Asal Nama Desa Penerokan Jambi

Waktu itu sekitar akhir abad ke-18, sekitar tahun 1785, ketika waktu masih mengalir lambat dan belum ada jejak manusia yang menetap, hamparan berbagai jenis pepohonan lebat menutupi pedalaman Jambi menyimpan berbagai misteri yang anehnya terasa meneduhkan hati. Ketika pagi menyongsong disertai kabut sejuk memeluk di antara tingginya pepohonan, membuat cahaya matahari mengintip dibalik daun. Burung-burung saling bersahutan, diiringi desir angin yang membawa dedaunan berdansa riang, menghadirkan irama alami yang tenang membuat jatuh hati.

Sekelompok peladang dari hilir Batanghari mulai menapaki rimba ini, mereka datang di bawah sinar mentari yang menyengat, keringat mengucur membasahi pelipis hingga punggung mereka yng terbakar matahari. Di malam hari, hawa dingin menusuk menembus kulit hingga ke tulang, hewan-hewan liar seperti serigala dan jangkrik terdengar begitu jelas meraba indera pendengaran, membuat istirahat pun harus dilakukan sambil merasa awas. Namun mereka terus berjalan, karena keyakinan akan adanya tanah harapan tak pernah padam.

Suatu pagi yang cerah, ketika kabut mulai menipis dan sinar matahari menyinari diantara dahan, mereka tiba di sebuah hamparan luas dengan sungai kecil dialiri jernih air. Embun masih menempel pada setiap helai daun, dan udara pagi dengan baik hati membawa sejuknya aroma tanah yang lebab bak aroma penenang pada rongga hidung menghirup. Mereka berdiri sejenak, bergeming menikmati dengan mata hingga hidung yang dibawa tenangnya, berkata pada tatapan mata satu sama lain “di sinilah ‘rumah’ yang kami cari.”

Mula-mulanya hari di sana dimulai dengan usaha keras tanpa henti. Suara kapak selalu menjadi tanda bahwa hari baru kian dimulai, dengan teduhnya kabut yang belum menghilang, keheningan pun sirna dibawa tawa dan sapaan selamat pagi. Lengan disingsing, pohon ditebang, lahan dibersihkan dari semak dan ranting. Waktu kemudian membawa matahari pada atas kepala tanpa rasa ramah, menimbulkan resahnya diri untuk sejenak mendudukkan tubuh yang gerah, namun tidak mampu padamkan semangat mereka yang merekah.

Di tengah kesibukan, suara tawa kecil kadang terdengar—saling menyemangati, bahkan saat hujan turun tiba-tiba dari langit yang tadinya biru. Hujan di hutan terasa lembut namun lebat, menciptakan bau tanah basah yang khas, membasahi tubuh dan semangat. Ketika hujan reda dan pelangi muncul di balik bukit dengan percaya diri, mereka berucap syukur seolah diberkahi oleh alam.

Unggun api menyala di tengah petang menghampiri malam pada kamp peladang. Pantulan api memberi bayang pada wajah-wajah yang lelah namun penuh harap. Langit malam bersih, bintang bertaburan, dan denting serangga malam seolah menemani para peladang bercerita tentang tanah leluhur dan masa depan anak-anak mereka.

Musim demi musim berlalu. Ketika angin kemarau datang dan langit membiru sepanjang hari, ladang-ladang kecil mulai dipenuhi hijaunya tanaman padi. Pohon buah yang mereka tanam mulai bersemi. Anak-anak kecil mulai bermain di tanah lapang sambil berlari mengejar kupu-kupu di bawah sinar matahari pagi yang hangat.

Penduduk mulai menyebut kawasan itu sebagai “tempat penerokan”—karena di situlah mereka melakukan proses nerok: menerobos dan membuka hutan. Nama itu kemudian disingkat oleh kebiasaan lidah menjadi “Penerokan”. Setiap kali menyebut nama itu, mereka seakan teringat pada pagi-pagi berkabut, siang yang menyengat, dan malam yang penuh cerita di bawah cahaya api.

Kisah asal-usul itu pun terus hidup dalam ingatan. Setiap malam menjelang panen, para tetua duduk di beranda rumah panggung, menceritakan kisah masa lalu kepada cucu-cucu mereka yang mendengarkan sambil memeluk lutut, ditemani angin malam yang bertiup lembut dari arah ladang.

Kini, di pagi hari yang sama, kabut masih turun dan suara ayam bersahut-sahutan seperti dahulu. Tapi rumah sudah berdiri kokoh, jalan telah terbuka, dan kehidupan terus berjalan. Namun setiap desir angin dan aroma tanah basah masih menyimpan jejak masa lalu yang tak pernah hilang.

Desa penerokan bukan sekedar nama. Ia adalah kesaksian dari pagi yang penuh harapan, siang yang penuh peluh, dan malam yang penuh mimpi. Ia tumbuh dari suara kapak dan doa-doa dalam gelap. Dan sampai hari ini, namanya masih mengandung gema perjuangan di Tengah nyanyian alam Jambi.(*)

Oleh Dzakiyah Ulhaq Romadhona