Nama saya Diah. Cerita ini saya dapatkan langsung dari orang tua saya yang sejak kecil tinggal di daerah Tegal, tidak jauh dari aliran Sungai Gung. Sejak saya kecil, mereka kerap menceritakan kisah-kisah tentang sungai tersebut, tak hanya sebagai aliran air yang bermanfaat bagi warga, tetapi juga sebagai tempat yang diyakini memiliki nilai mistis dan spiritual.
Menurut penuturan orang tua saya, dahulu kala wilayah sekitar Sungai Gung pernah mengalami kekeringan hebat. Tanah retak, sawah mengering, dan banyak ternak mati. Di tengah keputusasaan itu, datanglah seorang perempuan tua misterius yang kemudian dikenal dengan nama Nyai Gung. Ia berpakaian serba biru dan membawa tongkat kayu.
Nyai Gung menawarkan pertolongan dengan satu syarat: apabila ia berhasil memunculkan sumber air, maka masyarakat harus menjaga sungai yang akan terbentuk itu dengan sepenuh hati tidak boleh mengambil apa pun darinya selain air, dan tidak boleh bersikap serakah. Karena terdesak kebutuhan, warga menyetujui permintaan tersebut.
Dengan menancapkan tongkatnya ke tanah, muncullah mata air yang terus mengalir dan membentuk Sungai Gung seperti yang dikenal hingga kini. Sejak saat itu, kehidupan warga membaik. Tanah kembali subur, panen melimpah, dan warga pun hidup sejahtera. Namun, cerita tidak berhenti di situ.
Orang tua saya menceritakan tentang seorang pemuda bernama Wira yang melanggar larangan Nyai Gung. Ia sering menyelam ke dasar sungai untuk mencari batu-batu berkilau, bahkan sempat mengambil sebuah batu permata. Tak lama kemudian, Wira menghilang secara misterius. Banyak yang percaya bahwa Nyai Gung murka dan menariknya ke dasar sungai.
Sejak saat itu, masyarakat semakin menghormati Sungai Gung. Beberapa warga mengaku pernah mendengar suara perempuan menyanyikan tembang Jawa saat malam hari, terutama saat bulan purnama. Meski tidak semua bisa mendengarnya, mereka yang mendengar suara tersebut sering merasa tenang, seperti sedang ditemani oleh sosok yang tidak tampak.
Ayah saya pernah mengalami hal serupa. Suatu ketika, setelah pulang dari sawah dan duduk di tepi sungai, beliau mendengar suara halus seperti lantunan lagu lama. Suara itu tidak menakutkan, justru membuat hati menjadi tenang. Sejak saat itu, beliau semakin yakin bahwa Sungai Gung memang dijaga oleh sosok yang tidak kasatmata.
Setiap tahun, masyarakat sekitar masih rutin mengadakan tradisi sedekah sungai. Mereka membawa hasil bumi, bunga, dan air kembang untuk diletakkan di tepi sungai sambil memanjatkan doa-doa. Bagi mereka, ini adalah bentuk rasa syukur sekaligus penghormatan kepada Nyai Gung yang diyakini telah memberikan kehidupan melalui sungai tersebut.
Meski saya pribadi belum pernah mengalami kejadian mistis di sana, saya bisa merasakan bahwa Sungai Gung memang memiliki suasana yang berbeda. Ada ketenangan dan rasa hormat yang muncul setiap kali saya mendengar cerita tentangnya. Terutama ketika melihat cara orang tua saya bercerita ada rasa percaya yang begitu dalam, dan itu ikut tertanam dalam diri saya.
Sebagai anak muda yang tumbuh di zaman sekarang, saya sadar banyak orang mulai meragukan cerita-cerita seperti ini. Namun, menurut saya, kisah seperti mitos Sungai Gung mengajarkan sesuatu yang lebih dari sekadar mistis. Ia mengajarkan tentang rasa hormat kepada alam, tentang pentingnya menjaga janji, dan tentang bahaya keserakahan.
Saya percaya, di balik mitos, selalu ada nilai yang ingin diwariskan. Dan lewat cerita ini, saya merasa menjadi bagian dari rantai panjang penjaga cerita itu. Siapa tahu, suatu hari nanti, saya bisa menyampaikan kisah ini kepada generasi berikutnya bukan sekadar sebagai dongeng, tapi sebagai pengingat akan pentingnya hidup selaras dengan alam dan menjaga warisan leluhur.(*)
Oleh Diah Tresnaning Lestari