Menyelami Tradisi Kliwonan Kabupaten Batang

Aku tiba di kota kecilku, kota yang katanya krisis identitas akibat tak banyak orang tahu menahu tentang tempat kelahiranku ini. Setelah satu bulan lamanya aku tidak pulang dari perantauan, kini aku pulang untuk mengobati rasa rinduku. Biasanya aku pulang tidak membawa apa pun dari perantauan, namun kali ini aku mempunyai tugas untuk melengkapi nilai yang aku inginkan nantinya. Keesokan harinya aku mulai menggarap, berbekal rasa ingin lebih tahu untuk nantinya aku tambahkan pada ceritaku.

Keesokan harinya aku mulai mengerjakan tugasku. Tujuanku adalah memahami lebih dalam tradisi yang sudah lama tak kulihat dari dekat: Kliwonan. Langkahku membawaku ke pusat kota Batang, ke alun-alun yang menjadi jantung kehidupan masyarakat. Lampu-lampu hias berpendar, aroma makanan dari jajanan kaki lima menyeruak, menciptakan suasana hangat yang akrab. Namun, ada satu hal yang selalu kuincar yaitu kacang godhog yang dibungkus dengan kertas membentuk kerucut terbalik. Setelah membelinya aku kembali pada tujuan awalku, mendekati seorang bapak tua yang duduk di sebelah pohon beringin, di tengah tengah alun alun tentunya. 

Permisi, Pak, kula badhe lenggah teng mriki nggih, Pak,” sapaku. 

“ Oh nggih, Nduk, mangga,” jawabnya sambil tersenyum.

Aku mulai duduk dan menikmati kacang godhok sambil mengamati suasana kliwonan yang sudah terasa berbeda. “Njenengan saking pundi to, Nduk, kok mboten kalih rencang?” tanyanya padaku. 

Kula saking griya, Pak” jawabku. 

Lalu aku mulai membicarakan tentang Kliwonan yang sekarang dengan dulu pada saat aku masih duduk di bangku SD. “Sakniki sampun benten nggih Pak, mboten rame kados rumiyin Kliwonanipun.” aku berkata. 

Nggih Nduk. Tradisi kliwonan punika warisan turun temurun ing Batang. Nanging kathah ingkang sampun lali kaliyan maknane,” Bapak tua menjawab. 

Lalu kami berdua hanyut dalam obrolan itu. Bapak tua menceritakan sejarah kliwonan yang ternyata berhubungan erat dengan sejarah terbetuknya Kabupaten Batang. 

Alun-alun menika mboten sekedar lapangan, nduk. Menika jantungipun kutha Batang. Wiwit kabupaten menika jejeg, alun alun sampun dados pusatipun pamarentahan saha uriping masyarakat. Rumiyin, para panguwasa saha rakyat sami kumpul ing mriki. Sakmenika, donga lan kenangan ingkang ngisi papan menika. Menawi alun alun punika sepi, Batang kados kelangan swarane,” ucapnya pelan. 

Dalam benakku, aku mulai mengingat pelajaran Basa Jawa yang pernah kudapatkan tentang Batang. Ada satu nama yang terpatri dalam sejarah berdirinya wilayah ini yaitu Bahurekso. “Nanging kados pundi Pak, kok saben malem Jemuwah Kliwon?” tanyaku lagi, penuh rasa ingin tahu.

Bapak tua itu tersenyum, matanya menerawang jauh seolah mengingat masa lalu. “Nduk, Jemuwah Kliwon menika dudu dalu ingkang biasa kanggé kulo lan warga Batang. Wektu punika kalebet wekdal ingkang sakral, kebak teges saha sejarah.”Ia mulai bercerita tentang asalusul Tradisi Kliwonan.”

Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun sejak zaman Ki Ageng Cempaluk dan Ki Bahurekso, tokoh yang membuka daerah Batang. Mereka adalah punggawa Kerajaan Mataram yang diperintahkan oleh Sultan Agung untuk menebang hutan Alas Roban dan memusnahkan perampok yang meresahkan masyarakat. Bahurekso, yang juga dikenal sebagai Joko Bahu, sering melakukan tapa di Sungai Lojahan atau Sungai Kramat pada malam Jumat Kliwon untuk mendapatkan kekuatan spiritual. 

Saking mriku, Jemuwah Kliwon dipun anggep minangka dalu ingkang keramat,” lanjutnya. 

Masyarakat Batang mengenang jasa leluhur tersebut dengan mengadakan berbagai ritual dan berharap mendapatkan berkah dan keselamatan.

Aku terdiam, mencerna setiap kata yang diucapkannya. Tradisi Kliwonan bukan sekadar pasar malam atau keramaian di alun-alun. Di balik itu, terdapat nilai-nilai spiritual dan penghormatan terhadap leluhur. 

Bapak tua itu melanjutkan, “Rumiyin, tradhisi menika nglibataken manéka warna ritual kados ta gulingan, inggih punika ngglundhungaken anakanak ingkang asring gerah wonten ing alun-alun, lajeng ngicalaken sandhangan lawas minangka simbol mbucal kesialanipun. Sasampunipun menika, anak-anak dipun adusake nmawi toya saking sumur ing Masjid Agung Batang. Sawisé punika, dipun adani sawuran, inggih menika maringi arta recehan minangka pratanda panuwun dhumateng Gusti.

Aku teringat masa kecilku, ketika ibu membawaku ke alun-alun pada malam Jumat Kliwon. Kami mengikuti ritual berguling di alun alun lalu membuang pakaian bekas dan mandi di masjid alun alun Batang dengan harapan aku tumbuh sehat dan terhindar dari marabahaya. Konon air di tempat wudhu masjid Agung, sebelah selatan berasal dari mata air yang berada di dekat makam Sunan Sendang yang dibawa oleh Raden Joko Cilik. Air tersebut dipercaya dapat menyembuhkan atau menghindarkan penyakit Namun, seiring waktu, tradisi ini mulai berubah. Pasar malam yang dulu hanya sebagai pelengkap kini menjadi daya tarik utama, sementara makna spiritualnya perlahan memudar. 

“Pak, apakah generasi sekarang masih memahami makna sebenarnya dari Tradisi Kliwonan?” tanyaku.

Bapak tua itu menghela napas. “Nanging, kathah ingkang namung ndeleng menika kados pementasan hiburan mawon. tradhisi menika saestu warisan budaya ingkang kebak teges lan makna. Kita kedah nguri-uri lan njagi supados tetep lestari.”

Tradisi Kliwonan bukan sekadar pasar malam atau tempat nostalgia. Ia adalah jembatan antara masa lalu dan masa kini, antara warisan leluhur dan harapan anak cucu. Kliwonan bukan hanya simbol, tapi jembatan antara dunia nyata dan spiritual. Sebuah pengingat bahwa hidup tak hanya tentang hari ini, tapi juga tentang bagaimana kita menghargai akar yang menumbuhkan kita.(*)

Oleh Ferisa Dita Larasati