Umbul, Kenangan, dan Sahabat

Oleh Istvan Rashad Abdan

Sebagai orang yang tumbuh di Klaten dari kecil hingga remaja, aku termasuk orang yang masih sedikit menjelajahi keindahan pesona alam di Klaten. Klaten memang bukan kota yang besar, bukan juga kota dengan ekonomi yang tinggi, dan mungkin bagi sebagian besar orang, Kota Klaten hanya kota kecil yang menjadi penghubung antara Kota Jogja dan Solo. Walaupun begitu, kota kecil ini memiliki banyak memori berharga bagi penghuni aslinya yang tidak ada duanya. 

Umbul, misalnya, adalah tempat yang paling banyak menghasilkan memori abadi bagiku dan para sahabatku. Kolam renang yang bersumber dari mata air ini menjadi tujuan utama kami saat hari libur tiba. Berenang-renang di umbul sangat menyenangkan dan juga menyegarkan, apalagi jika berenang bersama orang-orang yang dicintai. 

Saat pertama kali kami ke Umbul, kami memilih Umbul Ponggok sebagai umbul pertama yang kami kunjungi bersama sebagai sahabat. Sebagai siswa SMA kelas 10 saat itu, jiwa petualang kami sangat besar, tetapi terbatas oleh waktu libur sekolah dan tugas yang menumpuk. Umbul Ponggok ini terkenal dengan wisata bawah airnya yang jernih dan dipenuhi oleh ikan-ikan yang indah. Tetapi saat kami di sana, kami tidak dapat mencoba fasilitas wisata bawah airnya dikarenakan keterbatasan uang yang kami bawa saat itu, sehingga kami hanya berenang saja sambil menikmati kesejukan airnya.

Umbul Brondong adalah umbul kedua yang kami kunjungi. Berbeda dengan umbul Ponggok, kedalaman air di Umbul Brondong ini cenderung dangkal. Pada saat itulah aku mulai berpikir tentang “Kenapa kedua umbul ini mempunyai ciri yang berbeda? Padahal sama-sama kolam renang yang bersumber dari mata air.” Pada saat itu aku masih belum mendapatkan jawabannya dan lebih memilih untuk menikmati berenang di air yang jernih dan dingin itu. Sampai akhir kelas 11, umbul brondong ini menjadi tempat yang paling sering kami kunjungi karena berdekatan dengan rumah sahabatku. Walaupun kolamnya cenderung dangkal, di sana ada kolam buatan yang dibuat khusus untuk berenang dengan kedalaman 1,7 meter, berbeda dengan kolam renang alaminya yang mempunyai kedalaman 1,4 meter.

Jawaban dari pertanyaan yang kusimpan saat itu akhirnya terjawab saat aku duduk di kelas 12. Pada saat itu aku dan teman-teman sekelas mendapat tugas dari guru mata pelajaran sosiologi untuk menggali informasi tentang pengelolaan wisata lokal di Klaten, sejarah/awal mula wisata muncul, dan mencari informasi seputar bumdes. Singkat cerita, kami memilih untuk mewawancarai direktur Umbul Brondong. Saat pertanyaan tentang sejarah umbul-umbul ditanyakan, Bapak Direktur tersebut mulai menjelaskan bahwa fungsi setiap umbul-umbul yang ada di Klaten itu berbeda dan mempunyai sejarah masing-masing. Seperti Umbul Brondong yang khusus dibuat untuk keceh anak-anak sehingga dibuat dangkal dan Umbul Pluneng yang dibuat dalam (sekitar 2 meter) karena untuk digunakan latihan rutin para atlet dan tentara.

Setelah mendapat jawaban dari direktur tersebut, aku semakin tertarik untuk mengunjungi lebih banyak umbul yang ada di Klaten bersama para sahabatku. Seribu sayang, rencana itu tidak bisa kami lakukan karena ujian kelulusan dan ujian UTBK untuk memasuki perguruan tinggi semakin dekat. Sehingga kami memilih untuk memprioritaskan kewajiban pendidikan kami.

Rencana tersebut baru bisa kami jalankan saat kami libur semester 1 perkuliahan. Selisih 1 tahun dari awal rencana tersebut dibuat. 

Kami akhirnya memilih dua umbul sekaligus untuk dikunjungi saat liburan semester saat itu, yaitu Umbul Sigedang dan Umbul Kapilaler. Ternyata, dahulu umbul tersebut adalah tempat pemandian raja dan tempat penyimpanan air bersih para penjajah Belanda. Lalu disulap menjadi umbul oleh para penghuni asli desa di sana.

Lalu kami diceritakan juga oleh para penjual yang merupakan penduduk asli di sana tentang sejarah Umbul Manten yang letaknya tidak jauh dari Umbul Kapilaler tersebut. Menurut para penduduk asli daerah tersebut, mereka diceritakan secara turun-temurun bahwa dahulu Umbul Manten hanya pemandian biasa, tetapi memiliki kisah mistis di baliknya, yaitu tentang awal mulanya dinamai “Umbul Manten” karena dahulu terdapat calon pasangan suami istri yang melanggar peraturan adat dengan bertemu sebelum waktunya dan keluar saat maghrib, sehingga calon pengantin tersebut tiba-tiba menghilang dan tidak bisa ditemukan keberadaannya oleh para warga yang sedang mencarinya. Maka dari peristiwa itulah nama “Umbul Manten” tersebut muncul. (*)