Desa Kuripan mampu menerima warisan ini dengan tangan terbuka. Redo, putra dari Pak Lurah Karta. Baru saja kembali dari salah satu kota besar di Jawa Tengah, setelah menempuh pendidikan pertanian. Ia kembali ke kampung halamannya dengan segudang pemikiran dan inovasi tentang pembangunan desa berkelanjutan. Namun, bagi Redo ritual kambing kendit yang merupakan akar kebudayaan di desanya malah dianggap sebagai “takhayul” selalu mengganggu pikirannya. “Pak, kita ini hidup pada abad 21. Masa masih mau percaya sama kambing kendit yang bisa menjaga keselamatan desa?” ujarnya di ruang makan, saat nasi megono masih mengepulkan asapnya seperti cerobong asap pabrik. Pak Karta hanya mendongakkan kepalanya, seraya menatap anaknya dalam. “Tradisi itu seperti akar. Kalau dipotong sembarangan, pohon bisa mati, Do.” Redo terdiam seribu bahasa. Namun dalam benaknya tak bisa bergumam. Apakah keselamatan bisa dijamin hanya dengan menyembelih hewan? Apakah masa depan dapat digapai hanya dengan terus bergantung pada masa lalu saja?

Di sisi lain, Sari yang merupakan cucu dari Pak Sadikrama, orang pertama yang mendapatkan wangsit tentang penunggu pohon beringin, mulai mengalami mimpi-mimpi ganjil. Dalam lelapnya tidur, ia melihat kabut putih menelan desa, dan dari arah tengah lapangan, seekor kambing kendit menatapnya. Matanya merah menyala seperti bara api, dan tubuhnya melingkar membentuk simbol yang tak ia kenali. “Mbak, mimpi lagi?” tanya adiknya, Tono, suatu pagi. Sari mengangguk. “Mimpi itu makin jelas. Aku rasa, ini bukan hanya sekadar bunga tidur.”

Beberapa hari sebelum tibanya malam satu suro, Redo berusaha mengumpulkan para pemuda desa di balai desa. Ia datang membawa proposal dan semangat perubahan. Di depanya terdapat papan tulis bertuliskan besar SYUKURAN TANPA KENDIT. “Kita tetap bisa syukuran. Tapi kenapa harus dengan kambing kendit? Kenapa kita harus percaya pada tahayul, kalau kita bisa berbagi sembako? Bisa adakan bakti sosial? Dunia sudah maju, kita pun harus berani merubah kebiasaan tahayul itu,” ucap Redo dengan lantang dan percaya diri. Sebagian dari pemuda, seperti Yuda dan Lina menganggukan kepalanya serasa menyetujui ucap Redo. Mereka muda, berpendidikan, dan lapar akan kemajuan. Tapi sebagian lain masih diam seribu bahasa, bimbang “Kalau kegiatan itu udah ratusan tahun begini, kenapa harus diubah sekarang?” tanya Wawan. Redo pun menjawab, “Karena perubahan harus dimulai dari pertanyaan.”

Setelah pertemuan itu, kabar pun mulai menyebar seperti air bah. Tapi bukan tepuk tangan yang didapat oleh Redo, melainkan cibiran, khawatir, lirikan curiga, dan percakapan lirih yang cepat berhenti saat ia lewat. Di rumah-rumah, warga mulai saling bertanya: apakah benar kambing kendit tidak disembelih tahun ini? Apakah ini sudah diputuskan? Pak Lurah Karta yang juga merupakan ayah Redo, dipanggil oleh warga. Ia berdiri di depan masjid desa, di hadapan para tetua dan pemuka adat. Di sebelahnya, Mbah Rono membawa tongkat ukir warisan dari kakek buyutnya, juru kunci pertama. “Kulo mboten menentang perubahan,” ujar Pak Karta. “Tapi anak saya mau mencoba jalan baru. Maka… penyembelihan kambing kendit tahun ini kita tunda sampai diadakan musyawarah lebih lanjut.” Kata “tunda” menggantung di udara seperti angin dingin yang mampir tiba-tiba. Warga saling lempar pandang. Ada yang menarik napas dalam-dalam. Ada juga yang menunduk gelisah. Malam itu, langit desa tampak sunyi. Tapi hati warga tidak. Beberapa anak mulai menangis tanpa sebab. Seekor kucing hitam ditemukan mati di dekat mushola dengan posisi aneh, dengan kepala menghadap ke arah pohon beringin tua. Di rumah Sari, suara kentongan terdengar memekikan telinga tanpa ada yang memukulnya. Ibunya menyalakan dupa dan meletakkan bunga tujuh rupa di depan pintu. Sari berbisik, “Mak, kenapa rasanya malam ini berat banget?” Sang ibu hanya menjawab dengan lirih, “Karena ada sesuatu yang menunggu… dan kita menahannya.

Keesokan harinya, bulu kuduk warga meremang. Kambing kendit yang biasanya dipelihara khusus untuk acara syukuran berdiri di tengah jalan desa, matanya memerah, sambil diam mematung dan ada luka melingkar seperti bekas sabuk putih di tubuhnya, tapi bukan corak pada bulunya. Namun seperti terbakar. Redo yang dipanggil ke lokasi hanya bisa diam terpaku. Ia ingin menjelaskan bahwa ini hanya sebatas fenomena biasa. Tapi lisannya membeku. Suara di dalam dirinya mulai berbisik: “Apakah ini salahku?”

Saat malam kembali tiba, angin bertiup sangat kencang. Langit gelap bukan karena awan, tapi seperti ada tirai hitam yang menutupi di atas desa. Udara menhembuskan tanah basah, meskipun tak ada hujan. Lalu… suara kentongan berbunyi sendiri. Tiga kali. Kemudian lima kali. Lalu berhenti. Dari arah barat desa, angin kencang membawa suara seperti ratapan perempuan. Dari timur, anjing-anjing menggonggong secara bersahutan. Di tengah, suara ringkik kuda mulai terdengar, padahal tidak ada satu pun warga yang mempunyai kuda. 

Pada saat yang bersamaan warga mulai berkumpul di lapangan, dengan wajah panik. Ada yang membawa sajadah, ada yang memeluk anaknya, ada juga yang hanya berdiri membatu seraya menatap langit yang hitam legam. Mbah Rono datang dengan jubah putihnya dengan mata merah karena tak tidur. Ia berkata lirih namun pasti, “Penunggu sudah marah. Alam sudah bicara.” Redo menatap mata semua orang, dan untuk pertama kalinya, ia tidak mempunyai jawaban sama sekali. Dalam hatinya, ada suara kecil yang sebelumnya ia abaikan dan kini mulai berteriak: “Kau menunda yang seharusnya dijalankan. Dan kini desa harus membayar semuanya, hahahahaha.”

Keesokan paginya, kambing kendit menghilang dari kandangnya. Jejaknya mengarah ke hutan kecil di belakang desa, tempat yang disebut alas wingit, hutan yang konon menjadi jalur makhluk tak kasat mata. Redo dan Sari memimpin pencarian dan diikuti warga desa. Di tengah rimbunnya hutan, mereka menemukan kambing kendit berdiri di bawah pohon aren tua, tubuhnya seakan bercahaya. Tak bergerak sama sekali, hanya menatap Redo. Redo mulai mendekat, lututnya gemetar. Tapi kambing itu hanya diam saja. Justru ia maju satu langkah, seakan ingin berkata: “Bawalah aku pulang.”

Malam itu, Redo mulai menyerahkan kambing itu pada para sesepuh. Upacara penyembelihan dilaksanakan dalam suasana sakral. Asap kemenyan menyelimuti desa mulai naik perlahan ke langit. Doa-doa Jawa kuno mulai dilantunkan dengan merdu, diiringi dengan suara gamelan yang lirih. Warga mulai berkumpul dengan khusyuk, mengenakan pakaian adat warna gelap.

Redo berdiri paling depan. Tak lagi dengan kepala tegak dan ego tingginya itu, melainkan dengan hati yang telah terbuka. “Maafkan aku… sudah meragukan kalian,” bisiknya.

Air mata Sari mengucur deras. Dalam tatapan gadis itu, Redo bukan lagi sekadar anak lurah, tapi pewaris semangat desa yang sesungguhnya.

Beberapa bulan setelah malam satu suro, Desa Kuripan menjadi lebih hidup lagi. Warga merasakan ketenangan yang belum pernah mereka alami. Ladang salak mulai panen melimpah. Air sumur menjadi sangat jernih. Bayi-bayi lahir dengan sehat, dan para petani mulai berkata angin saat ini berhembus lebih lembut. Redo mencoba mulai menulis ulang buku sejarah desa. Ia menambahkan bab tentang makna filosofis tentang kambing kendit, bukan sebagai hal mistis saja, melainkan simbol keseimbangan antara modern dan tradisi, antara logika dan rasa, antara ilmu dan iman. 

Suatu sore, Redo dan Sari duduk di kursi bambu dekat lapangan, tempat pohon beringin itu dulu berdiri. “Jadi, kamu masih mau ubah desa ini, Do?” tanya Sari, sambil memegang segelas teh jahe. Redo hanya tersenyum, kali ini dengan mata yang teduh. “Iya. Tapi bukan dengan mencabut akarnya. Aku akan bantu desa ini tumbuh, dengan akar yang kuat.”(*)

Oleh Sasti Prasetya Putri