Oleh Khayla Putri Sadiya
Desaku berada di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Setiap tahun, masyarakat di desaku selalu mengadakan tradisi sedekah bumi. Sedekah bumi sendiri merupakan acara yang dilaksanakan secara turun-menurun oleh nenek moyang orang Jawa kuno sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen dan doa supaya pertanian tetap lancar. Acara ini menjadi momen yang paling ditunggu karena seluruh warga berkumpul bersama untuk bersyukur atas hasil panen dan rezeki yang diberikan Tuhan. Suasana desa menjadi ramai, meriah, dan penuh dengan kebahagiaan.
Sejak hari sebelumnya, jalan-jalan desa sudah dipenuhi warga yang sibuk menyiapkan acara. Para ibu membawa berbagai makanan dari rumah, sedangkan bapak-bapak dan para pemuda menata tempat berkumpul dan membuat gunungan dari hasil bumi. Anak-anak berlarian dengan wajah ceria karena tidak sabar menunggu acara dimulai. Dan halaman rumahku dipakai untuk tempat berdoa warga desa besoknya.
Hal yang paling menarik dari sedekah bumi adalah adanya gunungan. Gunungan itu dibuat besar dan tinggi, berisi sayuran segar, buah-buahan, jajanan pasar, serta hasil bumi lainnya seperti jagung, padi, cabai, dan kacang panjang. Bentuknya sangat indah dan berwarna-warni karena ditambah dengan hiasan. Saat melihatnya, aku merasa kagum karena gunungan itu menunjukkan betapa suburnya tanah di desaku.
Ketika acara dimulai, diawali dengan berkumpul bersama di depannya terdapat makanan dan berdoa karena bentuk rasa syukur, lalu gunungan diarak keliling desa. Warga berjalan bersama sambil tersenyum dan saling menyapa, didampingi oleh lagu-lagu yang bikin tambah meriah. Aku hanya ikut melihat dari depan rumah bersama teman-temanku sambil menikmati suasana yang meriah. Terdengar suara musik yang menambah semangat semua orang.
Setelah arak-arakan gunungan, pertunjukan tari jaranan mulai dimainkan. Para penari memakai kostum warna-warni dan menari dengan lincah mengikuti irama gamelan. Aku sangat senang melihat gerakan mereka yang energik dan kompak. Banyak warga bertepuk tangan menyaksikan pertunjukan tersebut.
Tidak lama kemudian, pertunjukan barongan dimulai. Topeng barong yang besar terlihat unik dan sedikit menyeramkan, tetapi justru membuat suasana semakin seru. Anak-anak kecil ada yang takut, namun tetap penasaran melihat dari dekat. Aku dan teman-temanku tertawa saat barongan mendekati penonton.
Suasana sedekah bumi semakin menyenangkan karena banyak pedagang makanan di sekitar lokasi acara. Ada bakso, es dawet, sate, dan aneka jajanan tradisional. Aku membeli sosis bakar bersama teman-temanku sambil duduk menonton pertunjukan. Rasanya sangat nikmat dimakan saat suasana ramai seperti itu.
Setelah acara selesai, banyak teman datang ke rumahku untuk bermain. Selain temanku, ada teman dari adikku dan orang tuaku juga. Kami makan bersama makanan yang sudah disiapkan oleh ibuku. Ada nasi, ayam goreng, sayur lodeh, kerupuk, dan jajanan pasar yang tradisional. Rumahku terasa ramai dan penuh canda tawa. Di sana aku sangat senang sekali.
Setelah makan, kami kembali duduk di halaman rumah karena akan menonton hiburan yang sudah disiapkan selanjutnya. Sambil menunggu, kita bercerita tentang pertunjukan barongan dan saling bercanda. Aku merasa sangat bahagia karena bisa berkumpul dengan banyak teman di hari istimewa itu.
Menurutku, sedekah bumi bukan hanya acara hiburan saja, tetapi juga tradisi yang mengajarkan rasa syukur dan kebersamaan. Semua warga saling membantu dan menikmati hasil bumi bersama-sama. Tradisi ini membuat hubungan antarwarga semakin akrab dan harmonis. Selain itu, acara ini juga menjadi kesempatan untuk berkumpul dan saling berbagi kebahagiaan. Aku merasa suasana seperti ini sangat hangat dan penuh makna.
Aku sangat bangga tinggal di salah satu desa di Blora yang masih menjaga tradisi sedekah bumi. Setiap tahun aku selalu menunggu acara ini datang lagi. Kenangan melihat gunungan, tari jaranan, barongan, serta kumpul bersama teman-teman akan selalu menjadi momen yang menyenangkan bagiku. Semoga tradisi ini tetap lestari dan terus diwariskan kepada generasi berikutnya. Dengan begitu, kebudayaan desa kami akan selalu hidup dan dikenal banyak orang.(*)