Pada zaman dahulu kala, di sebuah tanah subur yang kini dikenal sebagai Majalengka, hiduplah seorang pemimpin wanita yang terkenal karena kecantikan, kebijaksanaan, dan kelembutan hatinya. Ia dikenal dengan nama Nyi Rambut Kasih. Julukan itu diberikan karena rambutnya yang sangat panjang, hitam legam, dan selalu wangi seperti bunga melati. Rambutnya dipercaya mengandung kekuatan gaib yang membuatnya disegani oleh kawan maupun lawan.
Nyi Rambut Kasih bukan hanya cantik, tetapi juga bijaksana. Ia memimpin rakyatnya dengan adil dan penuh kasih. Setiap pagi, ia menyusuri jalan setapak di tengah desa, mengenakan kebaya putih dan kain batik, menyapa rakyat yang sedang bekerja di sawah atau pasar.
“Bagaimana hasil panen kalian, Pak Tani?” tanyanya suatu pagi dengan senyum hangat.
“Syukur alhamdulillah, Gusti. Air cukup, tanah subur, dan hama tidak banyak. Semua ini berkat perlindungan Gusti juga,” jawab seorang petani sambil menunduk hormat.
“Jangan berterima kasih padaku. Berterima kasihlah pada alam dan kerja keras kalian sendiri. Tugasku hanya menjaga agar kalian bisa hidup tenteram,” balasnya, sambil membelai kepala seorang anak kecil yang memeluk kakinya.
Rakyat sangat mencintainya. Bagi mereka, Nyi Rambut Kasih tidak hanya seorang pemimpin, tapi juga seperti ibu. Ia selalu mendengarkan keluhan mereka, membantu mereka yang sakit, dan bahkan ikut menanam padi di musim tanam.
Namun, ketenangan itu mulai terusik ketika datang utusan dari sebuah kerajaan besar dari barat. Dengan iringan kuda dan pengawal, mereka membawa kabar dari sang raja yang mendengar tentang kecantikan dan kekuasaan Nyi Rambut Kasih.
“Gusti Nyi Rambut Kasih,” kata sang utusan sambil menunduk, “Tuanku Raja Sang Jagabaya mengajukan lamaran padamu. Ia ingin menjadikan Gusti permaisurinya dan menggabungkan tanah Majalengka dengan kerajaannya.”
Wajah Nyi Rambut Kasih tetap tenang, meski matanya menunjukkan sorot tegas.
“Apakah lamaran itu disertai cinta, atau hanya ambisi untuk memperluas wilayah?” tanyanya tajam.
“Tuanku menginginkan kekuatan dan keturunan dari wanita sebijak Gusti,” jawab sang utusan, mencoba menghindari makna sebenarnya.
Nyi Rambut Kasih menghela napas panjang. “Katakan pada Rajamu, aku tidak bisa menerima lamaran yang berlandaskan nafsu kekuasaan. Rakyatku bukan hadiah pernikahan. Jika ia memaksakan kehendak, aku tidak akan tunduk.”
Utusan itu pun pergi dengan wajah kesal. Beberapa minggu kemudian, datanglah pasukan kerajaan besar itu menyerbu wilayah Majalengka. Mereka ingin merebut tanah dan memaksa Nyi Rambut Kasih menikah dengan paksa.
Perang pun tak bisa dihindarkan. Meski kekuatan pasukan Majalengka jauh lebih kecil, mereka berperang dengan semangat karena mencintai pemimpinnya.
“Rakyatku, jangan takut!” seru Nyi Rambut Kasih dari atas kudanya. “Kita bukan hanya mempertahankan tanah, tapi kehormatan! Kita mungkin kalah jumlah, tapi kita tidak akan kalah jiwa.”
Pertempuran berlangsung sengit. Namun karena kalah jumlah dan persenjataan, pertahanan akhirnya jebol. Dalam kondisi terdesak dan tidak ingin rakyatnya menderita lebih jauh, Nyi Rambut Kasih memutuskan untuk mundur ke puncak Gunung Sangiang bersama beberapa pengikut setianya.
Di sana, saat matahari mulai tenggelam dan langit berwarna jingga keemasan, Nyi Rambut Kasih berdiri di atas batu besar, menatap ke arah lembah yang mulai dikuasai musuh.“Aku tidak bisa membiarkan tubuhku jatuh ke tangan mereka,” ucapnya lirih.
Dia kemudian duduk bersila, menutup mata, dan mulai membaca doa-doa dengan khusyuk. Rambutnya yang panjang tergerai, melambai-lambai diterpa angin gunung. Angin mendadak menjadi sunyi, dan cahaya lembut turun dari langit, menyelimuti tubuhnya.
“Jika aku harus pergi demi keselamatan rakyatku, biarlah aku pergi dalam damai. Tapi semangatku akan tetap tinggal di bumi ini….”
Pelan-pelan, tubuh Nyi Rambut Kasih memudar. Rambutnya yang terurai terakhir terlihat, lalu menghilang bersama hembusan angin gunung. Ia moksa — menghilang bersama raga dan jiwanya secara gaib. Para pengikutnya yang menyaksikan peristiwa itu menangis tersedu. “Beliau tidak mati. Beliau naik ke alam yang lebih tinggi. Dan selamanya akan menjadi pelindung tanah ini…,” bisik seorang abdi tua.
Sejak saat itu, Gunung Sangiang dianggap sebagai tempat keramat. Banyak orang datang untuk berdoa, memohon berkah, atau sekadar mengenang sosok pemimpin agung yang pernah hidup dengan kasih dan keberanian. Di setiap bisikan doa yang mengalir pelan di bawah pohon-pohon tua, nama Nyi Rambut Kasih selalu disebut, sebagai simbol kekuatan seorang wanita, cinta kepada rakyat, dan keberanian menolak tunduk pada ketidakadilan.(*)
Oleh Salsabilah Ajijah Nur Utami